FTA Uni Eropa-Mercosur mandek, ambisi global Eropa terancam

Posted on

PasarModern.com, JAKARTA – Perpecahan internal kembali menggagalkan upaya Uni Eropa (UE) merampungkan perjanjian dagang bebas atau free trade agreement (FTA) dengan kelompok negara-negara Amerika Selatan atau Mercosur.

Melansir Bloomberg pada Senin (22/12/2025), Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen sejatinya dijadwalkan menandatangani perjanjian perdagangan bebas terbesar Uni Eropa (UE) pada Sabtu (21/12/2025) waktu setempat.

Namun, alih-alih meneken perjanjian, von der Leyen kini harus berupaya menyelamatkan pakta dagang UE–Mercosur dengan menggalang dukungan di menit-menit terakhir dari sejumlah negara anggota, termasuk Italia.

Negara-negara tersebut kembali menunda kesepakatan karena khawatir dampaknya terhadap sektor pertanian domestik.

Perundingan perjanjian perdagangan antara UE dan negara-negara Mercosur, Argentina, Brasil, Uruguay, dan Paraguay, telah berlangsung selama 25 tahun dan kerap membuat frustrasi negara-negara Amerika Selatan. Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva bahkan menegaskan awal pekan ini bahwa saat ini merupakan momentum sekarang atau tidak sama sekali”

Dalam surat kepada Lula pada Jumat pekan lalu, von der Leyen bersama Presiden Dewan Eropa Antonio Costa menyatakan penyesalan karena gagal memenuhi tenggat waktu yang ditetapkan sendiri pada 20 Desember. Keduanya menyebut UE masih aktif bekerja untuk merampungkan kesepakatan tersebut.

Para pejabat UE menyatakan upaya penandatanganan akan kembali dilakukan pada 12 Januari, meski belum ada jaminan kesepakatan akan tercapai.

Kegagalan berulang dalam meratifikasi perjanjian Mercosur menjadi pukulan bagi UE, yang ingin menjadikan kesepakatan lintas Atlantik ini sebagai bukti kemampuannya tampil sebagai kekuatan ekonomi global. 

Uni Eropa juga berupaya menunjukkan bahwa blok tersebut dapat memperluas kemitraan di luar pengaruh China dan Amerika Serikat (AS), yang hubungannya dengan Eropa kian diwarnai ketegangan dagang.

“Ini adalah momen kemerdekaan Eropa,” ujar von der Leyen awal pekan ini, menjelang KTT para pemimpin UE yang juga membahas pendanaan untuk Ukraina dan kelanjutan perjanjian Mercosur.

UE memandang China sebagai pesaing ekonomi sekaligus rival sistemik, di tengah eskalasi konflik dagang yang ditandai saling pengenaan tarif. Awal tahun ini, Beijing mengumumkan rencana memperketat kontrol ekspor logam tanah jarang dan material kritis lainnya, yang menyoroti kerentanan industri Eropa.

Sementara itu, pada musim panas lalu UE juga menerima kesepakatan dagang dengan AS yang dinilai timpang, dengan menyetujui tarif 15% untuk sebagian besar ekspornya ke AS, sembari berkomitmen menghapus seluruh bea masuk atas barang industri asal Negeri Paman Sam.

Perjanjian UE–Mercosur dipandang dapat membantu Eropa keluar dari dinamika hubungan yang memburuk dengan AS dan China. Kesepakatan ini berpotensi menciptakan pasar terintegrasi dengan sekitar 780 juta konsumen, menghapus tarif secara bertahap atas sejumlah produk termasuk mobil, serta membuka akses lebih luas bagi Eropa ke sektor pertanian dan sumber daya alam Mercosur.

Hal yang tak kalah penting, pakta tersebut akan memperluas jejaring ekonomi dan rantai pasok UE di luar AS dan China, sekaligus menunjukkan bahwa Eropa mampu menawarkan alternatif ekonomi yang kredibel bagi negara-negara lain.

“Kegagalan mengamankan kemitraan Mercosur akan menjadi kesalahan besar dengan skala epik bagi ambisi Eropa untuk memposisikan diri sebagai pemain relevan dalam perekonomian global,” ujar Agathe Demarais, Senior Policy Fellow European Council on Foreign Relations.

Hingga kini, UE belum berhasil mengumpulkan dukungan mayoritas, terutama akibat kekhawatiran mendalam bahwa perjanjian tersebut akan menekan sektor pertanian Eropa. Pada KTT di Brussel, Kamis lalu ribuan petani menggelar aksi protes dengan membakar ban dan menumpahkan kentang di jalanan.

Meski demikian, setelah KTT berakhir, para pemimpin UE menyatakan optimisme bahwa kesepakatan masih dapat dicapai pada Januari. “Penundaan selama tiga pekan masih dapat ditoleransi setelah 25 tahun perundingan. Saya sangat yakin kita akan menyelesaikannya,” kata von der Leyen.

Terganjal Italia

Nasib perjanjian ini kini sangat bergantung pada Italia. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyatakan masih membutuhkan waktu untuk mengamankan dukungan domestik.

“Negara-negara berkembang lain tengah mengamati dan akan mencatat betapa sulitnya mencapai kesepakatan dengan UE,” ujar Demarais

Namun bagi Berlin dan sejumlah negara lain, Meloni dinilai tengah memaksimalkan posisinya sebagai penentu keputusan dengan menuntut konsesi lebih besar bagi sektor pertanian Italia.

Lula mengatakan Meloni menyampaikan kepadanya bahwa Italia hanya memerlukan beberapa hari tambahan. Meski sebagian pihak meyakini Italia pada akhirnya akan menyetujui kesepakatan tersebut karena potensi manfaat bagi eksportirnya, pihak lain justru lebih pesimistis.

“Jika tidak ada penandatanganan pada 20 Desember, maka perjanjian ini mati, dan hal tersebut akan berdampak pada hubungan dagang UE di masa depan dengan negara-negara di seluruh dunia,” ujar Ketua Komite Perdagangan Parlemen Eropa, Bernd Lange.

Dalam upaya meloloskan kesepakatan pekan ini, Parlemen Eropa dan negara-negara anggota UE sepakat menambahkan perlindungan baru bagi petani Eropa guna meredam gejolak harga dan lonjakan impor. Namun langkah tersebut belum membuahkan hasil.

Jika kebuntuan terus berlanjut, kedua blok berpotensi mengalihkan perhatian ke kemitraan lain. Mercosur tengah mengupayakan kesepakatan dengan Uni Emirat Arab serta menjajaki kerja sama dengan Kanada, Inggris, dan Jepang. 

Di sisi lain, UE juga berusaha merampungkan perjanjian dagang dengan India yang telah dinegosiasikan hampir dua dekade.

“Jika UE ingin tetap kredibel dalam kebijakan perdagangan global, keputusan harus diambil sekarang,” ujar Kanselir Jerman Friedrich Merz saat tiba di KTT Brussel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *