Emiten Konsumer MYOR dan ICBP Siap Manfaatkan Momentum Lebaran

Posted on

Prospek Sektor Konsumen di Tengah Momentum Lebaran 2026

Sektor konsumen di Indonesia, khususnya emiten seperti PT Mayora Indah Tbk. (MYOR), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP), dan sejumlah perusahaan lain dalam sektor barang konsumsi, diproyeksikan menjadi penerima manfaat utama dari lonjakan belanja masyarakat pada momentum Lebaran 2026. Kombinasi stimulus pemerintah dan peningkatan indikator keyakinan konsumen memperkuat prospek pertumbuhan penjualan emiten sektor ini pada kuartal pertama tahun ini.

Ekspektasi tersebut sejalan dengan tren konsumsi domestik yang mulai menunjukkan perbaikan. Data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Januari 2026 yang naik ke level 127, tertinggi dalam setahun terakhir, menjadi sinyal bahwa daya beli masyarakat mulai pulih, sehingga membuka ruang akselerasi kinerja emiten ritel, makanan-minuman, hingga produk kebutuhan harian selama periode Ramadan–Idulfitri.

Perusahaan Produsen Ultra Milk Optimis

Produsen Ultra Milk PT Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company Tbk. (ULTJ) misalnya, menaruh harapan yang cukup besar terhadap penjualan perseroan pada momentum Lebaran Idul Fitri kali ini. Salah satu faktor yang mendasari ekspektasi itu adalah peningkatan konsumsi masyarakat.

”Kami memandang positif prospek permintaan dan penjualan produk selama Ramadhan-Idul Fitri, sejalan dengan peningkatan konsumsi masyarakat. Kami berharap terdapat peningkatan signifikan dari momen ini, sehingga optimalisasi jaringan distribusi dan logistik menjadi hal penting yang diperhatikan,” kata Corporate Secretary ULTJ Helina kepada Bisnis, Rabu (18/2/2026).

Prediksi Analis tentang Peningkatan Konsumsi

Kalangan analis tidak memiliki pandangan yang jauh berbeda. Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi, memprediksi kombinasi momentum Lebaran dan stimulus fiskal yang digelontorkan pemerintah, bakal mampu mendorong konsumsi rumah tangga 15—20% dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Pemerintah sendiri berencana menyerap APBN mencapai Rp809 triliun pada kuartal I/2026. Angka itu mencerminkan 21% dari total belanja negara pada tahun ini. Dari total Rp809 triliun, sebesar Rp13 triliun bakal digelontorkan untuk stimulus ekonomi.

Wafi menilai, stimulus yang akan digelontorkan pemerintah ini dapat menjadi instrumen stabilisasi yang krusial bagi ekonomi masyarakat. Kebijakan ini dinilai efektif menjaga psikologi pasar di tingkat menengah—bawah, sehingga Wafi memprediksi IKK pada triwulan pertama 2026 akan berada di level optimis.

”Dampaknya ke laporan keuangan kuartal I/2026 akan terasa di pertumbuhan top-line emiten konsumer, terutama di segmen makanan olahan dan ritel modern. EPS sektor konsumer bisa tumbuh rata-rata 8,6% YoY di 2026, didukung pemulihan volume penjualan dan efisiensi biaya input yang mulai stabil,” kata Wafi kepada Bisnis, Rabu (18/2/2026).

Dampak Stimulus Ekonomi dan Momentum Lebaran

Selain itu, percepatan belanja yang dilakukan pemerintah, turut menjadi sinyal kuat bagi sektor konsumer untuk mampu bottoming out. Bahkan, dengan karakter sektor yang defensif dan memiliki leverage tinggi saat festive season, dinilai berpotensi menjadikan sektor ini kandidat pemimpin penguatan IHSG pada triwulan pertama.

Pandangan Retail Research Analyst Sinarmas Sekuritas

Senada, Retail Research Analyst Sinarmas Sekuritas Cindy Alicia Ramadhania, menilai momentum Lebaran yang dikombinasikan dengan belanja pemerintah yang cukup agresif pada tahun ini, bakal berdampak positif pada sektor FMCG, ritel, hingga kebutuhan rumah tangga.

Kendati stimulus ekonomi hanya mencerminkan 1,6% dari total Rp809 triliun, Cindy menilai stimulus ini bakal mampu mendorong konsumsi jangka pendek masyarakat, terutama jika realisasinya dilakukan sebelum Lebaran pada Maret 2026.

”Kami melihat stimulus ini cukup efektif untuk mendorong konsumsi jangka pendek, terutama karena momentumnya berdekatan dengan Lebaran, di mana belanja masyarakat biasanya meningkat. Namun, ini lebih bersifat dorongan sementara, bukan perbaikan secara berkelanjutan,” kata Cindy kepada Bisnis, Rabu (18/2/2026).

Data IKK yang tinggi secara berkelanjutan, tegas Cindy, mesti didorong oleh perbaikan pendapatan masyarakat serta stabilitas harga kebutuhan pokok. Dengan begitu, Cindy menilai bahwa beragam sentimen positif pada triwulan pertama ini, tidak serta merta mengonfirmasi fase bottoming out sektor konsumer.

Terhadap kinerja fundamental perusahaan konsumer misalnya, Cindy menilai kendati momentum ini mampu mendorong pertumbuhan pendapatan yang lebih baik dibandingkan periode sebelumnya, tetapi margin keuntungan akan sangat dipengaruhi oleh harga bahan baku.

”Meski ada stimulus dan momentum Lebaran, beberapa risiko tetap perlu diperhatikan, di antaranya daya beli kelas menengah belum sepenuhnya pulih, tekanan harga bahan baku, potensi pelemahan rupiah, serta risiko keterlambatan realisasi anggaran,” katanya.

Rekomendasi Saham dari KISI dan Sinarmas Sekuritas

Hal serupa juga disampaikan oleh KISI, bahwa kendati kombinasi stimulus dan momentum Lebaran dapat mendorong penjualan, tetapi tantangan akan datang dari volatilitas harga bahan baku yang mampu menekan margin, risiko inflasi pangan lantaran ketidakpastian cuaca, hingga fluktuasi nilai tukar rupiah.

KISI merekomendasikan investor saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP), PT Mayora Indah Tbk. (MYOR), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT), PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), dan PT Indosat Tbk. (ISAT).

Sementara Sinarmas Sekuritas merekomendasikan saham MYOR dengan target harga Rp2.440 per saham, PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk. (RALS) dengan target harga Rp550, dan saham PT Matahari Department Store Tbk. (LPPF) dengan target harga Rp2.050 per saham. Ketiga saham itu direkomendasikan speculative buy.