Pertumbuhan Pembiayaan Syariah yang Menjanjikan
Di tengah laju pertumbuhan kredit yang masih melambat, sektor pembiayaan syariah menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pembiayaan bank konvensional. Hal ini terlihat dari data yang mencatatkan pertumbuhan pembiayaan syariah mencapai 8,31% secara tahunan (YoY) per Juli 2025. Sementara itu, pertumbuhan kredit perbankan hanya tumbuh 7,03% YoY.
Fakta ini menunjukkan bahwa sektor syariah memiliki daya tahan yang lebih baik dan bahkan mampu berkembang lebih pesat dibanding industri perbankan secara umum. Berbagai faktor berkontribusi pada pertumbuhan ini, seperti daya tarik cicilan tetap, kebijakan makroprudensial, ekosistem syariah yang semakin luas, serta kualitas aset dan regulasi yang semakin kuat.
Faktor-Faktor Pendukung Pertumbuhan Pembiayaan Syariah
Salah satu faktor utama yang menyebabkan pertumbuhan pembiayaan syariah adalah daya tarik cicilan tetap. Produk-produk syariah seperti akad murabahah dan ijarah menawarkan cicilan tetap hingga akhir tenor. Dalam situasi di mana bunga kredit konvensional turun namun sangat lambat, model cicilan tetap menjadi nilai tambah bagi rumah tangga, khususnya untuk KPR iB, pembiayaan pegawai/payroll, kendaraan, dan emas. Kejelasan cicilan membuat nasabah lebih mudah merencanakan anggaran mereka.
Selain itu, kebijakan makroprudensial yang diperkuat oleh Bank Indonesia juga berdampak positif. Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dinaikkan hingga 5% dari Dana Pihak Ketiga (DPK) pada 2025. Insentif ini ditujukan pada sektor-sektor prioritas seperti perumahan, konstruksi, UMKM, pariwisata & ekonomi kreatif, serta pembiayaan hijau. Dengan adanya insentif ini, ruang likuiditas bagi bank syariah semakin terbuka.
Ekosistem syariah yang makin luas juga memberikan kontribusi besar. Tidak hanya di sektor perbankan, industri multifinance syariah juga berkembang. OJK mencatat piutang pembiayaan syariah multifinance naik 9,6% YoY per Juni 2025, terutama dari pembiayaan otomotif dan barang konsumtif.
Selain itu, kualitas aset perbankan syariah yang terjaga serta penguatan kelembagaan dan regulasi juga menjadi faktor pendukung. OJK sedang mendorong proses spin-off unit syariah asuransi dan membentuk Komite Pengembangan Keuangan Syariah (KPKS). Penguatan arsitektur kelembagaan ini meningkatkan kepercayaan publik dan investor terhadap industri keuangan syariah.
Segmen Pembiayaan yang Mendominasi
Segmen pembiayaan yang menjadi penopang pertumbuhan pembiayaan syariah antara lain segmen konsumer, seperti KPR iB, pembiayaan pegawai, kendaraan, hingga cicil/gadai emas. Bahkan, pembiayaan kendaraan listrik tercatat melonjak signifikan. Selain itu, ada segmen perumahan dan konstruksi, segmen UMKM melalui KUR Syariah yang terus berkembang, serta sektor produktif lain seperti perdagangan, manufaktur, dan transportasi.
Ke depan, konsistensi penyaluran ke sektor prioritas, terutama KPR, UMKM, dan pembiayaan hijau, akan menjadi kunci menjaga momentum positif ini.
Kinerja Perbankan Syariah yang Menggembirakan
Kinerja positif ini juga diamini oleh sejumlah perbankan syariah. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatatkan pertumbuhan pembiayaan yang stabil dan meningkat, didominasi oleh segmen-segmen yang menunjukkan ketahanan, salah satunya segmen konsumsi. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa BSI terus memperkuat posisi sebagai salah satu bank syariah terbesar di Indonesia.
PT Bank BCA Syariah juga mencatatkan pertumbuhan positif pada seluruh segmentasi pembiayaan. Hingga Juli 2025, penyaluran pembiayaan di BCA Syariah tumbuh 25,1% YoY dengan nilai mencapai Rp 11,9 triliun. Direktur BCA Syariah optimistis bahwa penyaluran pembiayaan dapat tumbuh double digit hingga akhir tahun nanti.
Optimisme serupa juga datang dari PT Bank KB Bukopin Syariah. Sekretaris Perusahaan KB Bank Syariah mengungkapkan bahwa bank masih optimistis membidik pertumbuhan pembiayaan mencapai 8% YoY di akhir tahun. Penyaluran pembiayaan paling banyak mengalir pada segmen pendidikan dan kesehatan yang menjadi fokus utama.
