Dua Tokoh Kritis Bongkar Obrolan Whoosh dengan Jokowi di Istana, Ada yang Terkejut

Posted on

Pengakuan Mengejutkan dari Mantan Relawan Projo dan Analis Kebijakan Publik

Pada periode pemerintahan Presiden ke-7 RI, Jokowi, terdapat pengakuan mengejutkan yang disampaikan oleh Wakil Ketua Umum (Waketum) Projo 2014-2019, Budianto Tarigan. Ia mengungkapkan tentang pertemuan yang diadakan di Istana dengan Jokowi, yang membahas proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung atau Whoosh.

Meskipun memiliki status sebagai pimpinan relawan, Budianto menjadi sosok yang secara kritis mengkritik gagasan Jokowi tersebut. Tidak hanya Budianto, analis kebijakan publik Agus Pambagio juga pernah dipanggil langsung oleh Jokowi ke Istana terkait proyek Whoosh.

Agus, yang vokal menolak proyek kereta cepat ini, merasa kaget saat mendengar jawaban dari Jokowi. Dalam sebuah podcast Abraham Samad Speak Up, ia menceritakan percakapannya dengan Jokowi. Awalnya, Agus mengaku tidak menyangka bahwa dirinya akan dipanggil oleh presiden karena selalu menyampaikan pendapat vokal menolak proyek tersebut.

Perkembangan Proyek Whoosh

Agus mencoba mempertanyakan ide proyek Whoosh, terutama ketika mengalihkan kerja sama dari Jepang ke China, dengan bunga yang jauh lebih tinggi, dari 0,1 persen menjadi 2 persen. Saat mendengar jawaban Jokowi, Agus mengaku kaget sampai hampir jatuh dari kursi.

Jokowi menjelaskan bahwa proyek Whoosh bisa dijalankan oleh Menteri BUMN saat itu, Rini Soemarno, karena Menteri Perhubungan saat itu, Ignatius Jonan, menolak, tidak setuju. Jokowi menyerahkan pada Pak Menteri Perubahan, dan akhirnya memerintahkan Menteri BUMN untuk meneruskan.

Jokowi juga menceritakan awal mula dia menggagas proyek kereta cepat dengan China. Saat itu, Jokowi di Beijing dan diajak naik kereta itu ke Shanghai atau ke mana pun. Kereta tersebut sangat cepat dan bagus. Enak sekali. Xi Jinping bertanya, “Bapak mau?” kata Jokowi seperti diceritakan Agus.

Penolakan Terhadap Kerja Sama dengan China

Agus menyayangkan perpindahan kerja sama Indonesia dari Jepang berpindah dengan China. Menurutnya, Jepang memiliki proses pinjaman yang detail dan ribet, tetapi setelah selesai, seperti MRT selesai. Namun, di China kebalikannya, gampang di depan sekarang susahnya di belakang.

Pengakuan dari Eks Waketum Projo

Waketum Projo 2014-2019, Budianto Tarigan, mengungkap pertemuannya dengan Jokowi di Istana pada periode pertama Jokowi menjabat presiden. Budianto, yang menjabat pimpinan kelompok relawan Jokowi saat itu, membeberkan bahwa Istana intensif membuka pintu bagi relawan untuk diskusi dengan RI 1.

Ia memaparkan, pada satu pertemuan, setelah kemenangan pada Pilpres 2014, Projo dan kelompok relawan lain menghadap langsung dengan Jokowi. Pada forum formal, Budianto mewakili Projo, bicara tentang sejumlah isu, termasuk Whoosh. Ia mempertanyakan urgensi proyek Whoosh sementara akses Jakarta-Bandung bisa ditempuh menggunakan mobil dan kereta Argo Parahyangan yang jarak tempuhnya tidak jauh beda, dua sampai tiga jam.

Latar Belakang Proyek Whoosh

Proyek Whoosh sendiri awalnya digagas sejak era Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2011, dengan Jepang sebagai mitra utama melalui JICA (Japan International Cooperation Agency). Jepang telah melakukan studi kelayakan hingga menggelontorkan biaya sebesar 3,5 juta dollar AS, dan menawarkan pinjaman bunga rendah 0,1 persen dengan tenor 40 tahun, memakai skema Government-to-Government (G2G) dan biaya estimasi 5 hingga 6,2 miliar dollar AS.

Namun, pada 2015, Jokowi mendadak memilih China sebagai mitra untuk membangun Whoosh. Alasannya, China menawarkan skema Business-to-Business (B2B) tanpa jaminan APBN, berbagi teknologi lebih luas, dan pinjaman sebesar 5 miliar dollar AS tanpa syarat ketat seperti Jepang, meski bunganya lebih tinggi, yakni 2 hingga 3,4 persen.

Proyek ambisius Whoosh benar-benar digarap pada pemerintahan Jokowi. Melalui cap proyek strategis nasional (PSN) berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 3 Tahun 2016, proyek yang didanai sebagian besar menggunakan utang dari China Developement Bank (CDB) itu dikebut. Jokowi juga yang meletakkan batu pertama pada Januari 2016, dan meresmikannya pada 2 Oktober 2023.

Sampai pertengahan 2025, jumlah penumpang Whoosh sebanyak 16 ribu sampai 18 ribu orang per hari pada hari kerja, dan 18 ribu sampai 22 ribu per hari pada akhir pekan. Angka tersebut belum menyentuh target 31 ribu penumpang per hari yang dicanangkan sejak awal.

Proyek KCIC mengalami pembengkakan biaya (cost overrun) sebesar 1,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp19,54 triliun, dari biaya awal yang direncanakan 6,07 miliar dollar AS. Sehingga, total investasi proyek Whoosh mencapai 7,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp116 triliun.

Untuk membiayai investasi 7,2 miliar dollar AS pada proyek ini, 75 persen di antaranya didapat dari pinjaman China Development Bank. Sementara sisanya berasal dari setoran modal pemegang saham, yaitu PT KCIC yang merupakan gabungan dari PSBI (60 persen) dan Beijing Yawan HSR Co Ltd (40 persen).