Pertanyaan:
“Gejala awal TB yang paling umum dan sering diabaikan ini apa saja sih, dokter?”
(Jurnalis PasarModern.comdalam Healthy Talk “Penyakit TBC: Kenali Gejalanya Sebelum Terlambat”)
Jawaban Dokter Spesialis Paru RSUP Surakarta, dr. Riana Sari, Sp.P, FISR:
“Jadi TBC ini, selain bisa mengenai di semua usia, TBC ini juga bisa mengenai semua organ.
Jadi memang nanti gejalanya tergantung dari organ yang terkena.
Nah, untuk yang paling banyak, kasusnya adalah TB paru.
Untuk gejalanya, jadi hati-hati nih sahabat tribun ya, kalau misalnya ada gejala batuk, lebih dari 2 minggu ini harus hati-hati.
Jangan sampai deteksi dininya terlambat, ya.
Karena kan kalau di penyakit paru itu gejalanya hampir sama semua ya, termasuk influenza gitu kan, gejalanya batuk.
Nah, tapi harus yang diperhatikan kalau batuknya ini dengan atau tanpa pengobatan itu kok tetap ada lebih dari 2 minggu ini harus hati-hati.
Nah, untuk gejala TBC sendiri itu ada yang disebut gejala respiratorik.
Nah, gejala respiratorik ini adalah gejala yang berhubungan dengan gejala saluran nafas.
Bisa batuk, tadi batuknya harus lebih dari 2 minggu tanpa sebab yang jelas.
Kemudian gejala respiratorik yang lain itu bisa berupa sesak nafas, kemudian batuk darah, atau nyari dada.
Ini nanti beratnya gejala ini tergantung dari luas kelainannya di paru, ya.
Kalau kelainan parunya itu masih minimal, biasanya gejalanya kadang-kadang tuh pasien cuma ehem ehem gitu (batuk ringan).
Jadi nggak harus batuk keras, keluar darah gitu, nggak.
Jadi batuknya bisa ringan, tergantung dari luasnya kelainan di paru. Nah, itu gejala respiratorik.
Kemudian ada yang disebut gejala sistemik.
Gejala sistemik ini itu bisa berupa rasa demam, atau nggak enak badan, atau nggak fit, cepat capek, yang berlangsung kambuhan, gitu.
Jadi, ‘kok aku kira-kira ini sering meriang ya badannya, terutama kalau misalnya menjelang sore’.
Terus tiba-tiba malam hari kok berkeringat tanpa sebab yang jelas, tanpa ada aktivitas fisik, kok muncul keringat banyak.
Kemudian penurunan nafsu makan, terus kalau nanti makin berat lagi, makin penurunan berat badan. Itu untuk gejala sistemik.
Kemudian untuk TBC yang di luar paru, yang mengenai organ di luar paru, itu gejalanya tergantung dari organ yang terkena.
Jadi, kalau misalnya dia kena kelenjar, gejalanya mungkin benjolan, ya.
Benjolan di kelenjar-kelenjar yang ada di tubuh. Bisa di leher, kemudian di ketiak, atau mungkin di selangkangan. Ada beberapa pasien yang ada benjolan di payudara.
Setelah dicek, dilakukan pemeriksaan biopsi, ternyata penyebabnya infeksi TBC.
Itu kita sebut TBC kelenjar.
Kemudian untuk gejala di organ lain, misalnya TBC selaput otak, kemudian TBC otak, kemudian TBC selaput paru, sampai dengan TBC tulang.
Atau TBC usus, TBC organ genitalia, itu semua bisa.
Ya, cuma memang paling banyak kasusnya adalah TBC paru.
Nah, gejala-gejalanya ya tergantung dari organ yang terkena tadi.”
Simak penjelasan lengkapnya di sini
Profil
dr. Riana Sari, Sp.P, FISR merupakan seorang dokter spesialis Paru.
Saat ini, dr. Riana berpraktik di RSUP Surakarta dan sejumlah rumah sakit lain.
Artikel Berikutnya: 5 Dampak Anak yang Menjadi Perokok Pasif, Rentan Terkena Masalah Paru-paru
Asap rokok sangat berbahaya bagi semua orang, termasuk anak-anak.
Anak-anak yang terpapar asap rokok atau menjadi perokok pasif memiliki risiko kesehatan, seperti rentan mengalami masalah pernapasan dan paru-paru.
Ini sebabnya setiap anak diharapkan steril dari asap rokok untuk menghindari berbagai kemungkinan buruk.
Melansir kanal kesehatan Times of India, berikut ini sejumlah dampak perokok pasif, baik untuk anak maupun orang dewasa.
Masalah pernafasan
Perokok pasif dapat menyebabkan berbagai masalah pernapasan, termasuk batuk, mengi, dan sesak napas.
Mereka mempunyai peningkatan risiko terkena asma dan memperburuk kondisi pernafasan seperti bronkitis dan pneumonia.
Perokok pasif dapat memperburuk alergi dan masalah sinus pada bukan perokok.
Iritasi dan polutan yang ada dalam perokok pasif dapat memicu reaksi alergi, hidung tersumbat, dan peradangan, yang menyebabkan ketidaknyamanan dan gangguan pernapasan.
Peningkatan risiko kanker paru-paru
Penelitian telah menunjukkan bahwa perokok pasif mempunyai risiko lebih tinggi terkena kanker paru-paru.
Perokok pasif mengandung banyak karsinogen, termasuk benzena dan formaldehida, yang dapat merusak sel-sel yang melapisi paru-paru dan meningkatkan kemungkinan berkembangnya kanker.
Ini juga mengurangi fungsi paru-paru.
Paparan perokok pasif dalam waktu lama dapat mengganggu fungsi paru-paru perokok pasif, sehingga mengurangi kemampuan mereka untuk bernapas secara efisien.
Penurunan fungsi paru-paru ini sangat mengkhawatirkan bagi individu yang memiliki penyakit pernafasan seperti penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) atau emfisema.
Penyakit jantung
Perokok pasif dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan kejadian kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke.
Bahan kimia dalam perokok pasif dapat mempersempit pembuluh darah, meningkatkan tekanan darah, dan mendorong pembentukan bekuan darah, yang semuanya berkontribusi terhadap penyakit jantung.
Dampak buruk terhadap kesehatan mental
Beberapa penelitian mengaitkan perokok pasif dengan efek buruk pada kesehatan mental dan kesejahteraan.
Bukan perokok yang terpapar asap rokok mungkin mengalami peningkatan tingkat stres, kecemasan, dan depresi, kemungkinan disebabkan oleh efek fisiologis dan psikologis dari racun dalam asap.
Anak-anak dan remaja mungkin mengalami kesulitan dengan ingatan, perhatian, dan kemampuan belajar.
Komplikasi kesehatan anak
Anak-anak yang terpapar perokok pasif sangat rentan terhadap berbagai komplikasi kesehatan.
Mereka mungkin mengalami infeksi pernafasan, infeksi telinga, dan sindrom kematian bayi mendadak (SIDS) yang lebih sering dan parah.
Selain itu, perokok pasif selama kehamilan dapat meningkatkan risiko berat badan lahir rendah dan masalah tumbuh kembang pada bayi baru lahir.
