Doa Nabi Israel yang Terkenal Tampan

Posted on

Nabi Yusuf AS: Contoh Teladan dalam Kecantikan dan Akhlak

Memiliki wajah tampan dan bercahaya adalah dambaan setiap pria. Namun begitu, alangkah baiknya ketampanan itu juga dibarengi dengan akhlak yang mulia. Terlebih lagi di dalam jiwa si pemil ketampanan luar biasa itu terdapat iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan yang sangat luar biasa. Iman yang tak tergoyahkan, kepatuhan terhadap perintah Allah serta perjuangan untuk menegakkan kebenaran. Semua itu dimiliki oleh seorang nabi dari keturunan Bani Israil yakni Yusuf AS.

Nabi Yusuf sendiri adalah salah satu dari 25 Nabi dalam Islam yang wajib diketahui. Nabi Yusuf banyak disebutkan dalam Al Quran. Nabi Yusuf adalah keturunan dari Israel yakni nama lain untuk Nabi Ya’qub AS (Yakub) yang merupakan putra Nabi Ishaq dan cucu Nabi Ibrahim AS. Nabi Yusuf adalah Nabi yang dianugerahi Allah dengan wajah tampan rupawan tiada bandingnya. Siapapun yang melihat beliau akan langsung jatuh cinta. Tak peduli bangsawan atau orang biasa.

Doa Nabi Yusuf saat bercermin

Allahumma kamaa hassanta khalqii fa hassin khuliqi.

Artinya: “Ya Allah sebagaimana Engkau telah ciptakan aku dengan baik, maka perbaikilah akhlakku.”

Doa meminta ketampanan

Allaahumma ‘alnii nuuru yusufa ala wajhii fa man ro aanii yuhibbunii mahabbatan,

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah Nur cahaya Nabi Yusuf pada wajahku, dan bagi siapa yang melihat akan menjadi kagum serta memiliki cinta kasih kepadaku.”

Kumpulan hadits terkait adab dalam berdoa

Dari Sunan Abi Dawud dan Musnad Imam Ahmad dari ‘Aisyah bahwasanya ia berkata:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai berdo’a dengan do’a-do’a yang singkat dan padat namun makna-nya luas dan tidak berdo’a dengan yang selain itu.

Hadits riwayat Muslim dari Sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata:

“Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai dari shalatnya, beliau mengeraskan suaranya, kemudian mendo’akan kejelekan bagi mereka dan apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a, beliau ulang sebanyak tiga kali dan apabila beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon, diulanginya sebanyak tiga kali kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a: ‘Ya Allah, atas-Mu kuserahkan kaum Quraisy, Ya Allah, atas-Mu kuserahkan kaum Quraisy, Ya Allah, atas-Mu kuserahkan kaum Quraisy.’”

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya hadits dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata:

Mantel kepunyaannya telah dicuri, kemudian ia mendo’akan kejelekan kepada orang yang mencurinya, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Jangan engkau meringankannya.’

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Abu Dawud

Dari Fadhalah bin ‘Ubad Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan duduk-duduk, masuklah seorang laki-laki. Orang itu kemudian melaksanakan shalat dan berdo’a: ‘Ya Allah, ampunilah (dosaku) dan berikanlah rahmat-Mu kepadaku.’ Maka, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau telah tergesa-gesa, wahai orang yang tengah berdo’a. Apabila engkau telah selesai melaksanakan shalat lalu engkau duduk berdo’a, maka (terlebih dahulu) pujilah Allah dengan puji-pujian yang layak bagi-Nya dan bershalawatlah kepadaku, kemudian berdo’alah.’”

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam Sunannya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Berdo’alah kepada Allah dalam keadaan engkau merasa yakin akan dikabulkannya do’a.”

Diriwayatkan oleh al-Hakim

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu, berkata, “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

‘Sesungguhnya Allah kagum kepada hamba-Nya apabila ia berkata: ‘Tidak ada sesembahan yang hak kecuali Engkau, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, maka ampunilah dosa-dosaku karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa itu kecuali Engkau.’

Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah mengetahui bahwa baginya ada Rabb yang mengampuni dosa dan menghukum.’”*

Adab dalam Berdoa

10 adab berdoa sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin (Beirut, Daru Ibn Hazm: 2005), juz I, halaman 361-364.

1. Berdoa di Waktu Mulia

Agar doa bisa dikabulkan hendaknya seorang muslim berdoa di waktu mulia yang dinilai mustajab. Dari sekian banyak waktu, ada sejumlah waktu yang dinilai mustajab, di antaranya adalah hari Arafah dan bulan Ramadan untuk tahunan, hari Jum’at untuk mingguan, dan waktu sahur untuk harian.

Rasulullah bersabda:

“Allah Swt turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri. Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.” (HR. Bukhari Muslim)

2. Menghadap Kiblat

Saat seorang muslim sedang berdoa hendaknya sambil menghadap kiblat, mengangkat kedua tangannya, dan menundukkan pandangannya. Setelah selesai memanjatkan doa kemudian dilanjutkan dengan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.

Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Apabila Rasulullah mengangkat kedua tangannya dalam doa, beliau tidak menurunkannya hingga mengusap wajahnya dengan keduanya.” (HR. Muslim)

3. Bersuara Lirih

Saat seorang muslim sedang berdoa hendaknya bisa mengatur volume dengan tidak mengeraskan suaranya, melainkan melakukannya dengan penuh kelembutan, ketundukan, dan kerendahan hati.

Hal ini sebagaimana firman Allah Swt dalam Surat Al-A’raf ayat 55:

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

4. Berdoa dalam Kondisi Istimewa

Seorang muslim juga bisa berdoa pada kondisi-kondisi tertentu yang dinilai istimewa dan juga mustajab, misalnya saat turun hujan, saat berpuasa, setelah shalat lima waktu, serta waktu di antara azan dan iqamat.

Rasulullah bersabda:

“Doa antara azan dan iqamat tidak akan ditolak.” (HR. at-Tirmidzi)

5. Membaca Hamdalah dan Shalawat

Berdoa kepada Allah hendaknya tidak langsung masuk pada inti permohonan, melainkan diawali dengan memuji kepada Allah atau membaca hamdalah yang disertai dengan membaca shalawat Nabi.

Salamah bin Al-Akwa berkata:

“Aku tidak pernah mendengar Rasulullah membuka doa kecuali beliau memulainya dengan ucapan: ‘Subhana rabbiyal ‘aliyyil a‘lal Wahhab (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi lagi Maha Pemberi).’” (HR. Ahmad)

6. Hati yang Khusyu

Berdoa merupakan peristiwa sakral sehingga dalam praktiknya perlu diiringi dengan sikap rendah hati, khusyuk, serta penuh harap dan takut kepada Allah.

Rasulullah bersabda:

“Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia akan mengujinya hingga Dia mendengar doa permohonannya dengan penuh kerendahan.” (HR. Ad-Dailami)

7. Yakin Dikabulkan Allah

Saat memanjatkan doa kepada Allah, seorang muslim hendaknya meyakini bahwa Allah Maha Kuasa sehingga Dia akan mengabulkan setiap doa hamba-Nya. Di sisi lain, keyakinan ini akan menjadi energi positif yang akan membantu terwujudnya harapan.

Rasulullah bersabda:

“Berdoalah kepada Allah dengan penuh keyakinan akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah Azza wa Jalla tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. at-Tirmidzi)

8. Menghindari Sajak

Seorang muslim hendaknya tidak memaksakan diri membuat sajak atau rangkaian kata yang berlebihan saat memanjatkan doa kepada Allah. Pasalnya, jika doa dipaksakan dalam bentuk sajak, dikhawatirkan akan mengurangi sikap rendah hati dan ketundukan.

Rasulullah bersabda:

“Akan ada kaum yang melampaui batas dalam berdoa.” (HR. Abu Dawud)

9. Serius dan Penuh Kesungguhan

Dalam berdoa hendaknya seorang muslim menunjukkan keseriusan dan kesungguhannya serta tidak tergesa-gesa menuntut jawaban. Di antara ciri yang menunjukkan sikap demikian adalah dengan mengulangi doanya minimal 3 kali.

Rasulullah bersabda:

“Doa seseorang akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa dengan berkata: ‘Aku telah berdoa, tetapi belum juga dikabulkan.’ Maka apabila engkau berdoa, mintalah kepada Allah dengan banyak, karena sesungguhnya engkau memohon kepada Dzat Yang Maha Pemurah.” (HR. Bukhari Muslim)

10. Tobat dan Ikhlas

Menurut Al-Ghazali, adab yang kesepuluh ini merupakan adab batin yang menjadi pokok agar terkabulnya doa, yaitu bertaubat, mengembalikan hak orang lain yang terzalimi, dan menghadapkan hati sepenuhnya kepada Allah Swt. Inilah sebab yang paling dekat bagi terkabulnya doa.

Dikisahkan Al-Ghazali, di zaman Nabi Musa terjadi kemarau yang cukup panjang. Nabi Musa bersama Bani Israil kemudian memohon kepada Allah agar segera turun hujan. Walaupun sudah menggelar doa bersama namun ternyata belum juga dikabulkan. Nabi Musa kemudian mendapatkan wahyu bahwa di antara Bani Israel tersebut ada sejumlah orang yang telah melakukan dosa.