Dengue Melonjak 28 Kali, Jakarta Perkuat Perlindungan Bersama

Posted on

Tantangan Global dan Lokal dalam Penanggulangan Dengue

Infeksi dengue menjadi ancaman kesehatan yang signifikan di seluruh dunia, baik dari segi krisis kesehatan, beban ekonomi, maupun gangguan sosial. Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan peningkatan drastis jumlah kasus, dari 505.430 kasus pada tahun 2000 menjadi 14,6 juta pada tahun 2024. Angka ini menggarisbawahi betapa pentingnya upaya pencegahan dan pengendalian dengue.

Sejumlah besar populasi terancam infeksi dengue dan penyakit arbovirus lainnya. Secara global, sekitar 5,6 miliar orang tinggal di wilayah dengan risiko tinggi. Demam berdarah dengue disebabkan oleh empat jenis virus (DENV) yang menyebar melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Penyakit ini lebih umum ditemukan di daerah tropis dan subtropis.

Gejala dengue bisa bervariasi, mulai dari tanpa gejala hingga demam tinggi, nyeri sendi dan otot, sakit kepala, serta mual atau muntah. Risiko infeksi meningkat karena adanya empat serotipe virus, sehingga seseorang bisa terkena dengue lebih dari sekali. Infeksi kedua dapat menyebabkan gejala yang lebih parah.

Indonesia telah lama menghadapi dengue sebagai negara endemik. Sejak tahun 1980, berbagai upaya dilakukan untuk mengendalikan penyakit ini. Awalnya, fokus utamanya adalah pengendalian vektor seperti fogging dan penggunaan larvasida. Selain itu, inisiatif masyarakat seperti Gerakan 3M Plus dan G1R1J juga turut berkontribusi.

Pendekatan Terintegrasi dalam Pengendalian Dengue

Dengan tantangan yang semakin kompleks, pendekatan pencegahan diperlukan untuk menggabungkan intervensi pada vektor dan manusia. Dalam rangka mewujudkan strategi nasional, inovasi seperti teknologi Wolbachia digunakan untuk menekan penyebaran virus. Selain itu, beberapa daerah mulai menerapkan vaksinasi dengue.

Pendekatan kini memperluas strategi dengan menggabungkan inovasi teknologi dan kebijakan kesehatan. Teknologi Wolbachia, misalnya, telah diterapkan di Jakarta Barat sebagai pilot project untuk memutus rantai penularan. Inisiatif ini menunjukkan bagaimana pendekatan berbasis sains dapat melengkapi upaya konvensional.

Selain itu, kolaborasi antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dan perusahaan swasta seperti Takeda dilakukan untuk memperkuat upaya perlindungan masyarakat. Salah satu inisiatif yang dilakukan adalah pemantauan aktif vaksinasi dengue di Jakarta Selatan.

Peran Masyarakat dalam Pencegahan Dengue

Menurut dr. Ovi Norfiana, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, DKI Jakarta mencatat sebanyak 7.274 kasus dengue hingga tanggal 22 September 2025. Dari total tersebut, 12 kematian dilaporkan. Upaya pengendalian dengue mencakup program 3M Plus, edukasi masyarakat, dan intervensi berbasis teknologi.

Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, SpA(K), menjelaskan bahwa dengue bisa menyerang siapa saja, tidak hanya saat musim hujan tetapi juga sepanjang tahun. Oleh karena itu, masyarakat perlu waspada dan melakukan pencegahan secara rutin.

FKUI bersama Dinkes Provinsi DKI Jakarta dan Takeda berupaya menghadirkan mekanisme pemantauan efektivitas vaksin yang lebih sistematis. Kegiatan ini akan dilakukan di beberapa daerah lain seperti Palembang dan Banjarmasin.

Kolaborasi Lintas Sektor dalam Menangani Dengue

Prof. Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menegaskan komitmen FKUI dalam memberikan layanan kesehatan yang berkualitas. Upaya pengendalian dengue merupakan bagian dari tanggung jawab FKUI dalam mengimplementasikan ilmu dan inovasi.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga mendukung upaya pengendalian dengue melalui Strategi Nasional Penanggulangan Dengue (STRANAS) 2021–2025. Komitmen ini tidak hanya ditentukan oleh pemerintah, tetapi juga membutuhkan dukungan dari akademisi, sektor swasta, dan masyarakat.

PT Takeda Innovative Medicines, mitra swasta yang terlibat dalam kegiatan ini, menyatakan komitmen jangka panjang dalam mendukung Indonesia melawan dengue. Kolaborasi ini merupakan langkah penting dalam memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat.