Daftar Tipu Daya Israel Pada 7 Oktober

Posted on

Penyelidikan Terhadap Serangan 7 Oktober dan Mitos yang Dibuat oleh Israel

Dua tahun lalu, para pejuang Palestina melakukan operasi Topan al-Aqsa untuk membongkar blokade Gaza. Sejak saat itu, Israel telah melakukan kampanye pembohongan publik yang intensif. Salah satu misinformasi terkait serangan pada 7 Oktober adalah bahwa Hamas selalu disebut sebagai penyerbu. Faktanya, meskipun Brigade al-Qassam merupakan ujung tombak, operasi tersebut adalah yang pertama kalinya dilakukan secara terpadu oleh semua faksi bersenjata di Gaza. Selain Brigade al-Qassam, Saraya al-Quds dari Jihad Islam Palestina, Brigade Perlawanan Nasional dari kelompok Marxis DFLP, Brigade Ali Mustafa dari PFLP, Brigade Mujahidin, bahkan Brigade al-Aqsa dari Fatah ikut serta.

Salah satu hal yang terus digaungkan oleh Israel dan media Barat adalah bahwa pada 7 Oktober, sebanyak 1.200 tentara dan warga sipil tewas di tangan penyerang dari Palestina. Namun, penyelidikan yang dilakukan Israel sendiri dan pengakuan pejabat Israel menunjukkan bahwa di antara korban kala itu dibunuh pasukan Israel sendiri. Angka yang disebutkan pihak Israel awalnya tidak jelas. Mereka merevisi jumlah korban tewas dari 1.400 jiwa menjadi 1.175 orang. Dari jumlah itu, hampir separuh alias 379 orang berasal dari pasukan keamanan Israel dan 796 orang warga sipil (725 orang Israel dan 71 orang asing). Ratusan jenazah yang disangka warga Israel saat itu ternyata merupakan pejuang Palestina.

Belakangan terbukti, di antara yang tewas hari itu akibat tembakan dan bom Israel sendiri. Indikasi terkait hal ini pertama kali terungkap lewat kesaksian penyintas soal penembakan yang dilakukan dengan rudal tank Israel terhadap sebuah rumah di Kibbutz Be’eri. Tembakan itu menewaskan 14 warga Israel bersama pejuang Palestina di dalam rumah tersebut. Penyelidikan IDF mengonfirmasi pembunuhan tersebut.



Mobil-mobil yang hancur terlihat di lokasi pesta rave dekat Kibbutz Reim, dekat pagar perbatasan Jalur Gaza, pada Selasa, 10 Oktober 2023. – (AP Photo/Ohad Zwigenberg)

Pada Juli 2024, media Israel Haaretz menemukan dalam dokumen-dokumen militer serta kesaksian dari tentara, perwira tingkat menengah dan senior soal dijalankannya Protokol Hannibal hari itu. Protokol itu mengizinkan tentara Israel membunuh tentara atau warganya sendiri ketimbang dibawa sebagai sandera. Protokol itu dijalankan di berbagai lokasi serangan di Israel. “Ini adalah Hannibal massal. Ada berton-ton bukaan di pagar, dan ribuan orang di setiap jenis kendaraan, beberapa dengan sandera dan beberapa tanpa sandera,” kata salah satu mantan perwira Israel, Kolonel Angkatan Udara Nof Erez, mengatakan kepada Haaretz .

Helikopter-helikopter Israel dilaporkan sampai bolak-balik mengisi peluru untuk menembaki mobil-mobil yang kemungkinan berisi sandera yang menuju Gaza. Pilot angkatan udara menjelaskan kepada surat kabar Yedioth Aharonot tentang penembakan amunisi dalam jumlah “luar biasa” pada tanggal 7 Oktober terhadap orang-orang yang mencoba melintasi perbatasan antara Gaza dan Israel.



Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant menghadiri upacara di militer Mount Herzl pemakaman di Yerusalem, Israel, Ahad 27 Oktober 2024. – (Gil Cohen-Magen/Pool Photo via AP)

Pada Februari 2023, mantan menteri pertahanan Israel Yoav Gallant secara terbuka mengakui penggunaan protokol itu. Dalam wawancara dengan Channel 12 Israel, ia mengakui bahwa protokol itu digunakan “secara taktis di berbagai tempat”. Ia justru mengesankan menyesal tak menggunakan protokol itu di semua lokasi penyerangan. “Di tempat lain (perintah Protokol Hannibal) tidak diberikan, dan itu yang menjadi masalah,” lanjutnya.

Artinya, hingga saat ini, tak jelas betul dari sekitar 1.200 korban pada 7 Oktober 2023 berapa banyak yang tewas di tangan penyerang dan berapa yang tewas akibat tembakan tentara Israel sendiri. Yang juga jarang diungkapkan pada hari itu, Israel juga menewaskan 1.609 pejuang dan warga Gaza, jumlah yang lebih banyak dari korban di sisi Israel.

Penculikan Warga Sipil

Propaganda lainnya adalah bahwa warga Palestina yang merangsek pada 7 Oktober sengaja menculik warga sipil. Dalam serangan itu, sekitar 250 tentara dan warga sipil Israel termasuk anak-anak dibawa ke Gaza. Mereka rencananya digunakan sebagai alat tawar untuk membebaskan hampir 10 ribu warga Palestina yang ditahan tanpa prosedur hukum di penjara-penjara Israel. Menurut keterangan Hamas, warga sipil ikut terciduk karena salah tangkap dan pelanggaran prosedur. Pada April 2024, the Times of Israel melansir kesaksian dari juru bicara keluarga sandera Haim Rubinstein bahwa Hamas sejak awal sudah menawarkan membebaskan semua sandera sipil.



Sandera saat dikawal oleh pejuang Palestina untuk diserahkan ke Palang Merah di Nuseirat, Jalur Gaza tengah, Sabtu, 22 Februari 2025. – (AP Photo/Adel Kareem Hana)

Kebohongan Israel Mengenai Kekerasan Seksual

Kebohongan Israel selanjutnya, yang paling brutal adalah soal kekejian penyerang dari Palestina. Tak disangkal, ada warga Israel yang dibunuh penyerang dari Palestina. Namun, yang dilantangkan Israel jauh lebih bombastis. Salah satu yang digembar-gemborkan Benjamin Netanyahu dan digaungkan presiden AS kala itu, Joe Biden, adalah pembunuhan keji bayi-bayi Israel. Sebuah outlet berita Israel membuat klaim awal, yang kemudian diambil oleh media di seluruh dunia. Namun, tidak ada pemenggalan seperti itu yang diverifikasi oleh sumber Israel atau internasional.

Joe Biden pada Oktober itu berbohong bahwa ia menyaksikan langsung foto-foto pemenggalan bayi-bayi oleh penyerang. Gedung Putih kemudian mengklarifikasi, foto-foto yang dimaksud tak pernah ada. Ketika penyelidikan dimulai, pejabat Israel mencabut klaim tersebut. Investigasi menyimpulkan bahwa tuduhan tersebut tidak memiliki bukti yang dapat dipercaya.

Kebohongan selanjutnya, para pejuang Palestina melakukan Pemerkosaan Massal pada 7 Oktober. Tidak ada bukti kredibel yang muncul untuk mendukung klaim tersebut. Berbagai investigasi yang dilakukan oleh berbagai media membantah tuduhan tersebut.



Seorang tentara Israel di dalam reruntuhan rumah di Kibbutz Beeri, dekat perbatasan dengan Gaza di Israel selatan, 25 Oktober 2023. – (EPA-EFE/ABIR SULTAN)

Banyak laporan yang menuduh warga Palestina melakukan kekerasan seksual sistematis terhadap perempuan Israel didasarkan pada kesaksian relawan Zaka, sebuah organisasi penyelamat Israel yang tidak melakukan pekerjaan forensik. Sebuah artikel Associated Press secara khusus membantah dua tuduhan pemerkosaan dan kekerasan seksual yang dilakukan oleh relawan Zaka. Jaksa Israel yang memimpin tim tugas investigasi mengaku tidak ada penggugat dan tidak ada bukti yang dikumpulkan.

Tim pencari fakta PBB menemukan “alasan yang masuk akal” untuk meyakini bahwa beberapa dari mereka yang menyerbu Israel selatan pada 7 Oktober telah melakukan kekerasan seksual. Namun para penyelidik PBB juga mengatakan bahwa tanpa adanya bukti forensik dan kesaksian para penyintas, mustahil untuk menentukan cakupan kekerasan tersebut. Hamas membantah pasukannya melakukan kekerasan seksual.

Mitos tentang Penggunaan Perisai Manusia

Kegohongan lainnya, Hamas disebut menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia dan rumah sakit sebagai pangkalan militer. Tidak ada bukti nyata yang mendukung klaim penggunaan perisai manusia oleh Hamas, termasuk oleh organisasi Hak Asasi Manusia seperti Amnesty International. Gaza adalah salah satu wilayah terpadat penduduknya di dunia, yang tentu saja mempersulit pembedaan antara wilayah sipil dan militer.

Agresi berturut-turut Israel di Gaza, termasuk genosida yang sedang berlangsung, telah didokumentasikan dengan pemboman yang meluas, sistematis, dan tanpa pandang bulu serta menargetkan warga sipil dan infrastruktur sipil. Di sisi lain, penyelidikan mengungkapkan bahwa pasukan Israel telah menggunakan warga Palestina sebagai tameng manusia, sehingga mematahkan mitos tersebut. Seluruh tudingan bohong Israel tersebut fatal karena jadi alasan untuk melakukan serangan genosida ke Gaza yang berlangsung hingga hari ini.