Kenangan dan Nilai-nilai yang Menginspirasi
Setiap kali Milad Muhammadiyah tiba, ingatan saya selalu kembali pada kampung kecil di Bojonegoro; tempat denyut dakwah itu hadir tanpa hiruk-pikuk, tanpa panggung, namun terasa dalam langkah orang-orang sederhana yang mengajarkan makna pengabdian. Saya lahir dari rahim Aisyiyah. Ibu saya, yang kini berusia kepala enam, masih mengayuh sepeda lima belas kilometer setiap Ahad pagi untuk menghadiri pengajian di masjid PDM Kota Bojonegoro. Bukan untuk mencari popularitas atau pengakuan, tetapi agar nyala dakwah di kampung tidak padam. Di situlah pertama kali saya memahami bahwa gerakan ini tumbuh dari cinta yang sunyi.
Di kampung kami, Muhammadiyah tidak pernah berdiri sebagai nama besar. Ia hadir sebagai napas keseharian. Kakek saya, seorang pedagang yang tidak pernah disebut sebagai tokoh, adalah salah satu penggerak berdirinya Madrasah Ibtidaiyyah Muhammadiyah 13. Setelah beliau wafat, paman dan bibi melanjutkan perjuangan itu dengan keteguhan yang sama. Saya tumbuh bersama ikhtiar-ikhtiar kecil semacam itu: belajar di TK ABA, MIM, SMP Muhammadiyah, hingga kemudian menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah Muhammadiyah Paciran; Pondok Pesantren Modern tempat saya mengenal turats, nahwu, sharaf, arudh, falak, dan kitab gundul, yang kelak menjadi fondasi akademik saya.
Ketika kemudian saya melanjutkan studi ke Libya, saya berangkat membawa surat rekomendasi PP Muhammadiyah yang ditandatangani Prof. Din Syamsuddin dan Buya Godwil Zubair. Pada saat itu saya mulai sadar: jejak kecil dari kampung ternyata mengarahkan langkah saya pada ruang dakwah yang lebih luas. Kini, ketika saya diberi amanah di Bidang Dakwah Global Majelis Tabligh, wajah-wajah guru kampung, ustaz-ustaz senyap, dan ibu-ibu Aisyiyah itulah yang sering saya ingat. Mereka mengajarkan bahwa dakwah bukan soal retorika, tetapi soal ketulusan. Bukan soal tampil, tetapi soal memberi manfaat.
Memasuki Milad Muhammadiyah ke-113, tema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa” bagi saya bukan sekadar slogan tahunan. Ia adalah panggilan sejarah yang terus diwariskan sejak 1912; tahun ketika Kiai Ahmad Dahlan menenun agama ke dalam denyut hidup umat, bukan hanya dalam ceramah, tetapi dalam aksi nyata di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan kemanusiaan.
Pada titik ini, saya memahami betapa pentingnya dua fondasi besar yang menopang gerakan dakwah Muhammadiyah: ta’shil syar‘i dan tathwir ‘ashri. Ta’shil syar‘i adalah pengokohan akar keislaman; kemurnian tauhid, kedalaman manhaj tarjih, kejernihan akhlak, dan disiplin ilmu agama. Sedangkan tathwir ‘ashri adalah keberanian menjawab tantangan zaman; digitalisasi, kemiskinan struktural, krisis moral, disrupsi epistemik, hingga era pasca-AI.
Akar tanpa tunas adalah kemandekan; tunas tanpa akar adalah kegoyahan. Muhammadiyah kuat karena keduanya tumbuh bersama. Asupan akan literasi keagamaan inti menjadi penting, apalagi disaat paksaan konten digital yang saling bertabrakan. Tanpa fondasi tirats yang kuat, maka peradaban akan tumbang.
Dalam khazanah kenabian, kita menemukan contoh agung yang mencerminkan dua sisi itu. Nabi Ibrahim memperlihatkan keteguhan prinsip, kejernihan tauhid, dan keberanian moral. Maryam menunjukkan keluasan jiwa, kejernihan spiritual, dan kesabaran menghadapi fitnah publik. Keduanya mengajarkan bahwa kekuatan dakwah bukan terletak pada gema suara, tetapi pada kejernihan hati dan integritas laku.
Dan pantulan nilai itu dapat kita lihat dalam perjalanan Muhammadiyah: kerja senyap yang hasilnya riuh. Ketika sebagian sibuk berdebat, Muhammadiyah sibuk membangun sekolah, rumah sakit, panti, dan gerakan literasi. Ketika sebagian terjebak narasi kemarahan, Muhammadiyah merawat moderasi dan keberkahan. Benar dawuh Kyai pada satu kesempatan: “Buatlah terkejut orang dengan prestasi dan pengabdianmu.”

Peserta dari Aisyiyah merekam dengan gawai suasana penutupan Muktamar ke-48 Muhammadiyah di Edutorium UMS, Surakarta, Jawa Tengah, Ahad (20/11/2022). Pada Muktamar ke-48 Muhammadiyah ini menghasilkan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir serta Ketua Umum PP Aisyiyah Salmah Orbayinah untuk periode 2022-2027. – (PasarModern.com/Wihdan Hidayat)
Setelah mengikuti pidato Milad 113 yang disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah di Bandung, saya menemukan penegasan penting bahwa misi memajukan kesejahteraan bangsa adalah amanah teologis yang bertolak dari semangat rahmatan lil-‘alamin. Muhammadiyah tidak hadir untuk terlibat dalam kegaduhan nasional, melainkan untuk menjadi penopang moral dan epistemik bangsa. Karena itu, dakwah harus berbasis ilmu, bukan sekadar aktivitas; berbasis solusi, bukan sekadar seruan. Prof. Haedar menekankan pentingnya riset, produksi pengetahuan, dan orientasi global, agar Islam berkemajuan dapat menjadi soft power Indonesia di tengah turbulensi global. Ini bukan sekadar visi organisasi, tetapi konsekuensi logis dari gerakan yang akar dan tunasnya sama-sama hidup.
Sebagai kader yang tumbuh dari rahim Aisyiyah dan dibesarkan oleh guru-guru Muhammadiyah yang ikhlas penuh inovasi, saya meyakini bahwa kekuatan persyarikatan sesungguhnya berada pada romantisme akar rumput: pada ibu yang mengayuh sepeda menuju pengajian; pada ustaz-ustaz kampung yang mengajar dengan gaji minim; pada pelajar IPM yang berlatih kepemimpinan; pada relawan muda yang memanggul bantuan ketika bencana datang.
Mereka adalah denyut bawah tanah yang membuat Muhammadiyah tetap kokoh. Dari akar rumput hingga pentas global, Muhammadiyah membuktikan bahwa dakwah bukan hanya ajakan, tetapi tindakan; bukan hanya wacana, tetapi pelayanan; bukan hanya seruan, tetapi pemerdekaan.
Ketua Umum juga mengingatkan bahwa tantangan keumatan hari ini bukan semata-mata kemiskinan material, tetapi kemiskinan orientasi dan kedangkalan nalar yang melanda ruang publik. Beliau menegaskan bahwa bangsa ini membutuhkan ketenangan moral, kejernihan analisis, dan visi peradaban; dan Muhammadiyah dipanggil untuk menghadirkan ketiganya.
Prof Haedar menggugah kita untuk menjaga muruah dakwah agar tidak terjebak dalam polarisasi politik, budaya populer yang dangkal, dan wacana keagamaan yang miskin rujukan. Dakwah, menurut beliau, harus tampil sebagai cahaya penuntun yang mencerahkan, bukan sebagai bara yang membakar.
Refleksi ini sangat penting, karena di tengah derasnya arus digital yang penuh distorsi, umat membutuhkan Muhammadiyah sebagai rumah teduh yang memadukan ta’shil syar‘i; pendalaman agama yang kokoh, dengan tathwir ‘ashri; ketangguhan beradaptasi terhadap modernitas. Seruan Ketum adalah panggilan untuk memulihkan martabat dakwah: menjadikannya ilmiah, beradab, dan berorientasi maslahat, sehingga gerakan ini mampu menuntun bangsa menuju kemajuan yang lebih berkeadaban.
Pada usia 113 tahun ini, saya percaya bahwa selama Muhammadiyah menjaga kedalaman tradisi dan keberanian inovasi, ia akan terus menjadi cahaya bagi bangsa dan rahmat bagi semesta. Dan selama kader-kadernya menjaga keikhlasan, seperti ibu saya yang masih setia mengayuh sepeda setiap Ahad pagi, Muhammadiyah akan tetap menjadi gerakan yang tidak hanya besar, tetapi membesarkan.

Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir memberikan pidato saat Milad ke-113 Muhammadiyah di Halaman Kampus Muhammadiyah Bandung, Jawa Barat, Selasa (18/11/2025). Pada Milad ke-113 Muhammadiyah yang bertemakan Memajukan Kesejahteraan Bangsa tersebut pengurus pusat Muhammadiyah sekaligus meluncurkan kartu elektronik keanggotaan Muhammadiyah. – (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)


