Dari Bajaj Merah ke Biru: Jejak Perjalanan Transportasi Mikro Jakarta

Posted on



Jakarta, dalam keramaian mobil pribadi, TransJakarta, dan motor ojek online yang berlalu lalang, sesekali muncul kendaraan kecil berwarna biru melintas gesit di celah sempit jalan. Itulah bajaj, moda transportasi legendaris Jakarta yang masih bertahan di tengah gempuran sistem transportasi modern.

Dahulu, bajaj berwarna merah menyala, bising, dan berasap pekat. Kini, sebagian besar bajaj di Jakarta sudah berganti menjadi biru dan menggunakan bahan bakar gas (BBG). Namun, di balik perubahan warna dan suara mesin yang lebih halus, semangat pengemudinya tetap sama bertahan di jalanan ibu kota yang kian modern.

Di area ruas jalan dekat pintu Monas, Andi (37) tengah duduk santai di atas jok bajaj birunya. Sehari-hari, ia beroperasi di kawasan Gambir hingga Tanah Abang. “Saya udah bawa bajaj dari 2002, Mbak. Waktu itu masih yang merah. Suaranya keras banget, tapi penumpang banyak,” katanya sambil tersenyum kepada PasarModern.com, Rabu (05/11/2025).

23 tahun bukan waktu sebentar. Andi sudah melewati masa ketika bajaj menjadi primadona angkutan jarak dekat di Jakarta, hingga kini perlahan tersisih oleh transportasi daring. “Dulu sehari bisa dapat Rp300.000. Sekarang paling Rp100.000 sampai Rp150.000. Apalagi sejak ada ojek online, penumpang makin berkurang,” ujar Andi.

Meski begitu, Andi mengaku belum ingin meninggalkan profesinya. “Pernah coba jadi driver ojol dua tahun, tapi balik lagi ke bajaj. Saya lebih suka sistem bajaj, karena lebih mandiri dan masih punya rasa ‘kekeluargaan’ antar pengemudi,” ucap dia. Bagi Andi, bajaj bukan sekadar alat mencari nafkah, melainkan perjalanan panjang hidupnya di Jakarta. “Bajaj itu bagian dari hidup saya. Kalau hilang, kayak kehilangan identitas Jakarta,” ungkap dia.

Kisah hidup pengemudi bajaj

Kisah serupa juga datang dari Hadi (43), pengemudi bajaj yang sudah beroperasi sejak 2003. Ia sempat berhenti dan bekerja di proyek bangunan, bahkan menjadi nelayan di laut. Tapi pandemi membuatnya kembali ke jalan. “Motor saya dijual buat kebutuhan, akhirnya balik lagi ke bajaj. Penghasilan nggak menentu, paling sedikit Rp70.000, paling banyak Rp200.000 sehari,” ujar Hadi.

Hadi tahu, banyak orang menganggap tarif bajaj mahal. Namun, baginya, itu soal logika usaha. “Kalau ke Tangerang, misalnya, tarif bisa Rp250.000 sampai Rp300.000. Karena dari sana baliknya kosong. Beda sama ojol yang bisa langsung dapet order lagi lewat aplikasi,” kata dia. Meski sadar masa depan bajaj tak secerah dulu, Hadi masih optimis. “Bajaj sekarang mungkin kalah modern, tapi punya nilai sejarah. Kalau nanti bajaj bisa pakai listrik dan lebih bersih, saya yakin bisa bangkit lagi,” ucap dia.

Tiga dekade mengaspal di Jakarta

Bagi Junaryo (54), pengemudi bajaj senior, suara mesin bajaj sudah menjadi musik sehari-hari sejak 1991. “Saya sudah lebih dari 30 tahun jadi pengemudi bajaj. Dulu waktu masih merah, banyak banget penumpang. Sekarang udah sepi. Kadang dapat Rp100.000, kadang nggak sama sekali,” kata dia. Bajaj, menurut Junaryo, kini lebih banyak diminati wisatawan. “Turis asing suka banget keliling Monas naik bajaj. Katanya unik, khas Jakarta banget,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Namun ia tak menampik, kemajuan transportasi modern membuat bajaj kian tersisih. “Sekarang orang lebih milih TransJakarta atau ojek online. Lebih cepat, murah, dan nyaman. Tapi kalau hujan, ya tetap bajaj yang dicari,” ungkap dia.

Dalam bayang-bayang modernisasi

Menurut Djoko Setijowarno, pengamat transportasi dari Universitas Soegijapranata, keberadaan bajaj di Jakarta kini berada di persimpangan. “Bajaj sebenarnya punya potensi besar karena efisien dan cocok untuk jarak pendek. Tapi sayangnya, belum ada inovasi serius,” ujar Djoko saat dihubungi PasarModern.com, Rabu.

Djoko menilai, salah satu masalah utama dari bajaj adalah tarif dan kebersihan. “Tarif bajaj relatif mahal. Kalau keliling Monas bisa Rp30.000–Rp50.000, padahal TransJakarta cuma Rp3.500. Lalu soal kebersihan dan kerapian, banyak yang kurang diperhatikan,” katanya. Meski begitu, ia meyakini bajaj masih bisa diselamatkan dan akan tetap ada di masa depan. “Kalau pemerintah mau, bajaj bisa diintegrasikan dengan sistem online atau jadi bagian dari sistem transportasi wisata. Di beberapa kota lain seperti Makassar dan Jogja, bajaj online justru berkembang,” jelas dia.

Pendapat serupa disampaikan oleh Deddy Herlambang, pengamat transportasi lain. Ia menyebut bajaj sebagai angkutan paratransit, moda pelengkap yang tetap dibutuhkan. “Bajaj itu formal karena berpelat kuning, tapi dikelola individu. Jadi sulit diintegrasikan ke sistem besar seperti TransJakarta atau MRT,” ucap dia. Meski demikian, Deddy menilai keberadaan bajaj tetap penting. Ia juga menyoroti persoalan tarif. “Tarif bajaj harus punya batas atas dan bawah, seperti angkutan umum lain. Sekarang tarifnya diserahkan ke negosiasi, jadi sering muncul keluhan mahal. Ini juga yang membuat orang lebih memilih ojol,” kata dia.

Antara nostalgia dan harga

Bagi sebagian warga Jakarta, bajaj bukan sekadar kendaraan melainkan bagian dari kenangan kota. Fika (28), warga Tanah Abang, mengaku masih sesekali naik bajaj meski kini lebih sering menggunakan transportasi online. “Dulu waktu kecil, bajaj itu transportasi keluarga. Sekarang jarang banget. Tapi kadang saya naik kalau buru-buru, karena bajaj bisa nyelip di jalan,” ujarnya. Namun ia juga menyoroti tarif bajaj yang kini dinilai terlalu mahal. “Untuk muter Monas aja bisa Rp50.000, padahal naik TransJakarta cuma Rp10.000 pulang pergi. Jadi orang banyak yang mikir dua kali,” kata Fika.

Sementara Rahayu (32) menilai bajaj tetap punya keunggulan tersendiri. “Bajaj itu praktis, langsung sampai tujuan tanpa transit. Cuma ya, bersaingnya berat sama ojol. Kalau gak ada pembaruan, saya rasa bajaj akan makin langka,” ucap dia. Dari luar Jakarta, Aziz (29) asal Bandung menganggap bajaj sebagai ikon. “Kalau ke Jakarta gak naik bajaj, rasanya belum lengkap. Tapi saya paham kenapa warga lokal lebih pilih transportasi modern. Tarif bajaj mahal dan gak terintegrasi,” ungkap dia. Sedangkan Ivan (27) dari Yogyakarta menyebut bajaj sebagai pengalaman unik. “Naik bajaj itu nostalgia. Tapi kalau bajaj bisa masuk sistem transportasi modern, misalnya lewat aplikasi atau rute wisata resmi, saya yakin bisa bangkit lagi,” ucap dia.

Aturan bajaj di Jakarta

Menurut Muhamad Wildan Anwar, Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Pusat, bajaj secara status merupakan angkutan umum non-trayek namun berzonasi. “Bajaj bebas beroperasi di dalam zona kota, tapi disarankan hanya melayani jaringan lingkungan sebagai feeder ke TransJakarta. Tidak boleh lintas antar kota,” ujar Wildan kepada PasarModern.com. Artinya, bajaj berperan sebagai pengumpan dari kawasan pemukiman menuju jalur utama transportasi massal. “Contohnya di sekitar Jl. Wahid Hasyim, Jl. KH Mas Mansyur, sampai Tanah Abang, bajaj masih aktif. Tapi kami arahkan agar tidak keluar dari zona kota,” kata Wildan. Namun kenyataannya, banyak pengemudi bajaj masih beroperasi di luar zona tersebut, bahkan sampai ke Tangerang dan Bekasi, demi mencari penumpang.

Modernisasi, tapi jangan hapus sejarah

Dari bajaj merah berasap hingga bajaj biru berbahan bakar gas, perjalanan moda ini mencerminkan transformasi wajah Jakarta. Namun di tengah modernisasi transportasi yang pesat dari MRT, LRT, hingga TransJakarta bajaj masih berjuang mempertahankan tempatnya. Bagi para pengemudi seperti Andi, Hadi, dan Junaryo, bajaj bukan sekadar kendaraan. Ia adalah sumber kehidupan sekaligus simbol kota. “Kalau bajaj hilang, Jakarta kehilangan cirinya,” kata Andi. Sementara bagi pengamat seperti Djoko dan Deddy, masa depan bajaj bergantung pada kemauan pemerintah dan inovasi. Integrasi dengan sistem online, pembaruan mesin listrik, serta penataan tarif bisa menjadi jalan keluar agar bajaj tetap hidup tanpa menyalahi semangat modernisasi.

Di balik kemudi, para pengemudinya masih menggantungkan hidup dari roda tiga itu di tengah kota yang terus berlari menuju masa depan. Mungkin suatu hari nanti, bajaj-bajaj itu akan berganti bentuk menjadi kendaraan listrik, lebih senyap, lebih bersih. Namun bagi warga Jakarta, suara mesin tiga roda yang meraung di tengah macet akan selalu membawa satu kenangan bahwa di antara gedung-gedung modern, masih ada jejak masa lalu yang belum padam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *