Penurunan Performa Arsenal dan Momentum Manchester City di Premier League
Arsenal, yang sebelumnya tampil stabil di awal musim, kini menghadapi penurunan drastis dalam performa. Dalam enam pertandingan terakhir, tim asuhan Mikel Arteta hanya mampu meraih satu kemenangan, sementara empat kekalahan menghiasi jalannya laga. Hal ini menjadi kontras yang jelas dengan hasil positif yang mereka peroleh di fase awal musim.
Sebaliknya, Manchester City semakin menunjukkan konsistensi mereka di akhir musim. Tim asuhan Pep Guardiola ini memperlihatkan keunggulan yang signifikan, terutama dalam momen penting. Kekalahan 1-2 dari Arsenal dalam laga terbaru bukanlah akhir dari momentum mereka, melainkan sebuah pukulan yang akan segera mereka balas.
Kekecewaan di Laga Kontra Man City
Kekalahan dari Manchester City menjadi pukulan berat bagi Arsenal dalam perburuan gelar Premier League musim ini. Hasil tersebut tidak hanya membuat mereka kehilangan tiga poin, tetapi juga menunjukkan perbedaan yang mencolok antara dua tim di fase krusial musim ini.
Secara permainan, Arsenal mampu mengimbangi Manchester City dalam laga yang berjalan intens dan terbuka. Namun, seperti biasanya di level tertinggi, pertandingan ditentukan oleh momen kecil. Erling Haaland menjadi pembeda lewat gol kemenangan di babak kedua, yang memperkuat statusnya sebagai ancaman besar bagi lini belakang The Gunners.
Tren Negatif yang Mengkhawatirkan
Kekalahan ini memperpanjang tren negatif Arsenal. Untuk pertama kalinya musim ini, tim asuhan Mikel Arteta menelan dua kekalahan beruntun di liga. Sebelumnya, pada pekan lalu, Arsenal juga kalah 1-2 dari Bournemouth saat bermain di Emirates Stadium.
Lebih mengkhawatirkan lagi, Arsenal kini kalah empat kali dalam enam pertandingan terakhir di semua kompetisi—angka yang sangat kontras dibandingkan performa sebelumnya. Fakta paling mencolok adalah perbandingan fase musim. Dalam 49 pertandingan pertama, Arsenal hanya kalah tiga kali. Namun dalam enam laga terakhir, mereka sudah menelan empat kekalahan. Penurunan drastis ini memunculkan pertanyaan besar soal konsistensi dan mental juara.
Rekor Negatif yang Menjadi Kekhawatiran
Catatan buruk itu semakin diperparah dengan rekor negatif lain: Arsenal kini mencatat empat kekalahan beruntun di ajang domestik (liga dan piala). Ini sesuatu yang belum pernah terjadi di era Arteta, bahkan terakhir kali dialami klub pada Maret 2018, seperti dicatat Opta.
Berikut adalah daftar enam laga terakhir Arsenal:
- Kalah Final Carabao Cup: 2-0 vs Man City
- Kalah 8 Besar Piala FA: 2-1 vs Southampton
- Menang Leg 1 8 Besar UCL: 0-1 vs Sporting CP
- Kalah Liga Inggris: 1-2 vs Bournemouth
- Imbang Leg 2 8 Besar UCL: 0-0 vs Sporting CP
- Kalah Liga Inggris: 2-1 vs Man City
Momentum Manchester City yang Membaik
Di sisi lain, Manchester City justru menunjukkan tren sebaliknya. Tim asuhan Pep Guardiola semakin solid di momen penentuan. Mereka kini berada hanya tiga poin di belakang Arsenal (70 poin) dan masih memiliki satu laga tunda melawan Burnley—yang berpotensi membawa mereka ke puncak klasemen dalam hitungan hari.
Momentum apik Man City di akhir musim ini juga didukung performa individu luar biasa, terutama Erling Haaland yang mencetak gol kemenangan. Haaland kini telah terlibat langsung dalam 30 gol di Premier League musim ini, menjadikannya pemain pertama yang mencapai angka tersebut musim ini.
Striker asal Norwegia ini juga terus menunjukkan dominasi atas Arsenal, dengan kini telah mencetak enam gol dalam delapan pertemuan liga. Ia hanya kalah dari Sergio Agüero (8 dalam 15 pertandingan) dan Kevin De Bruyne (8 dalam 16 pertandingan) yang mencetak lebih banyak gol dalam pertandingan Liga Premier antara Arsenal dan Manchester City (untuk kedua tim).
Statistik yang Memperkuat Narasi
Data dari Squawka menyebutkan, Manchester City dikenal sangat kuat di fase akhir musim. Di bawah Guardiola, bulan April menjadi periode terbaik mereka dengan rata-rata poin tertinggi dan persentase kemenangan mencapai 80 persen.
Sebaliknya, Arsenal justru menunjukkan tanda-tanda goyah di momen yang paling menentukan. Statistik lain semakin memperkuat narasi tersebut. Dalam sembilan pertemuan antara tim peringkat pertama dan kedua sejak 2020, tim peringkat kedua justru lebih sering menang.
Pep Guardiola sendiri mengukir catatan apik. Ia memiliki rekor sempurna saat menghadapi tim pemuncak klasemen di Liga Inggris, ketika timnya Manchester City memulai laga di posisi kedua. Guardiola menang 4 kali dari 4 pertandingan dalam situasi tersebut. Rekor itu menyamai legenda Alex Ferguson sebagai yang terbanyak dalam sejarah kompetisi (manajer posisi 2 mengalahkan posisi 1).
Klasemen Akhir Musim
Berikut adalah klasemen sementara Premier League:
| Klub | Main | Menang | Seri | Kalah | Gol Masuk | Gol Kemas | Selisih | Poin |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Arsenal | 33 | 21 | 7 | 5 | 63 | 26 | 37 | 70 |
| Manchester City | 32 | 20 | 7 | 5 | 65 | 29 | 36 | 67 |
| Manchester United | 33 | 16 | 10 | 7 | 58 | 45 | 13 | 58 |
| Aston Villa | 33 | 17 | 7 | 9 | 47 | 41 | 6 | 58 |
| Liverpool | 33 | 16 | 7 | 10 | 54 | 43 | 11 | 55 |
| Chelsea | 33 | 13 | 9 | 11 | 53 | 42 | 11 | 48 |
| Brentford | 33 | 13 | 9 | 11 | 48 | 44 | 4 | 48 |
| Bournemouth | 33 | 11 | 15 | 7 | 50 | 50 | 0 | 48 |
| Brighton | 33 | 12 | 11 | 10 | 45 | 39 | 6 | 47 |
| Everton | 33 | 13 | 8 | 12 | 40 | 39 | 1 | 47 |
| Sunderland | 33 | 12 | 10 | 11 | 36 | 40 | -4 | 46 |
| Fulham | 33 | 13 | 6 | 14 | 43 | 46 | -3 | 45 |
| Crystal Palace | 31 | 11 | 9 | 11 | 35 | 36 | -1 | 42 |
| Newcastle | 33 | 12 | 6 | 15 | 46 | 49 | -3 | 42 |
| Leeds United | 33 | 9 | 12 | 12 | 42 | 49 | -7 | 39 |
| Nottm Forest | 33 | 9 | 9 | 15 | 36 | 45 | -9 | 36 |
| West Ham | 32 | 8 | 8 | 16 | 40 | 57 | -17 | 32 |
| Tottenham | 33 | 7 | 10 | 16 | 42 | 53 | -11 | 31 |
| Burnley | 33 | 4 | 8 | 21 | 34 | 67 | -33 | 20 |
| Wolves | 33 | 3 | 8 | 22 | 24 | 61 | -37 | 17 |


