BMKG Peringatkan Puncak Musim Hujan Jabar November-Desember, Waspada Banjir dan Longsor

Posted on

Prakiraan Curah Hujan Tinggi di Bandung Raya pada November dan Desember 2025

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan adanya potensi peningkatan curah hujan di kawasan Bandung Raya pada bulan November dan Desember 2025. BMKG mengimbau seluruh masyarakat Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat seiring dengan masuknya sebagian besar wilayah Indonesia ke puncak musim hujan.

Prakiraan tersebut didasarkan pada analisis kondisi terkini dinamika atmosfer laut. Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Teguh Rahayu menyampaikan bahwa curah hujan tercatat sebesar 256 milimeter dengan 22 hari hujan selama Oktober 2025. Mempertimbangkan potensi peningkatan hujan dalam waktu mendatang, pihaknya mengimbau kepada masyarakat maupun pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan dan menyiapkan antisipasi dini.

“Potensi cuaca ekstrem dapat memicu genangan, banjir, dan longsor yang berdampak pada aktivitas maupun mobilitas masyarakat. Bagian langkah mitigasi, penting untuk menjaga drainase mengalir lancar, tak tersumbat. Selain itu daerah aliran sungai bersih dari sedimen maupun sampah,” ucap Teguh Rahayu, Minggu 2 November 2025.

Rahayu mengatakan, mengacu analisis kondisi terkini dinamika atmosfer laut, terdapat potensi peningkatan curah hujan di kawasan Bandung Raya. Suhu muka laut di sebagian wilayah perairan Indonesia relatif hangat mengindikasikan suplai uap air cukup tinggi di wilayah Jawa Barat. Begitu pula dengan Madden Julian Oscillation (MJO) atau gelombang di lapisan troposfer berada pada fase 5 -Maritime Continent- turut berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan.

“Selain itu, Dipole Mode Indeks bernilai -1,61 yang berarti berpotensi meningkatkan aktivitas konventif di wilayah Indonesia bagian barat. Terpantau pula sirkulasi siklonik pada lapisan 5.000 kaki di Laut Jawa membentuk daerah belokan angin di wilayah Jawa Barat,” katanya.

Secara umum, Rahayu mengatakan, labilitas atmosfer pun berada pada kategori ringan hingga kuat. Hal itu pun mengindikasikan adanya potensi pembentukan awan konvektif atau awan yang mengandung tetesan kecil air. “Sudah masuk musim hujan. Terdapat potensi, intensitas hujan pada November dan Desember lebih tinggi ketimbang Oktober 2025,” ucap Rahayu.

Puncak Musim Hujan dan Peringatan BMKG

BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan, dalam beberapa hari terakhir, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat melanda sebagian besar wilayah Jawa bagian barat dan tengah, meliputi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, serta sebagian wilayah Yogyakarta. Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian seluruh pihak untuk meningkatkan kesiapsiagaan.

“Kondisi atmosfer sangat labil dan kaya uap air akibat aktifnya monsun Asia serta suhu muka laut yang hangat. Hujan lebat hingga sangat lebat dengan curah hujan 80-150 mm per hari sudah terjadi di beberapa wilayah. Ini adalah sinyal kuat bahwa kita harus meningkatkan kesiapsiagaan,” kata Dwikorita dalam keterangan resminya, Sabtu 1 November 2025.

Saat ini, kata Dwikora, sekitar 43,8% wilayah Indonesia atau 306 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim hujan. Sementara puncak musim hujan di Indonesia diperkirakan terjadi secara bertahap mulai November 2025 hingga Februari 2028 dengan pola umum pergerakan dari barat ke timur.

“Namun demikian, pada periode Desember 2025 hingga Januari 2026 menjadi fase puncak musim hujan utama bagi sebagian besar wilayah Indonesia yang berpotensi meningkatnya curah hujan tinggi dan bencana hidrometeorologi,” ujarnya.

Di sisi lain, pada November ini periode siklon tropis di wilayah selatan Indonesia mulai aktif, sehingga masyarakat perlu mewaspadai potensi terbentuknya sistem tekanan rendah di sekitar Samudra Hindia yang memicu hujan sangat lebat dan angin kencang, serta gelombang tinggi terutama di pesisir Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Langkah Antisipasi dan Mitigasi

Sebagai langkah antisipasi dan mitigasi, BMKG bekerja sama dengan BNPB dan unsur terkait saat ini sedang melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk wilayah sekitar DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan Yogyakarta untuk mengurangi intensitas hujan ekstrem di wilayah rawan bencana. Untuk wilayah Jawa bagian barat, operasi dilakukan sejak 23 Oktober dan juga masih berlanjut, dengan pelaksanaan dari Posko Jakarta. Sebanyak 29 sorti penerbangan telah dilakukan dan menunjukkan hasil pengurangan curah hujan di wilayah sasaran secara signifikan.

Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan terdampak. Selain itu, saat terjadi hujan disertai petir dan angin kencang, masyarakat diimbau menghindari berteduh di bawah pohon, baliho, atau bangunan yang rapuh, serta tetap menjaga kesehatan dan asupan cairan tubuh karena suhu panas pada siang hari masih dapat terjadi.

Mitigasi Bencana oleh Pemerintah Kota Bandung

Pemerintah Kota Bandung melakukan mitigasi bencana dalam menghadapi musim hujan. Antisipasi potensi banjir atau longsor dilakukan melalui perbaikan sistem drainase, pembangunan kolam retensi, pengoperasian rumah pompa, dan penguatan partisipasi masyarakat.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan, penanganan banjir tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada kesiapsiagaan warga. Perbaikan sistem drainase pun kini tengah dilakukan secara masif.

“Pemkot Bandung tengah besar-besaran memperbaiki sistem drainase hingga akhir tahun ini sebagai bagian dari solusi struktural. Kami juga menyiapkan kanal baru, kolam retensi, pelebaran saluran, dan sumur imbuhan dalam agar aliran air tidak lagi tersendat,” kata Farhan, akhir pekan lalu.

Dia menegaskan, larangan pembangunan liar di bantaran sungai, karena dapat mempersempit aliran air dan memperburuk banjir. “Banyak saluran tersumbat bahkan tertutup bangunan. Itu tidak boleh dibiarkan. Penertiban akan dilakukan agar sistem air kembali normal,” ujarnya.

Selain itu, Farhan meminta setiap RW mengaktifkan sukarelawan siaga bencana, sistem peringatan dini, dan ronda lingkungan untuk mengantisipasi cuaca ekstrem. “Drainase bisa kita benahi bertahap, tetapi kewaspadaan warga harus berjalan mulai sekarang,” ucapnya.

Wakil Wali Kota Bandung Erwin mengatakan, saat ini, Pemkot Bandung telah menempatkan 27 titik rumah pompa di wilayah rawan banjir. Selain itu, sebanyak 15 kolam retensi juga telah berfungsi, yang jumlahnya bertambah sampai 30 titik pada tahun depan.

“Tahun depan, kami anggarkan dua kolam retensi tambahan. Kolam yang sudah beroperasi terbukti mengurangi genangan secara signifikan,” kata Erwin.

Untuk menjaga kelancaran saluran air, Pemkot Bandung juga menggencarkan program ‘Mapag Hujan’, yakni kerja sama antara pemerintah dan warga dalam membersihkan saluran air. “Kita libatkan warga agar drainase tetap bersih,” ujarnya.

Di samping itu, kata dia, Pemkot Bandung melalui Dinas Pertamanan dan Ketahanan Pangan (DPKP) telah melakukan uji kekuatan dan perawatan terhadap pohon-pohon tua di ruas-ruas jalan utama. Langkah itu ditujukan untuk mencegah pohon tumbang akibat angin kencang.

Sementara itu, Kepala Bidang Drainase dan Trotoar pada Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Bandung Kiki Rosani Rifqi menjelaskan, sepanjang 2025, pihaknya telah merehabilitasi 10.101,6 meter drainase.

Selain itu, DSDABM juga telah membangun drainase baru sepanjang 1.606 meter, dari target 3.928 meter. “Total panjang drainase yang kini berfungsi optimal sudah mencapai 282.349 meter,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *