BI Kembangkan UMKM Daerah, Ulos dan Kopi Sumut Jadi Ternama

Posted on

Mitos dan Tradisi yang Menghidupkan Kehidupan

Dalam mitologi Batak Toba, bumi tercipta ketika dewi Si Boru Deak Parujar turun dari kahyangan menggunakan sehelai benang pintal tangan. Kini, benang yang sama ditenun menjadi ulos, kain tradisional yang hadir di setiap fase kehidupan masyarakat Batak, dari kelahiran hingga kematian. Bagi komunitas Batak, ulos menyimpan makna filosofis yang kuat, dan menjadi medium sakral yang tak bisa diukur semata dari harga.

Di tepi Danau Toba, tepatnya di Desa Lumban Suhi Suhi Toruan, Kabupaten Samosir, terhampar Kampung Ulos Huta Raja, sebuah sentra penenun ulos yang telah berdenyut sejak era kolonial. Di sana, dentuman alat tenun kayu telah menjadi irama harian, tak terkecuali bagi Monica Situmorang. Di usianya yang menginjak 22, ia mewakili generasi muda yang memilih melanjutkan tradisi. Monica telah belajar menenun sejak usia 12. Baginya, ulos bukan hanya warisan, melainkan jalan menuju kemandirian.

“Pendidikan saya, dari SMP sampai sekarang kuliah di UT (Universitas Terbuka), dibiayai seluruhnya dari ulos,” katanya. Menenun, tegasnya, adalah profesi yang menjanjikan.

Potensi Sumatera Utara yang Legendaris

Sumatera Utara memang menyimpan kekayaan yang legendaris. Selain ulos, tanah vulkaniknya yang subur melahirkan kopi-kopi terbaik Indonesia: Lintong, Mandailing, Sidikalang. Arabika yang tumbuh di ketinggian lebih dari 1.400 meter ini telah lama dikenal di pasar internasional karena cita rasanya yang kompleks dan khas.

Di lereng hijau Kabupaten Humbang Hasundutan, Manat Samosir berdiri di tengah kebun kopi yang menjadi kebanggaan sekaligus keprihatinannya. Tangannya menyentuh batang pohon kopi yang kulitnya sudah retak-retak. “Lihat ini, umurnya sudah 40 tahun, tapi dipaksa terus berproduksi. Ibarat lansia disuruh melahirkan,” kata Ketua Koperasi Lintong ini.

Pemberdayaan Bank Indonesia

Dua cerita berbeda itu memiliki satu benang merah: pemberdayaan Bank Indonesia (BI). Dalam lima tahun terakhir, bank sentral melakukan intervensi, dengan turun langsung memberdayakan UMKM di Sumatera Utara, dan mengubah produk lokal menjadi komoditas global.

Potensi wilayah Sumatera Utara ini besar. Namun, para UMKM lokal tertantang sejumlah persoalan, yakni rendahnya produktivitas, akses pasar yang terbatas, dan literasi digital.

Merajut Asa Ulos

Dari helai demi helai benang, Monica dan penenun ulos Huta Raja menenun lebih dari sekedar kain—mereka menenun harapan. Kantor Perwakilan BI (KPw BI) Sibolga terus hadir melakukan pendampingan untuk meningkatkan kualitas dan jangkauan UMKM yang lebih luas. Berkas pendampingan bank sentral, Monica tidak lagi berjualan secara tradisional. Setelah mendapat pelatihan marketing dan pengelolaan keuangan, misalnya, ia mampu memasarkan Ulosnya secara mandiri di ranah online.

Ia rata-rata menghasilkan Rp10 juta per bulan. Bahkan, penghasilan bulanannya dari menjual ulos karya sendiri sempat mencapai Rp21,5 juta per bulan. Harga ulos dijualnya mulai dari Rp1,2 juta hingga Rp11 juta.

Selain memberikan pelatihan digitalisasi, BI memberdayakan masyarakat penenun Huta Raja dengan membangun galeri. Fasilitas tersebut berfungsi sebagai tempat menampung hasil karya para penenun. “Dulu para penenun menjual ulosnya sendiri-sendiri. Sekarang melalui galeri. Produk mereka pasti laku,” kata Sekretaris Kampung Ulos Huta Raja, Frizer Sitanggang.

Galeri menerapkan sistem yang menawarkan kepastian. Penenun menerima pembayaran di muka untuk hasil karya mereka. Ini memberikan keuntungan bagi penenun untuk menjaga modal. Pada gilirannya, galeri menjual hasil karya penenun dengan mengambil margin yang wajar untuk menutupi biaya operasional.

Kepala Desa Lumban Suhi Suhi Toruan, Raja Sondang Simarmata, menyatakan dalam tiga bulan terakhir, omzet galeri penenun mencapai Rp300 juta. “Sangat terlihat perbedaannya sebelum dan sesudah kampung ini dibina oleh BI. Sekarang semuanya menjadi terukur,” ujar Raja.

Kebun Kopi dan Strategi BI

Di Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Renny Katrina Manurung, pemilik Galeri Dame Ulos, menjadi sosok yang merepresentasikan kisah sukses lain. Sarjana akuntansi itu memulai Dame Ulos pada 2014 dengan satu misi: menghidupkan kembali ulos yang selama ini kurang dihargai. Renny mengaku hanya bermodalkan Rp5 juta dan sepuluh kain untuk merintis Dame Ulos. Pada awal usahanya, ia menghadapi hambatan klasik yang kerap dialami pelaku UMKM: akses pasar yang terbatas. Masuknya dukungan BI pada 2019 menjadi titik balik.

“Sejak menjadi binaan BI pada 2019, omset tahunan kami berada di antara Rp500 juta hingga Rp1 miliar. Sekarang, di tahun 2025, kami telah mencapai Rp19 miliar,” katanya. BI menyediakan infrastruktur fisik yakni galeri dua lantai dan workshop pewarna alam. Fasilitas tersebut menjadi pusat untuk pameran, pariwisata, dan live streaming. Tapi dukungan yang paling krusial adalah fasilitasi digital.

“Kami menerima pelatihan digitalisasi. Saat itu, Dame Ulos tidak memiliki e-commerce, tidak ada website. Kami sepenuhnya konvensional,” ujarnya. Kini, 85% penjualan Dame Ulos berasa dari online, termasuk live shopping di platform seperti TikTok.

Strategi Bank Sentral

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sibolga, Riza Putera, menjelaskan bahwa pemberdayaan UMKM dan komoditas lokal merupakan strategi BI dalam mengembangkan ekonomi daerah. Dia menyebut, dari 16 kabupaten/kota di wilayah kerja BI Sibolga, hanya sekitar 16% yang berkontribusi signifikan terhadap perekonomian Sumatera Utara. “Kalau teman-teman di Jakarta menikmati kopi Mandailing atau Lintong, itu sebenarnya dari wilayah kerja kami,” ujarnya. BI melihat potensi besar dari komoditas strategis seperti kopi, ulos, keripik, dan dodol.

BI memiliki lima pilar pengembangan ekonomi daerah, yakni penguatan UMKM, pengembangan komoditas unggulan, pariwisata, ekonomi digital, dan pemasaran. Hingga kini, BI Sibolga telah membina lebih dari 50 UMKM dengan strategi multi-aspek: peningkatan kualitas, fasilitasi pemasaran melalui pameran, business matching, dan digitalisasi.

Untuk kopi, misalnya, pendekatan BI dimulai dari hulu dengan mempromosikan perbaikan praktik budidaya. Menurut Riza, dengan menerapkan Good Agricultural Practices (GAP), produktivitas kopi bisa meningkat dari 700 kilogram menjadi 1,5 ton per hektare. Bank sentral juga menyediakan bibit unggul kepada para petani. “Kami tidak hanya fokus pada branding, tetapi juga kualitas,” ujarnya.

Di sisi hilir, BI membantu melalui pelatihan mutu, pameran ekspor, hingga digitalisasi pemasaran. Hasilnya mulai terlihat: sejumlah UMKM kopi binaan telah menembus pasar internasional, termasuk di ajang Singapore Coffee Week 2025. Riza menambahkan transaksi digital di wilayah Sibolga tumbuh lebih dari 150% secara tahunan. “BI melihat bahwa pengembangan ekonomi daerah itu harus berakar dari potensi yang ada di daerah itu sendiri,” ujarnya.

Dari pohon kopi renta di lereng Sumatera hingga alat tenun tradisional di tepi Danau Toba, intervensi Bank Indonesia membuktikan bahwa pemberdayaan ekonomi daerah yang terstruktur bisa mengubah produk lokal menjadi komoditas global.