Berlayar Kano Karet ke Curug Nini di Alas Pitu, Baturraden

Posted on

Desa Seribu Curug, Baturraden

Baturraden dikenal dengan julukan “Desa Seribu Curug”. Lokasinya berada di lereng kaki Gunung Slamet sisi selatan. Kontur lekukan, batuan dan banyak jalur air dari sumber mata air di lereng gunung, membuat ia memiliki ciri khas alam desa lereng pegunungan. Memiliki banyak curug atau air terjun.

Beberapa curug telah dibuka menjadi lokasi wisata yang dikelola secara resmi. Pada curug-curug tersebut, telah dilengkapi fasilitas berupa jalur akses dan sarana publik.

Momen jalan-jalan kali ini, saya bersama sahabat, Mbak Nuni Munaris, warga asli Baturraden. Kami berencana melihat Curug Nini. Lokasinya berada di kawasan wisata Alas Pitu. Untuk menuju curug, nanti kami akan mendayung kano karet. Saya membayangkan, ini akan seru dan …. mungkin sedikit romantis.

Dari arah selatan, kediaman orang tua saya di Kota Purwokerto, menuju Baturraden arahnya lurus ke utara. Menumpang motor ojek online, saya menuju lokasi temu dengan Mbak Nuni. Jaraknya 10 Kilometer, sekitar 30 menit waktu perjalanan.

Setelah bertemu, kami berjalan menuju halte pemberhentian angkutan. Alternatif transportasi umum menuju Alas Pitu ada dua. Bus TransBanyumas dan mobil angkutan berwarna hijau.

“Mau naik yang mana?”

“Yang mana yang duluan tiba saja ya.”

Rupanya mobil angkutan berwarna hijau mendekat. Kami lanjut rute lurus arah utara sampai di Alas Pitu. Jarak sekitar 2,5 Kilometer ditempuh tak sampai 10 menit.

Di Kota Satria ini, mobil angkutan berwarna hijau tampil berbeda di antara mobil angkutan pada umumnya yang berwarna oranye. Mobil angkutan warna oranye, jumlahnya lebih banyak. Ia melayani rute dalam kota. Sementara mobil angkutan warna hijau khusus melayani rute Kota-Baturraden.

Uniknya, rute angkutan hijau bisa menyesuaikan permintaan penumpang. Seperti yang kami tumpangi, semula akan berbelok kiri di persimpangan sebelum Alas Pitu. Sesaat setelah kami naik, pengemudi bertanya tujuan dan segera membuat pengumuman kepada penumpang. Bahwa rute berubah. Angkutan akan mengantar kami terlebih dahulu ke Alas Pitu kemudian putar balik untuk lanjut menuju lokasi tujuan para penumpang. Ini karena rute kami ternyata lebih dekat di antara penumpang lain. Penumpang lain yang sudah duduk duluan adalah para simbah, membawa rinjing-rinjing berisi sayuran.

“Wah, pangapunten, nggeh, Mbah.” (Mohon maaf ya, Mbah)

Alas Pitu

Lokasi Alas Pitu berada di Jalan Raya Barat Baturraden Km. 12, Dusun Karangmangu, Kecamatan Baturaden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Alas Pitu merupakan area wisata baru. Konsep yang diusung adalah mini zoo atau kebun binatang kecil dengan beberapa wahana. Kolam renang, kolam ikan, taman bermain, miniatur rumah adat nasional, dan pertunjukan koboi.

Bagi pengunjung yang menyukai aktivitas alam, dapat menikmati fasilitas berupa: area camping, area outbond, dan mengunjungi beberapa curug.

Bila membawa kendaraan sendiri, tersedia area parkir yang luas. Tersedia musala di dekat area parkir juga di dalam wahana dengan area wudhu cukup nyaman bagi muslimah. Bagaimana dengan toilet? mudah ditemukan dan bersih.

Tempat wisata baru ini menawarkan tema rekreasi sekaligus edukasi yang cocok untuk family trip.

Saat masuk area Alas Pitu, saya teringat pada Batu Secret Zoo, Eco Green Park, Jatim Park yang pernah saya kunjungi saat berada di Batu, Malang. Yang di sini mungkin versi mininya ya. Yang jelas, wahana yang ada sedang diupayakan untuk tampil lebih apik.

Petugas terlihat di sana sini di banyak titik. Mereka sedang melakukan perawatan dan pengembangan area. Area kebun anggur dan area koboi sepertinya belum dibuka untuk kunjungan. Mungkin esok berbarengan dengan wahana baru lain.

Koleksi satwa seputar satwa lucu dan jinak. Pengunjung bisa berinteraksi mendekat dan bermain dengan satwa (satwa tertentu).

Pada area Alas Pitu ini, kontur alami tanah tidak seluruhnya datar. Secara lokasi, kalau bisa dikelompokkan, ada area landai (area bawah) dengan wahana mini zoo, taman, dan kolang renang anak. Sementara pada area lebih tinggi, terdapat wahana miniatur rumah adat, resto dan jalur menuju curug.

Jalur menuju curug memiliki kontur naik turun dengan beberapa titik trap tangga berbatu.

Curug Nini

Kami menuruni jalur berbatu. Mengikuti petunjuk, menuju Curug Nini. Seorang pemuda menyambut. Dari kaos seragam berkerah yang ia kenakan, kami bisa tahu bahwa ia adalah petugas area wisata.

Mendung tadi menggelayut saat kami tiba di lokasi. Dan sekarang, rasanya mereka semakin solid berkumpul di atas area wisata. Kami tahu, kami perlu bergegas.

Standar Operasional Procedur (SOP) atau standar keamanan operasional mengharuskan pengunjung yang ingin berkano, mengenakan jaket pelampung. Petugas juga menyarankan pada kami untuk meletakkan tas atau barang lain yang sekiranya bisa melambatkan pergerakan.

“Area telah dilengkapi kamera CCTV, di sana.” Ucap petugas sembari menunjuk ke suatu titik. Ya, kami melihatnya.

Teman-teman, pernah merasakan momen gerimis bisa bikin romantis? Pssstt… di sini, gerimis menambah aura mistis!

Jarak start mendayung dengan Curug Nini tidak terlampau jauh. Sekitar 150 meter. Namun dengan kemistisan yang semakin terasa, rasanya mau cepat-cepat saja.

Gelayut mendung seakan ingin segera turun. Kami menaiki kano karet dan mulai mendayung.

Setiap kayuhan menyibak air, rasanya waktu malah melambat. Semakin kano mendekati curug, rasanya semakin dag dig dug dengan pandangan siaga mengawasi aliran air.

Tetesan demi tetesan kami rasakan. Lengan dan bahu kami. Ini bukan cipratan dayung, ini dari atas. Ini tetes air hujan!

Melalui air yang masih jernih, saya melihat ikan-ikan kecil berwarna abu kehitaman. Mereka berenang cepat-cepat lalu masuk ke sela bebatuan. Geraknya seakan turut mengisyaratkan kepada kami bahwa kami tak boleh berlama-lama di sini.

Segera setelah sebentaran saja melihat Curug Nini, kami menarik dayung dan mengayuh lagi untuk menjauhkan posisi kano dari curug.

Cepat.. cepat.. cepat! Kami berupaya secepat mungkin kembali ke titik start dan bergegas naik menuju titik aman.

Curug-curug biasanya bertingkat pada jalur aliran air. Kami tidak tahu di aliran atas sana kondisinya seperti apa dan cuacanya bagaimana. Apakah langit masih terang atau sudah menurunkan rintik air. Bagaimana bila sudah terjadi hujan deras di atas sana?

Berkunjung ke curug memiliki risiko. Perlu berhati-hati dan perlu berhati-hati.

Meski banyak curug di Baturraden, yang sudah-sudah biasanya kami memilih rute seputar area sawah dan hutan pinus. Menyusuri galengan (pematang) sawah berkontur terasering atau ngadem sembari menghirup udara segar di antara pohon-pohon pinus yang menjulang.

Curug?? Hmmh.. ada pertimbangan tatkala memilih curug yang akan dikunjungi. Dari mulai pengenalan rute, kondisi jalur, musim, kepadatan pengunjung, waktu, dan apakah aman bila hanya berdua atau lebih aman bila pergi secara berkelompok.

Kondisi fisik diri juga menjadi perhatian. Kondisi tubuh prima dan kesiapan diperlukan untuk melalui jalur-jalur terjal.

Demikian juga dengan musim. Tracking relatif lebih aman dilakukan pada musim kemarau. Pada musim penghujan, risiko menjadi berlipat. Jalur terjal dan curam tentu akan sangat licin.

Cuaca bisa berubah tiba-tiba. Hal ini pernah kami alami. Yang semula cerah saat berangkat di pagi hari, menjelang siang, redup, kemudian hujan besar.

Lokasi manapun yang jadi tujuan, bagi kami yang utama adalah perjalanan menuju ke sana. Bisa menikmati keindahan ciptaan Sang Maha Agung, bersantai menikmati kesegaran alam, dan tentu, menikmati momen pertemuan yang hanya sebentaran.

Terima kasih, Teman-teman, telah berkenan singgah dan membaca tulisan.

Salam hangat.

Catatan perjalanan tgl 1 November 2025

Purwokerto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *