Sebuah Pemikiran dari Sisi Bencana
Dalam dua bulan terakhir, Indonesia seakan menjadi panggung derita yang tidak berhenti. Hujan deras, banjir, tanah longsor, hingga erupsi gunung api datang bergantian seperti gelombang yang tak memberi jeda. Dimulai dari banjir dan longsor di Bogor, longsor Cilacap, Banjarnegara, bencana banjir di Padang, longsor dan banjir bandang di Tapanuli Selatan pada 25 November yang membawa gelondongan kayu dan merenggut korban jiwa, disusul bencana di Sibolga dan Aceh yang menyebabkan kerugian hingga triliunan rupiah. Sementara itu, Gunung Semeru di Lumajang kembali erupsi, mengirimkan ancaman lahar dingin bagi desa-desa di sekitarnya.
Dalam periode pendek ini, kita seolah dipaksa untuk menyaksikan betapa rapuhnya tempat berpijak, betapa mudahnya kehidupan berubah dalam hitungan menit. Bencana ini bukan hanya merusak rumah dan merenggut nyawa—tetapi juga menghancurkan infrastruktur vital: jembatan putus, jalan provinsi rusak berat, ladang tertimbun lumpur, sawah hilang, jaringan listrik padam, dan aktivitas ekonomi lumpuh total. Komunitas-komunitas yang dahulu hidup dari pertanian kini kehilangan mata pencaharian; pedagang kecil terhenti aktivitasnya; transportasi barang dan orang terputus. Dan dari reruntuhan itu, bertambah lagi daftar saudara kita yang menderita.
Gambaran ini sangat mengingatkan saya pada narasi reflektif dalam karya Hujan di Atas Tanah Retak —bahwa tanah yang retak bukan hanya gambaran alam yang tersakiti, melainkan cermin dari jiwa manusia yang sedang diuji. Namun kali ini, “tanah retak” itu bukan metafora; ia adalah kenyataan: desa-desa yang terbelah, lereng gunung yang menganga, dan hati masyarakat yang tergores.
Dari Bogor Hingga Aceh: Rangkaian Bencana yang Membentuk Sebuah Peta Penderitaan
Bogor – Hulu DAS yang Terus Rusak
Banjir dan longsor kembali menerjang Bogor. Puluhan rumah rusak, akses transportasi rusak, dan beberapa jembatan rusak berat. Kawasan hulu yang seharusnya menjadi penyangga kini berubah menjadi kawasan pemukiman dan perkebunan tanpa kontrol. Setiap hujan deras menjadi ancaman.
Cilacap dan Banjarnegara – Longsor di Lereng Gundul
Longsor di Cilacap merenggut korban jiwa. Banjarnegara—daerah yang sudah lama dikenal rawan gerakan tanah—mengalami longsor besar yang menimbun rumah dan merusak jalan antar-desa. Lahan-lahan pertanian warga hilang seketika, meninggalkan petani tanpa sumber pendapatan.
Padang – Banjir Kota yang Melumpuhkan Ekonomi
Cuaca ekstrem di Padang menyebabkan banjir besar. Akses jalan kota lumpuh, ratusan rumah terendam, pasar tradisional terhenti, dan aktivitas ekonomi berhenti. Ongkos logistik meningkat, dan masyarakat menanggung dampak berlapis.
Tapanuli Selatan – Tragedi Gelondongan Kayu
Pada 25 November, banjir bandang menerjang Batang Toru dan beberapa kecamatan lainnya. Gelondongan kayu besar yang dibawa arus menjadi bukti telanjang pembalakan hutan besar-besaran di wilayah hulu. Puluhan rumah hancur, jembatan ambruk, dan banyak keluarga kehilangan segalanya: rumah, harta, bahkan keluarga.
Sibolga dan Aceh – Kerugian Triliunan Rupiah
Banjir dan tanah longsor terjadi serentak di beberapa wilayah Aceh. Ribuan rumah rusak, beberapa jembangan dan jalan nasional putus, dan total kerugian menurut BPBD Aceh mencapai triliunan rupiah. Infrastruktur publik yang rusak membuat bantuan tidak mudah masuk. Ribuan warga mengungsi tanpa kepastian kapan dapat kembali.
Bencana Hidrometeorologi: Ketika Alam Tidak Lagi Menjadi Sahabat
BNPB melaporkan bahwa 90–95% bencana yang terjadi setahun terakhir adalah bencana hidrometeorologi: banjir, longsor, angin kencang, dan cuaca ekstrem. Namun yang jarang dibicarakan adalah bahwa bencana ini sebetulnya bukan semata fenomena alam, tetapi buah dari kerusakan ekologis yang dilakukan manusia.
Faktor penyebabnya jelas dan terus berulang:
- Deforestasi yang tak terkendali
Hutan yang seharusnya menyerap air ditebang. Tanah kehilangan penyangga, air meluap menjadi banjir dan longsor. - Tambang liar dan legal yang tidak patuh
Lubang-lubang tambang di Jawa Barat, Sumatera, dan Kalimantan mempercepat kerentanan tanah. Sedimentasi sungai meningkat, kapasitas sungai menurun. - Pembalakan liar yang merajalela
Tragedi Tapanuli menjadi bukti: gelondongan kayu hanyalah puncak dari gunung es kejahatan ekologis. - Tata ruang yang diabaikan
Pembangunan perumahan dan vila di lereng curam, sempadan sungai, serta ruang terbuka hijau yang semakin sempit. - Korupsi dan lemahnya penegakan hukum
Izin sesuai kepentingan, bukan sesuai kajian. Pengawasan lemah. Tidak ada efek jera bagi pelanggar. - Krisis iklim global
Curah hujan ekstrem meningkat di seluruh Indonesia, memperparah dampak bencana lokal.
Bencana alam menjadi “bencana sosial” ketika perilaku manusia memperbesar kerentanannya.
Infrastruktur Hancur: Ketika Bencana Melumpuhkan Ekonomi dan Kehidupan
Kerusakan infrastruktur adalah dampak paling serius dan jangka panjang dari bencana bulan-bulan terakhir ini. Menurut laporan BPBD dan pemberitaan media arus utama:
- Lebih dari 50 jembatan di wilayah terdampak mengalami kerusakan, beberapa hancur total.
- Ratusan kilometer jalan desa dan jalan provinsi rusak, membuat logistik terputus.
- Lahan pertanian hilang atau tertimbun, mengancam ketahanan pangan lokal.
- Sekolah, masjid, dan puskesmas rusak, memutus layanan dasar masyarakat.
- Aktivitas ekonomi terhenti, membuat ribuan keluarga kehilangan pendapatan harian.
Bencana ini bukan hanya menimbulkan penderitaan fisik, tetapi juga menjerumuskan masyarakat miskin ke dalam kemiskinan yang lebih dalam. Mereka sudah kehilangan rumah, kemudian kehilangan pekerjaan. Pemulihan infrastruktur membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Kita sering menjumpai kalimat ini di lokasi bencana: “Pak, saya bukan takut rumah saya hilang, tapi bagaimana saya hidup setelah ini?” Pertanyaan itu adalah luka yang lebih dalam daripada air bah yang merendam desa-desa.
Ketika Negara Luka, Kita Harus Saling Menyembuhkan
Dalam sebuah karya yang berjudul Hujan di Atas Tanah Retak halaman-halaman awalnya menggambarkan tanah retak sebagai tempat air hujan masuk dan menyuburkan—sebuah metafora bahwa setiap retakan adalah awal dari pertumbuhan. Namun di lapangan bencana, saya menyaksikan retakan itu dalam bentuk nyata.
Saya melihat:
- Ibu-ibu yang memeluk pakaian basah sambil menangis.
- Anak-anak mencari sandal mereka di lumpur.
- Petani yang berdiri tak berdaya melihat ladangnya hilang.
- Nelayan yang kapalnya terseret banjir.
Dalam setiap wajah, saya melihat tanah retak yang menunggu disembuhkan—bukan hanya oleh bantuan materi, tetapi oleh empati, kebersamaan, dan kehadiran kita.
Sebagai Pimpinan BAZNAS Provinsi Sulawesi Utara, meganjak bersama seluruh LAZ di Indonesia, ayo lakukan penggalanngan dana untuk:
* menyediakan makanan siap saji,
* membuka dapur umum,
* memberikan selimut, tenda, obat-obatan,
* menyuplai air bersih,
* membantu rekonstruksi awal rumah,
* memberi dukungan psikososial pada anak-anak,
* serta merancang pemulihan ekonomi umat.
Ayo Baznas dan LAZ bersatu hadir untuk membantu Aceh hingga Tapanuli, dari Padang hingga Bogor, dari desa terdalam hingga kota yang porak-poranda. Namun, kami menyadari: bantuan saja tidak cukup.
Bencana berlangsung dalam hitungan hari, tetapi pemulihannya berlangsung bertahun-tahun.
Kapan Kita Akan Mengobati Hulu, Bukan Sekadar Menjaga Hilir?
Masalah terbesar dalam penanganan bencana adalah sifatnya yang reaktif, bukan preventif.
Kita membagikan sembako, tetapi hutan terus ditebang.
Kita membangun tenda, tetapi tata ruang terus dilanggar.
Kita mengumpulkan donasi, tetapi izin tambang terus keluar.
Kita bersedih, tetapi praktik korupsi ekologis tetap berjalan.
Seolah-olah kita menimba air dari kapal bocor tanpa pernah memperbaiki lubangnya.
Karena itu kita membutuhkan perubahan besar:
- Penegakan hukum lingkungan TANPA kompromi. Pelaku pembalakan dan tambang ilegal harus ditindak tegas.
- Audit tata ruang secara menyeluruh. Banyak daerah membangun di kawasan yang seharusnya menjadi penyangga.
- Rehabilitasi hutan berskala nasional. Reboisasi harus melibatkan masyarakat adat, petani hutan, dan pesantren.
- Integrasi mitigasi bencana dengan filantropi Islam. Zakat, infak, dan sedekah dapat diarahkan untuk program ketahanan masyarakat.
- Pendidikan kebencanaan sejak usia dini. Buku-buku edukasi bencana seperti yang ditulis dari pengalaman relawan perlu masuk sekolah.
Tanpa langkah-langkah ini, kita akan terus mengulang luka yang sama setiap tahun.
Penutup: Saat Hujan Turun di Atas Tanah Bangsa yang Retak
Dari rangkaian bencana ini, satu pelajaran penting terpahat:
Alam telah berbicara. Pertanyaannya, apakah kita mau mendengarkan? Tanah Indonesia sedang retak. Bukan hanya karena air, tetapi karena kesalahan manusia.
Namun saya percaya, seperti pesan dalam buku Hujan di Atas Tanah Retak : “retakan bukan akhir, tetapi awal dari kehidupan baru—asal kita mampu menerimanya sebagai panggilan untuk berubah.”
Sebagai bangsa, kita harus memulihkan diri.
Sebagai pemerintah, harus berani menindak kejahatan ekologis.
Sebagai masyarakat sipil, harus saling menguatkan.
Sebagai lembaga filantropi, kami akan terus hadir mengurangi derita warga.
Dan sebagai hamba Allah, kita harus merenung bahwa setiap bencana adalah ayat-Nya.
Semoga hujan yang turun di atas tanah bangsa kita yang retak hari ini
bukan menjadi banjir derita,
tetapi menjadi rahmat
yang mengajarkan kita menjadi bangsa yang lebih bijaksana, lebih jujur, dan lebih merawat alam. Aamiin.***
