Bencana Banjir Bandang di Wilayah Sumatra: Kekacauan dan Dampak Lingkungan
Warga di sebagian wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat menghadapi bencana yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Air bah tumpah ruah seolah tanpa ampun menerjang apa saja. Rumah, pohon, perkantoran, jembatan, hewan ternak hingga manusia hanyut. Korban jiwa pun berjatuhan. Ratusan orang meninggal.
Aceh, Sumut, dan Sumbar adalah wilayah paling parah terdampak bencana imbas tingginya intensitas hujan di kawasan Sumatra bagian tengah dan utara selama sepekan terakhir. Kerusakan lingkungan akibat pembalakan liar turut memperparah eskalasi bencana banjir bandang dan tanah longsor.
Di Aceh misalnya, banjir merendam rumah dan merusak infrastruktur. Di Sumatra Utara, sampah ranting dan batang kayu bekas tebangan pohon di hutan memenuhi sungai Batang Toru. Sementara di Sumatra Barat, kayu-kayu yang hanyut menutup muara sungai, menghambat air menuju lautan.
Banjir besar di pesisir barat Sumatra juga mengakibatkan akses ke fasilitas publik terputus. Sebagian warga setempat terisolasi. Tidak bisa berkomunikasi dengan keluarga. Warga yang tinggal di rantau, risau dengan keselamatan orang-orang terdekatnya.
“Jam 22.00 WIB [Selasa, 25/11/2025] adikku video call banjir sudah sepinggang orang dewasa. Posisiku di sini [Medan] langsung panik, langsung video call ternyata kondisi lampu sudah mati di jam 22.30 WIB, air sudah sedada,” kata Hasnan Pasaribu (24) kepada Bisnis, Minggu (30/11/2025).
Hasnan berasal dari Kecamatan Pandan, Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatra Utara. Dia tinggal di Medan saat ini. Hasnan mengaku kesulitan menghubungi keluarganya sejak bencana banjir bandang menerjang. Semua akses terputus. Listrik tidak ada. Jaringan internet mati. Saluran komunikasi-pun ikut terhambat.
Banjir bagi Hasnan sejatinya bukan hal baru. Setiap musim hujan tiba, wilayah sekitar rumahnya selalu tergenang air. Biasanya luapan air hanya setinggi betis orang dewasa, itupun di luar rumah. Namun bencana banjir kali ini memang di luar perkiraan. Ketinggian air di dalam rumahnya hampir sedada. Belum lagi, ketiadaan aliran listrik dan belum pulihnya jaringan komunikasi, membuatnya khawatir terhadap nasib keluarganya.
“Di Tapteng tidak sempat terhubung. Waktu itu di Sibolga masih bisa sampai pukul 00.00 WIB. Masih terhubung internet. Tapi kalau di Pandan Tapteng, sudah tidak bisa. Listrik sudah mati dan jaringan internet sudah terputus,” imbuhnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa tingginya intensitas hujan di Sumatea bagian utara bermula dari munculnya Bibit Siklon 95B di kawasan Selat Malaka, bagian timur Aceh. Bibit Siklon 95B itu kemudian berevolusi menjadi Siklon Tropis Senyar per 26 November 2025 pukul 07.00 WIB. BMKG menyebut siklon itu merupakan fenomena alam yang tak umum.
Situasi itu semakin pelik, karena tingginya alih fungsi lahan massif di Aceh, Sumut dan Sumbar. Banjir bandang dan tanah longsor tidak lagi bisa tertahan. Air bah membawa material padat sampai ke laut. Di Padang saja, pemerintah setempat mencatat ada sekitar 3.327 ton kayu gelondongan terbawa banjir bandang.
Nazwar, warga Padang, Sumatra Barat (Sumbar), adalah saksi mata betapa dashyatnya amukan air yang menerjang kawasan Batu Busuak. Dia tidak pernah membayangkan peristiwa itu terjadi di depan matanya. Dia mengaku baru pertama kali mengalami bencana seperti itu seumur hidupnya.
Dia bercerita pada gelombang pertama Selasa (25/11/2025), air bah sudah datang tetapi intensitasnya rendah. Warga memang mulai dievakuasi dan diungsikan ke posko bencana. Namun itu tidak bertahan lama. Banyak warga yang memilih untuk kembali ke rumah, karena merasa kondisi telah aman.
“Air naik dan mengalir deras ke pemukiman warga, rumah ikut terendam, tapi tidak terlalu tinggi. Di hari itu, kami sudah dievakuasi oleh BPBD,” ujar Nazwar warga Padang, Sumatra Barat, Sabtu (29/11/2025).
Rupanya perkiraan warga salah. Pada Kamis (27/11) malam sekitar pukul 23.00 WIB, banjir bandang susulan terjadi. Arus dan skalanya sangat kuat. Volume air lebih banyak. Air sekonyong-konyong datang dalam jumlah besar dan menerjang apapun. Luapannya tidak hanya menimpa warga di Batu Busuak, tetapi kampung lainnya ikut terdampak.
Fasilitas publik terendam, jembatan terputus atau lenyap. Jalur Bypass Padang arah kampus Universitas Andalas (Unand) yang awalnya dianggap aman tidak luput dari amukan air bah. Lumpur material banjir menumpuk di badan jalan. Kayu, batang pohon, hingga batu berbagai ukuran berserakan.
Derasnya banjir bandang juga merusak banyak rumah dan bangunan. Kondisi paling parah terjadi di Batu Busuak. Sebelum peristiwa nahas itu terjadi, rumah hingga pertokoan berjajar mengikuti alur sungai. Sekarang, semuanya lenyap dihempas kuatnya arus banjir bandang. Jumlah yang terdampak ratusan.
“Bangunan-bangunan itu lenyap, dan aliran sungai kini terlihat lebih luas, dari satu jalur aliran air sungai, sekarang menjadi dua aliran,” katanya.
Laju Deforestasi di Sumatra Tiada Henti
Isu tentang kerusakan alam dan alih fungsi lahan langsung mencuat begitu banjir bandang besar menerjang Sumatra. Hutan di Sumatra yang dulu lebat, secara sporadis telah beralih fungsi menjadi perkebunan sawit, tambang hingga dibabat oleh pembalak liar.
Akibatnya, ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi, lahan-lahan yang dulunya ditumbuhi tanaman keras itu tidak mampu menampung debit air. Luapan air tidak terelakkan membawa ranting hingga gelondongan kayu berukuran besar dan berbagai material lain yang dilaluinya.
Wahana Lingkungan Hidup alias Walhi Sumatra Utara menuding pembukaan lahan untuk areal pertambangan menjadi salah satu penyebab bencana besar itu terjadi. Citra satelit terbaru pada 2025 turut memperlihatkan pembukaan hutan di areal harangan Tapanuli, tepatnya di kecamatan Batang Toru Tapanuli Selatan dengan skala yang masif.
Data Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menunjukkan, selama tahun 2017-2022, pemerintah telah melepas kawasan hutan untuk serve dan eksplorasi tambang seluas 197.891,69 hektare di wilayah Sumatra Utara. Sementara di Aceh dan Sumbar masing-masing seluas 67.026,68 hektare dan 4.720,33 hektare pada periode yang sama.
Wilayah Sumatra yang paling agresif melepas kawasan hutan untuk aktivitas pertambangan adalah Riau. Total kawasan hutan yang dilepas untuk kepentingan tersebut mencapai 446.083,53 hektare pada periode 2017-2022.
Bisnis, juga telah melacak data-data terkait laju deforestasi di 4 provinsi yakni Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Riau. Riau memang tidak terdampak langsung banjir, tetapi laju deforestasi di provinsi ini termasuk yang paling tinggi.
Data Kementerian Kehutanan pada tahun 2024, Riau adalah wilayah dengan tingkat deforestasi netto yang paling luas di Sumatra dengan total 29.702 hektare. Angka ini jauh lebih luas dibandingkan dengan seluruh daerah di Indonesia, kalau merujuk data tersebut.
Sementara itu, deforestasi di Aceh tercatat seluas 11.208,5 hektare. Sumatara Barat (Sumbar) dan Sumatra Utara (Sumut) masing-masing seluas 6.634,2 hektare dan 7.036,4 hektare.
Tentu saja, angka ini bisa jauh lebih luas jika menggunakan data-data yang dipublikasikan oleh lembaga-lembaga independen seperti non government organization alias LSM.
Apakah Karena Pembukaan Lahan Sawit?
Aceh, Sumut, Sumbar, dan Riau adalah empat provinsi yang kaya sumber daya alam. Tidak hanya tambang, kawasan perkebunan, terutama sawit, menghampar luas mulai menggantikan hutan-hutan primer yang ditumbuhi oleh kayu-kayu raksasa. Kalau digabungkan luas lahan sawit di kawasan itu mencapai jutaan hektare.
Data Kementerian Pertanian, setidaknya menunjukkan bahwa Riau dan Sumatra Utara masuk dalam 5 provinsi yang memiliki luas perkebunan sawit terluas di Indonesia. Riau menempati peringkat pertama dengan cakupan luas areal perkebunan sawit sebesar 3,37 juta hektare. Jumah itu setara dengan 37,8% dari luas provinsi Riau yang mencapai 8,91 juta hektare.
Sementara jika mengacu kepada data Badan Pusat Statistik (BPS), luas areal perkebunan sawit di Provinsi Riau mencapai 3,4 juta hektare atau setara 38,% dari luas provinsi Riau. Sumatra Utara sebanyak 1,57 juta hektare atau mencapai 21,5% dari luas provinsi sebesar 7,29 juta hektare.
BPS Sumatra Utara mencatat bahwa Tapanuli Tengah alias Tapteng menjadi kabupaten yang mengalami pertumbuhan lahan sawit secara ekponensial. Wilayah ini adalah salah satu kabupaten yang mengalami imbas paling parah akibat bencana banjir yang terjadi pekan lalu.
Pertumbuhan perkebunan sawit di Kabupaten Tapanuli Tengah dari tahun 2021-2024 bahkan mencapai 369,2%. Sekadar ilustrasi, pada tahun 2021 luas areal yang ditanami sawit hanya di kisaran 3.640 hektare. Sementara itu, pada tahun 2024, luas perkebunan sawit telah menembus sekitar angka 17.080 hektare.


