JAKARTA, PasarModern.com—
Di ruang pertemuan kantor pusat PT Sepatu Bata Tbk atau Bata Indonesia di Jakarta Selatan, Panos Mytaros duduk dengan ekspresi hangat nan tegas.
Kunjungan perdananya sebagai Global Chief Executive Officer (CEO) Bata Group bukan sekadar pertemuan formal. Ia datang dengan semangat yang jelas bahwa Bata tengah memasuki babak baru yang lebih modern, lebih fokus, dan lebih dekat dengan konsumen Indonesia.
“Bata selalu terkait dengan orang Indonesia sebagai perusahaan sepatu. Banyak anak tumbuh bersama Bata. Kami bahkan sering berkata, ‘pertama ke Bata dulu, baru pergi ke sekolah’,” katanya membuka sesi wawancara eksklusif bersama PasarModern.com, Rabu (26/11/2025).
Baginya, hubungan Bata dengan Indonesia bukan hanya nostalgia selama lebih dari 90 tahun, melainkan fondasi kuat untuk tumbuh lebih besar.
Warisan sejarah kuat
Berdiri sejak 1931, Bata menjadi salah satu pemain besar di industri ritel alas kaki Indonesia.
Laporan Tahunan dan Laporan Keberlanjutan Bata Indonesia 2024 mencatat, hingga akhir 2024, Bata mengoperasikan 242 toko aktif di seluruh Indonesia. Jaringan ini tetap kuat meski telah melalui restrukturisasi besar pada periode tersebut.
Dengan posisi tersebut, Panos mengatakan, Indonesia menjadi salah satu pasar paling penting bagi Bata.
“Bata juga akan (tetap) menjadi bagian penting bagi Indonesia karena kami ingin kembali menjangkau konsumen yang selama ini kami punya dan menambah lebih banyak lagi,” ungkapnya.
Jalan terjal demi mendukung pertumbuhan jangka panjang
Bata melalui 2024 dengan banyak perubahan besar. Diberitakan PasarModern.com, Kamis (9/10/2025), Bata resmi menghapuskan kegiatan usaha industri alas kaki untuk kebutuhan sehari-hari sesuai keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang digelar pada 25 September 2025.
Bata sendiri telah lebih dulu menutup operasional pabrik sepatunya di Purwakarta, Jawa Barat, sejak Selasa (30/4/2024).
Panos mengatakan, keputusan itu tidak mudah bagi perusahaan sekelas Bata.
“Menutup pabrik itu selalu menyakitkan. Akan tetapi (langkah) itu diperlukan (perusahaan), karena berkaitan dengan kemampuan yang kami miliki dan fokus kami sebagai Bata,” tuturnya.
Laporan tahunan menjelaskan sejumlah alasan dibalik keputusan tersebut, yaitu permintaan terhadap jenis produk yang dibuat pabrik terus menurun, kapasitas produksi pabrik jauh melebihi kebutuhan yang bisa diperoleh secara berkelanjutan dari pemasok lokal di Indonesia, serta model produksi lebih efisien jika dialihkan ke pemasok lokal.
Bata juga menutup atau berencana menutup lebih dari 200 toko merugi pada 2024 sebagai bagian dari perbaikan jaringan retail nasional. Restrukturisasi ini adalah bagian dari biaya restrukturisasi sebesar Rp 124,08 miliar pada 2024.
Namun, Panos menegaskan bahwa transformasi itu bukan kemunduran, melainkan strategi untuk memperkuat Bata ke depan.
“Walaupun kami tidak punya pabrik sendiri, kami akan lebih banyak bekerja sama dengan pabrik di Indonesia. Sepatu Bata tetap akan dibuat di Indonesia,” tegasnya.
Terbukti, produksi sepatu hingga Mei 2024 mencapai 447.902 pasang. Hal ini menunjukkan bahwa rantai produksi tetap berjalan kuat melalui mitra lokal.
Transformasi besar pada 2024 membawa perbaikan angka. Laporan tahunan mencatat penjualan bersih Bata pada 2024 mencapai Rp 459,98 miliar dengan laba bruto Rp 197,15 miliar. Sementara itu, kerugian tahun berjalan membaik dari rugi Rp 190,56 miliar pada 2023 menjadi rugi Rp 148,17 miliar pada 2024.
Pertahankan konsep “Democratic Design”
Di tengah banyaknya brand internasional masuk ke Indonesia, Panos menyebut satu hal yang tidak berubah dari DNA Bata adalah “Democratic Design”.
“Bata selalu memiliki desain yang bagus. Kami menyebutnya democratic design shoe atau sepatu dengan desain baik yang tersedia untuk semua orang,” jelasnya.
Posisi Bata tergolong unik karena Bata bukan merek super-elit, tetapi bukan juga mass-market tanpa arah. Bata memposisikan dirinya di tengah agar tetap terjangkau, berkualitas, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat luas.
Namun, Panos mengakui bahwa kurasi produk yang dihadirkan perlu diperbaiki.
“Kalau kamu menawarkan terlalu banyak, sebenarnya kamu tidak menawarkan apa-apa di saat yang sama,” katanya.
Oleh karena itu, Bata berencana menyederhanakan lini produk sehingga konsumen langsung paham siapa Bata dan sepatu apa yang menjadi kekuatan utamanya.
Menghidupkan kembali ikon untuk generasi baru
Sejarah lebih dari 90 tahun Bata di Indonesia menyimpan banyak model ikonik, termasuk sepatu-sepatu yang familiar bagi banyak keluarga. Sayangnya, ikon-ikon itu kini tidak lagi terlihat di pasaran.
“Kami ingin membawa kembali beberapa ikon kami. Akan tetapi, bukan kami hadirkan kembali begitu saja. Ikon itu harus kami modernisasi agar relevan bagi konsumen hari ini,” ujar Panos.
Pendekatan “heritage meets modern” tersebut akan menjadi salah satu strategi utama Bata ke depan.
Bata, kata Panos, ingin menghidupkan identitas lama yang disukai generasi sebelumnya, tetapi dihadirkan dengan desain yang sesuai selera generasi baru.
Modernisasi toko
Transformasi tidak hanya terjadi pada produk, tetapi juga pada retail experience. Laporan Tahunan 2024 menyebut bahwa seluruh toko Bata kini mengadopsi konsep modern-minimalis Red 2.0.
Namun, bagi Panos, esensi modernisasi toko bukan sekadar tampil fashionable.
“Bagi saya yang penting adalah membuat belanja lebih mudah dengan cara yang sangat sederhana,” ungkapnya.
Ia membayangkan toko Bata sebagai ruang yang tidak berantakan, produk yang terkurasi jelas, dapat memandu konsumen tanpa membuat mereka bingung, serta menampilkan fokus utama pada produk.
“Kami akan menaruh usaha lebih besar pada produk dan membimbing konsumen ke produk itu, product first,” katanya.
Laporan tahunan 2024 juga menunjukkan penguatan digital Bata secara signifikan, mulai dari integrasi pembayaran digital (Gopay, ShopeePay, OctoPay, Visa Contactless), kolaborasi dengan key opinion leader (KOL), serta penguatan Bata Club sebagai program loyalitas.
Upaya itu sejalan dengan visi Panos untuk membawa Bata lebih dekat ke generasi muda Indonesia. Apalagi, generasi ini berbelanja secara omnichannel dan peka terhadap brand yang punya nilai jelas.
Keberlanjutan bukan kampanye, tetapi kebiasaan sehari-hari
Panos menilai, generasi muda juga punya kepekaan terkait asal-usul produk. Menurutnya, konsumen masa kini memperhatikan bagaimana sepatu dibuat, mulai dari aspek keberlanjutan (sustainability), lokasi pembuatan produk, hingga siapa yang mengerjakannya.
Bata Indonesia sendiri telah melakukan sejumlah langkah keberlanjutan nyata, seperti optimalisasi konsumsi energi, efisiensi rantai pasok, penggunaan teknologi hemat energi, dan tata kelola material yang lebih baik.
“Sustainability bukan sesuatu yang kamu pasarkan. Sustainability adalah sesuatu yang kamu jalani dan kamu wujudkan setiap hari,” tegasnya.
Menjadi lebih relevan
Upaya modernisasi Bata, mulai dari kurasi produk, perbaikan toko, hingga penguatan kanal digital, pada akhirnya kembali pada satu tujuan, yakni menjawab kebutuhan konsumen Indonesia hari ini.
Setelah melewati masa restrukturisasi, Bata ingin memastikan bahwa setiap langkah transformasi benar-benar berangkat dari pemahaman terhadap perilaku dan ekspektasi masyarakat Indonesia yang terus berkembang.
Di sinilah Panos melihat kekuatan besar yang dimiliki Bata selama puluhan tahun di Indonesia, yaitu hubungan emosional yang terbangun secara alami dengan konsumennya.
“Konsumen Indonesia sangat loyal. Jauh lebih loyal jika dibandingkan banyak konsumen lain di dunia,” kata Panos.
Namun, ia mengingatkan bahwa loyalitas bukan sesuatu yang bisa dianggap pasti.
“Kami harus relevan untuk konsumen hari ini, lebih terhubung dengan audiens muda, dan membawa mereka kembali masuk ke Bata,” tuturnya.
Upaya untuk kembali relevan di mata konsumen tidak bisa berdiri sendiri. Menurut Panos, transformasi Bata hanya bisa berjalan jika dukungan internal juga kuat dan keyakinan dari orang-orang yang bekerja di baliknya.
“Setelah Covid, keyakinan itu selalu turun. Padahal, kepercayaan internal itu sangat penting,” katanya.
Maka dari itu, Panos ingin seluruh tim melihat arah baru Bata sebagai momentum untuk bangkit bersama.
“Kami akan membutuhkan lebih banyak karyawan untuk berkembang dan menjadi lebih kuat di Indonesia,” katanya.
Arah baru yang lebih berani
Dengan fondasi internal yang diperkuat dan strategi baru yang mulai berjalan, Panos memandang masa depan Bata di Indonesia dengan keyakinan yang besar.
Baginya, transformasi yang sedang dilakukan tidak hanya soal restrukturisasi, modernisasi produk, atau pembaruan toko, tetapi juga membangun hubungan yang lebih bermakna dengan konsumen.
“Saya berharap ketika datang lagi ke sini, saya bisa merasa bangga terhadap Bata. Bangga melihat Bata tersedia untuk konsumen yang lebih luas, melihat pelanggan datang ke Bata dan bisa merasakan mereka menyukainya,” harapnya.
Ia juga menginginkan pertumbuhan yang tidak hanya tecermin dalam penjualan atau jumlah toko, tetapi juga dalam cara masyarakat Indonesia memaknai kehadiran Bata setelah lebih dari 90 tahun berada di tengah mereka.
“Saya ingin Bata berarti sesuatu bagi Indonesia serta berkata, ‘Saya tumbuh bersama Bata. Bata adalah perusahaan lokal sekaligus global dan Bata mengerti saya’,” katanya.
Panos melihat Indonesia bukan sekadar pasar besar, melainkan rumah penting bagi perjalanan panjang Bata.
Dengan arah baru, strategi yang lebih fokus, dan loyalitas konsumen yang kuat, ia yakin Bata akan kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia untuk waktu yang lama.


