Bandara Tutup, Warga Sanur Terjebak di Dubai, Adi Rindu Nasi Babi Guling

Posted on

Perang di Timur Tengah Mempengaruhi Kondisi Penerbangan dan Pariwisata Bali

Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran telah memicu ketidakstabilan global, termasuk gangguan keamanan dan pembatalan penerbangan di beberapa wilayah. Hal ini berdampak langsung pada situasi di Bali, khususnya bagi warga yang terjebak di luar negeri dan pelaku pariwisata.

Warga Bali Terjebak di Dubai Akibat Pembatalan Penerbangan

Adi Darmadi, seorang warga Bali asal Sanur, Kota Denpasar, kini terjebak di Dubai setelah perjalanan liburannya terganggu akibat konflik tersebut. Adi rencananya hanya akan berlibur selama satu minggu, namun situasi memaksanya untuk segera pulang. Sayangnya, bandara Dubai masih ditutup, sehingga ia belum bisa kembali ke Bali.

“Kemarin dapat informasi kalau maskapai Emirates akan melanjutkan jadwal penerbangan mereka kemarin, Senin 2 Maret pukul 15.00. Tetapi belum ada konfirmasi dari pihak Bandara Dubai,” kata Adi kepada Tribun Bali, Selasa 3 Maret 2026.

Ia mengungkapkan rasa khawatir terhadap keselamatan dirinya jika pesawat terbang dalam kondisi perang. Meski situasi di Dubai saat ini masih relatif aman, Adi tetap merasa cemas dan berharap agar bandara segera dibuka agar ia bisa kembali ke Bali.

Pekerja Migran Indonesia di Wilayah Timur Tengah

Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Provinsi Bali menyatakan bahwa hingga saat ini belum ditemukan Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Bali yang bekerja di Iran. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2025, sebanyak 2.490 PMI asal Bali bekerja di kawasan Timur Tengah, sementara pada 2026 hingga Februari tercatat 187 orang. Namun, tidak ada penempatan PMI asal Bali ke Iran.

Pemerintah Provinsi Bali terus melakukan koordinasi dengan BP3MI dan dinas tenaga kerja kabupaten/kota untuk memastikan keamanan dan perlindungan PMI yang bekerja di negara-negara terdampak. Saat ini, belum ada laporan resmi tentang PMI asal Bali yang terkena dampak konflik.

Dampak Konflik pada Pariwisata Bali

Konflik militer di Timur Tengah juga mulai berdampak pada pariwisata Bali. Banyak penerbangan menuju kawasan tersebut dibatalkan atau tertunda, termasuk penerbangan dari Eropa dan Timur Tengah ke Bali. Hal ini menyebabkan penurunan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bali.

Ketua Bali Villa Rental and Management Association (BVRMA), I Kadek Adnyana, menyatakan bahwa sejak perang berlangsung, telah terjadi pembatalan sekitar 20-30 persen dari anggota organisasi tersebut. Pembatalan ini dipicu oleh penutupan jalur penerbangan di sejumlah negara akibat konflik.

Wakil Ketua PHRI Bali, I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya, mengungkapkan bahwa pariwisata Bali sangat bergantung pada penerbangan internasional, terutama dari Eropa dan Timur Tengah. Dengan adanya pembatalan penerbangan, kunjungan wisatawan diprediksi akan turun drastis.

Pengamat Pariwisata dari Universitas Warmadewa, Dr. I Made Suniastha Amerta, menyatakan bahwa dampak langsung dari konflik adalah terbatasnya konektivitas penerbangan. Jika konflik berlanjut, potensi penyusutan jumlah wisatawan mencapai 10-30 persen. Hal ini akan berdampak pada ekonomi Bali yang sangat bergantung pada pariwisata.

Persiapan untuk Menghadapi Krisis Global

Anggota Komite III DPD RI, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, menyarankan pemerintah pusat dan daerah membentuk satuan tugas (satgas) pelayanan untuk masyarakat yang terdampak. Ini penting agar wisatawan yang belum bisa kembali tetap mendapat informasi dan pelayanan yang jelas.

Selain itu, semua komponen pariwisata di Bali diminta bersiap menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk pemulihan kondisi keamanan dan perlindungan PMI asal Bali yang bekerja di kawasan Timur Tengah.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *