Bacaan Liturgi Hari Rabu, 26 November 2025
Pada hari Rabu, 26 November 2025, umat Katolik akan merayakan Pesta Fakultatif Santo Yohanes Berchmans, Pengaku Iman. Selain itu, hari ini juga merupakan hari biasa pekan XXXIV tahun C dengan warna liturgi hijau. Bacaan-bacaan liturgi yang disiapkan untuk hari ini mencakup beberapa kitab suci yang penting.
Bacaan Hari Rabu
Bacaan-bacaan liturgi untuk hari Rabu meliputi:
– Daniel 5:1-6,13-14,16-17,23-28
– Mazmur Tanggapan (Dan. 3:62,63,64,65,66,67)
– Lukas 21:12-19
– Bacaan Khotbah Orisinal (Yeh. 37:15-28)
Bacaan Pertama: Daniel 5
Bagian pertama dari bacaan liturgi hari ini mengisahkan kisah Raja Belsyazar dan kejadian misterius di istananya. Dalam perjamuan besar yang diadakan oleh raja, para pembesarnya, dan seribu orang lainnya, mereka minum anggur dari perkakas yang berasal dari Bait Suci Yerusalem. Di tengah kemabukan, tiba-tiba muncul jari-jari tangan manusia yang menulis di dinding istana. Peristiwa ini membuat raja menjadi pucat dan takut.
Raja memanggil Daniel, seorang bijak yang terkenal dengan kecerdasannya. Daniel memberikan makna dari tulisan yang muncul di dinding, yaitu “Mene, mene, tekel ufarsin”. Maknanya adalah bahwa masa pemerintahan Belsyazar telah dihitung oleh Tuhan dan akan berakhir. Kerajaannya akan dipecah dan diberikan kepada orang Media dan Persia.
Mazmur Tanggapan
Mazmur yang dibacakan hari ini menyampaikan pujian kepada Tuhan melalui alam semesta. Isinya mengajak seluruh ciptaan seperti matahari, bulan, bintang, hujan, embun, angin, api, panas, kedinginan, dan pembekuan untuk memuji Tuhan selama-lamanya.
Injil Katolik: Lukas 21:12-19
Dalam injil hari ini, Yesus mengingatkan murid-murid-Nya tentang kesulitan yang akan mereka hadapi. Mereka akan ditangkap, dianiaya, dan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa karena nama-Nya. Namun, Yesus menjamin bahwa Dia akan memberikan kata-kata hikmat kepada mereka sehingga tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawan mereka. Meskipun akan dibenci oleh semua orang, mereka tetap akan bertahan dan memperoleh hidupnya.
Bacaan Khotbah Orisinal: Yehuda 37:15-28
Bagian ini mengisahkan firman Tuhan kepada nabi Yehuda. Tuhan memerintahkan Yehuda untuk mengambil dua potong papan dan menulis di atasnya. Satu papan untuk Yehuda dan orang-orang Israel yang bersekutu dengannya, dan satu papan untuk Yusuf, Efraim, dan seluruh kaum Israel. Kedua papan itu akan digabungkan menjadi satu dalam tangan Yehuda. Tuhan berjanji akan menjemput orang Israel dari tengah bangsa-bangsa dan membawa mereka ke tanah mereka. Mereka akan menjadi satu bangsa dengan satu raja, yaitu Daud, dan akan tinggal di tanah Israel untuk selama-lamanya.
Santo Yohanes Berchmans, Pengaku Iman
Santo Yohanes Berchmans lahir di kota Diest, Belgia Tengah pada tanggal 13 Maret 1599. Ayahnya adalah tukang kayu yang ingin agar anaknya menjadi orang yang berpangkat tinggi dan terkenal. Yohanes memiliki sifat tenang seperti air jernih dan bercita-cita menuntut ilmu setinggi-tingginya. Ia belajar bahasa Latin dari Peter Emerich, seorang imam yang sering mengajaknya ke biara dan pastoran. Pengalaman inilah yang mempengaruhi cita-citanya untuk menjadi seorang imam.
Namun, karena kebangkrutan perusahaan ayahnya dan sakitnya ibu, Yohanes dipanggil pulang untuk membantu keluarga. Ayahnya memutuskan untuk menghentikan studinya. Tetapi Yohanes memutuskan untuk melanjutkan studinya sendiri, dengan janji hidup sederhana. Ayahnya akhirnya mengizinkannya. Selama studinya, ia bekerja sebagai pelayan di gereja Katedral untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kegigihan dan kecerdasannya membuat Yohanes selalu lulus ujian dengan nilai gemilang. Ia bahkan sering menjadi juara kelas. Teman-temannya sangat menyukainya karena sifatnya yang tenang dan periang. Yohanes juga senang menjadi pelakon dalam drama sekolah.
Pada tahun 1615, Yohanes pindah ke Kolese Yesuit di Malines. Minatnya tertarik pada semangat perjuangan dan kemartiran para misionaris Yesuit di Inggris. Pada tahun 1616, ia masuk novisiat Yesuit dan setahun kemudian dikirim ke Roma untuk melanjutkan studinya. Di Roma, ia mengirim surat kepada orang tuanya: “Dengan rendah hati, aku berdoa untuk ayah dan ibu. Dan dengan segenap kasih-sayangku dan cintaku… saya ucapkan ‘selamat datang dan selamat tinggal’ kepada kalian, karena kalian mempersembahkan kembali aku puteramu, kepada Tuhan.”
Sebagai novis, Yohanes menunjukkan kehidupan asketik yang luar biasa. Tulisan-tulisan rohaninya sangat mendalam dan sempurna. Salah satu kalimatnya adalah: “Menabung banyak harta dalam bejana yang kecil.” Ia juga mengambil pedoman dari Santo Aloysius: “Jika saya tidak jadi orang suci di masa mudaku, maka tak pernah saya akan menjadi demikian.” Tuhan memberinya waktu tiga tahun untuk mencapai apa yang diidamkannya. Dua hari sebelum pesta Santa Maria diangkat ke Surga, yaitu tanggal 15 Agustus 1621, ia meninggal dunia dalam usia 22 tahun.
Meskipun meninggal dalam usia muda, Yohanes dinyatakan “kudus” oleh Gereja karena ia menyempurnakan diri dengan melaksanakan tugas-tugas harian dengan baik. Ia berhasil mencapai cita-citanya: menjadi seorang biarawan yang tekun melaksanakan tugas-tugas sederhana dengan sempurna penuh tanggung jawab, riang dan senang hati demi cinta akan Tuhan. Yohanes menjadi contoh teladan dan pelindung para pelajar.
