Oleh: Dr. Sulvi Purwayantie, S.TP., M.P – Konservasi Sumber Daya Alam Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung
SIAPA yang tak kenal dengan kain cual Maslina? Siapa yang tak suka kain cual Maslina, Si Cikar dan Si Lagak dari Bangka Belitung? Apalagi bila diberi gratis dari pengusaha kain cual, Ibu Maslina, di Pangkalpinang. Alhamdulillah……
Cikar dan lagak adalah ungkapan cantik pada bahasa Melayu Bangka maupun bahasa Melayu Belitung. Tak diragukan cantiknya kain cual Maslina yang penuh makna dan filosofi dari gabungan tradisi Cina dan Melayu.
Kami bersama mahasiswa KSDA Universitas Muhammadiyah Babel telah mengunjungi galeri kain cual milik Ibu Maslina pada awal Desember 2025. Kunjungan merupakan bagian dari praktikum etnobiologi dengan topik motif flora dan fauna pada kain cual Maslina sebagai bagian dari konservasi sumber daya alam Babel.
Mahasiswa perlu dikenalkan pada kain cual Babel karena kain cual di Babel merupakan salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat adat Melayu Babel yang wajib bagi semua warga Babel melestarikannya, minimal paham apa itu kain cual, tujuan dibuat, di mana dibuat, dan manfaat bagi budaya Babel sendiri.
Kain cual tidak hanya milik warga Babel, tetapi juga diklaim oleh suku Melayu di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, serta suku Melayu Kepulauan Riau yang juga mengklaim memiliki kain Cual. Sudah dapat dipastikan ada perbedaan antara sifat khas dari masing-masing daerah yang mengklaim bahwa kain cual adalah milik mereka. Akan tetapi, opini ini tidak membahas perbedaan yang ada. Yang jelas pada beberapa jurnal nasional telah menyebutkan bahwa kain cual Babel mempunyai ciri motif flora dan fauna khas.
Melestarikan bukan hanya terpaku pada menggunakannya atau memanfaatkan kain cual saja, akan tetapi mengkaji dari sisi ilmiah (misal: kajian etnobiologi dari motif kain cual) juga bagian dari pelestarian. Hal ini penting untuk pengembangan kain cual di masa depan.
Dari sisi etnobiologi, maka kain cual Babel merupakan media dalam pemanfaatan flora dan fauna yang dipromosikan dalam bentuk kain, sama seperti promosi konservasi flora fauna melalui fashion. Kami bersyukur dapat membawa mahasiswa KSDA yang sama sekali tidak mengetahui sebelumnya apa kain cual itu, di mana diproduksi, siapa yang memproduksi, bagaimana sejarah dari kearifan lokal dan kebanggan masyarakat Babel ini dimulai, dan seterusnya.
Sungguh cikar nan lagak ketika motif flora fauna yang diterapkan dalam kain cual Maslina menjadi nyata dengan gabungan warna-warni yang membuat setiap wanita dan pria yang melihatnya tergerak untuk memiliki kain cual Maslina. Kain cual bukan dominan untuk wanita saja, karena dari katun, songket dan sutra tersedia dan tujuan dari masing-masing desain ada yang untuk bayi, anak-anak, remaja, dewasa menuju pernikahan dan orang tua.
Kain cual Maslina bukan khusus untuk pesta adat atau pesta pernikahan saja, tetapi bisa untuk kerja kantoran dan di rumah. Menurut Ibu Maslina, motif flora fauna secara seni tidak boleh jelas dan nyata sehingga berkesan samar-samar.
Ada pengaruh Islam yang dimaksud yang menurut analisis kami karena dalam Islam dilarang untuk melukis makhluk hidup bernyawa. Ada larangan bahwa orang yang paling keras azabnya di hari kiamat adalah yang menandingi ciptaan Allah. Di lain hadis menyebutkan “Barang siapa yang di dunia pernah melukis gambar (bernyawa), ia akan dituntut untuk meniupkan ruh pada gambar tersebut di hari kiamat, dan ia tidak akan bisa melakukannya (HR. Bukhari dan Muslim).
Pemanfaatan motif flora dan fauna dalam kain cual Maslina menjadi bukti nyata dasar dari konservasi SDA Babel seperti ubur-ubur, ketam, bunga merak, bebek, kucing, rebung bambu, bunga kenanga, bunga kembang sepatu, bunga melati. Di balik semua motif flora dan fauna selalu ada aspek etnobiologisnya sehingga jenis flora fauna di motif sudah selayaknya untuk dilindungi, dikembangkan, atau dimanfaatkan oleh warga Babel sebelum flora fauna tersebut menjadi langka atau punah.
Ibu Maslina dalam melakukan konservasi kain cual tetap berpijak dari kain cual warisan yang diperoleh dengan harga mahal, yang dicari oleh Ibu Maslina keliling Babel. Contoh: ubur-ubur memang telah dimanfaatkan oleh warga Belitung menjadi produk ekonomis, akan tetapi dewasa ini banyak warga di pesisir pantai sekitar Kota Pangkalpinang membiarkan ubur-ubur yang tertangkap di jaring dan dibiarkan begitu saja mati di tepi pantai.
Sesungguhnya ubur-ubur adalah makanan penyu yang banyak terdapat di Babel dan menjadi salah satu pilihan wisata warga. Perlu ditindaklanjuti oleh pihak-pihak terkait bahwa perlu dilakukan penyuluhan konservasi dalam penyelamatan ubur-ubur karena menjaga ubur-ubur berarti menjaga penyu untuk kelangsungan hidupnya.
Motif ketam ‘remangok’ merupakan bentuk konservasi karena ketam sejak dahulu mendiami hutan mangrove di pesisir Pulau Bangka. Penyelamatan ketam berarti menjaga ketahanan pangan warga di pesisir pantai karena ketam kaya protein dan sangat gurih dagingnya (kaya asam glutamat) sehingga layak menjadi sumber umami pangan warga Babel.
Motif kelopak buah manggis menurut analisis kami adalah bagian hidup masyarakat Babel sejak zaman dahulu karena menanam buah manggis adalah wajib dalam agroforestrinya warga Babel yaitu kelekak.
Semua motif mempunyai filosofi masing-masing walaupun pada dasarnya inspirasi motif berasal dari kejadian langsung depan mata ketika menenun. Akan tetapi, tidak dapat dimungkiri ide sangat dipengaruhi oleh tradisi nenek moyang.
Suku asli masyarakat Babel adalah suku loam/jering (suku darat) dan suku sekak (suku laut) yang memang sudah menambang timah secara tradisional. Akan tetapi, ketika Babel dipimpin oleh Sultan Badaruddin (Sumatera Selatan) menganggap harta Babel ini perlu digali lebih banyak karena ekonomis tinggi, sedangkan permintaan dan harga sangat tinggi, maka dicari tenaga kerja tambahan dari Cina untuk meningkatkan produksi timah yang dijual sejak dahulu ke Eropa. Pada saat itu, Cina memang negara penghasil timah dunia nomor 1 sehingga sudah memiliki teknolog menambang timah yang lebih baik dari warga asli.
Budaya Cina yang dibawa ke Babel tentu saja mengalami akulturasi dengan warga asli maupun keturunan Melayu dari Malaysia. Hal ini yang menjadi dasar berbagai motif flora fauna di kain cual Maslina.
Dengan demikian, kajian etnobiologi terhadap motif flora dan fauna dalam kain cual milik Ibu Maslina menjadi sempurna manakala warga Babel mengetahui di balik sejarah adanya kain cual Babel, siapa yang pertama kali mengawali dan menginisiasi pengembangan kain Cual di Babel, siapa perajinnya, dan siapa yang bertahan dalam melestarikan tradisi warga Babel sampai saat ini. Hal ini menjadi penting agar kearifan lokal tidak punah sampai warga tidak mendengar lagi ada kata cikar dan lagaknya kain cual Babel.
Bersama Universitas Muhammadiyah Babel, kain cual Maslina layak dipatenkan terutama terhadap penggunaan flora dan fauna yang hampir punah maupun endemik. Ibu Maslina dapat melestarikan kain cual dalam bentuk pengembangan motif bukan warisan seperti motif ikan cupang endemik dari Bangka Selatan (Betta burdigala “tempalak merah” atau “wild betta burdigala”). Menurut hemat kami, motif ikan ini dapat memperkaya dalam kain cual karena warna ikan merah marun dan warna ini banyak digunakan oleh Ibu Maslina.
Kunjungan kami ke Ibu Maslina menjadi outcome mahasiswa KSDA yang berdampak dengan hampir 100 persen mahasiswa dapat menulis opini tentang masing-masing motif flora fauna yang digunakan dalam kain cual Maslina. Opini mahasiswa menjadi pen-trigger untuk kita warga Babel ikut melestarikan kain cual Maslina, menggunakannya dalam berbagai acara resmi atau hanya sekadar menjadi fashion yang cikar dan lagak di rumah sehari-hari. (*)


