Sejarah dan Misteri RS Kadipolo di Solo
Di tengah pesatnya pembangunan Kota Solo, Jawa Tengah, berdiri sebuah bangunan tua yang menyimpan sejarah panjang sekaligus kisah mistis. Bangunan tersebut adalah bekas Rumah Sakit (RS) Kadipolo yang terletak di Jalan Dr. Radjiman, Kelurahan Kadipolo/Panularan, Kecamatan Laweyan, Kota Solo, Jawa Tengah.
Meski kini terbengkalai dan ditumbuhi semak belukar, RS Kadipolo merupakan salah satu saksi penting perjalanan pelayanan kesehatan di masa Keraton Surakarta Hadiningrat.
Berdiri di Era Pakubuwono X
Rumah Sakit Kadipolo didirikan pada tahun 1915 atas prakarsa Sunan Paku Buwono X. Pendirian rumah sakit ini tidak lepas dari upaya Keraton Surakarta Hadiningrat dalam menyediakan fasilitas kesehatan bagi masyarakat umum, terutama untuk menangani wabah penyakit pes yang kala itu melanda wilayah Kasunanan Surakarta.
Pada awalnya, bangunan ini berfungsi sebagai poliklinik bagi para abdi dalem keraton dengan nama Panti Raga. Namun dalam perkembangannya, fasilitas ini juga melayani masyarakat luas, sejalan dengan visi Pakubuwono X yang dikenal aktif membangun infrastruktur sosial dan kesehatan bagi rakyat.
Kiprah dr. Radjiman Wedyodiningrat
Nama Jalan Dr. Radjiman yang melekat pada lokasi RS Kadipolo tidak terlepas dari sosok dr. Radjiman Wedyodiningrat, dokter pribumi ternama pada masa Hindia Belanda. Pegiat sejarah dan budaya Solo, KRMT L. Nuky Mahendranata Nagoro, menyebutkan bahwa dr. Radjiman pernah berpraktik di RS Kadipolo.
Dr. Radjiman memulai kariernya sebagai dokter pemerintah di Centrale Burgerlijke Betawi sejak 1899 dan dikenal sebagai dokter bedah mayat. Pada 1906, ia mengundurkan diri dari pemerintahan kolonial dan kemudian mengabdi sebagai dokter Keraton Surakarta hingga 1934. Atas jasanya, Pakubuwono X menganugerahkan gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) kepada dr. Radjiman.
Pada periode 1915–1917, Keraton juga membangun fasilitas penunjang kesehatan berupa apotek Panti Hoesodo dengan apoteker dari Belanda, sebagai bagian dari pengembangan layanan kesehatan masyarakat.
Berpindah Tangan ke Pemerintah
Pasca Kemerdekaan Republik Indonesia, RS Kadipolo mengalami berbagai persoalan, terutama terkait pendanaan. Pada tahun 1960, Keraton Surakarta menyerahkan sepenuhnya pengelolaan RS Kadipolo kepada Pemerintah Daerah Surakarta, termasuk bangunan dan seluruh personel yang ada.
Pada 1 Juli 1960, RS Kadipolo digabungkan dengan RS Jebres dan RS Mangkubumen di bawah satu direktur, dr. Sutedjo. Masing-masing rumah sakit memiliki spesialisasi, yakni RS Jebres untuk anak-anak, RS Kadipolo untuk penyakit dalam dan kandungan, serta RS Mangkubumen untuk korban kecelakaan.
Alih Fungsi dan Masa Kemunduran
Perjalanan RS Kadipolo terus berubah. Pada 24 April 1977, bangunan ini dialihfungsikan menjadi Sekolah Pendidikan Keperawatan (SPK) hingga tahun 1982. Selanjutnya, pada 1985, gedung tersebut digunakan sebagai mess pemain klub sepak bola kebanggaan Solo, Arseto.
Namun seiring waktu, fungsi bangunan terus berkurang. Hingga akhirnya RS Kadipolo terbengkalai setelah rencana pengembangannya menjadi hotel berbintang dan pusat perbelanjaan batal, lantaran status bangunan sebagai cagar budaya.
Ditetapkan sebagai Cagar Budaya
Nilai sejarah dan arsitektur yang tinggi membuat Pemerintah Kota Surakarta menetapkan bekas RS Kadipolo sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB) pada tahun 2013 melalui Surat Keputusan Wali Kota Surakarta Nomor 646/1-R/1/2013. Penetapan ini membuat bangunan tersebut dilindungi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, sehingga tidak dapat dialihfungsikan sembarangan untuk kepentingan komersial.
Sayangnya, hingga kini kondisi bangunan justru semakin memprihatinkan, tidak terawat, rusak di berbagai bagian, dan terkesan angker.
Urban Legend dan Kisah Mistis RS Kadipolo
Selain nilai sejarah, RS Kadipolo juga dikenal dengan berbagai cerita mistis. Kompleks bangunan yang dipenuhi semak belukar ini kerap disebut seperti “hutan kecil” di tengah kota. Warga yang tinggal di area bekas rumah sakit, mengaku pernah mengalami kejadian tak masuk akal.
Ia mengisahkan pernah tidur di bekas ruang pendaftaran pasien dan merasa rambutnya dijambak oleh sosok perempuan bule berseragam suster. Ketakutan, ia langsung melarikan diri dan jatuh sakit selama tiga hari. Setelah kembali ke ruangan tersebut untuk berdoa dan “meminta izin”, kondisinya berangsur membaik.
Konon ada urban legend terkenal di sini, penampakan suster bule kerap terlihat di ruang tunggu pasien dan ruang pemeriksaan. Di bagian belakang bangunan juga terdapat kolam kecil yang dahulu digunakan untuk memandikan jenazah, yang disebut sebagai area paling penuh misteri.
Berbagai sosok disebut pernah terlihat, mulai dari perempuan berambut panjang, pria tinggi besar, kakek berpakaian Jawa, hingga makhluk menyerupai ular bertubuh manusia. Meski demikian, lokasi ini justru sering digunakan untuk keperluan syuting karena kesan horornya.
Mantan pemain Arseto Solo, Agung Setyobudi, juga mengakui adanya keanehan saat menempati mess di kompleks RS Kadipolo pada era 1980–1990-an. Ia mengaku kerap mendengar suara dispenser air berbunyi sendiri pada malam hari. Namun bagi para pemain, hal itu tidak mengurangi semangat mereka bermain sepak bola.
Cerita itu menyebar dari mulut ke mulut, meskipun sampai kini belum diketahui kebenarannya karena tak pernah ada bukti autentik.
