Pengantar
Tentang cinta tidak pernah habis dibahas. Bersyukur jika kita masih memiliki energi cinta meskipun di dalamnya terbungkus madu sekaligus racun. Ada pepatah “Amore et melle et felle es fecundissimus.”
—“Dalam cinta, engkau paling subur: dengan madu dan racun.”
Pepatah Latin ini—yang menggambarkan cinta sebagai campuran manis dan pahit—menyentuh inti paling autentik dari pengalaman mencintai: cinta tidak pernah murni sukacita, namun justru dalam pergulatan antara kegembiraan dan kekecewaan, ia menjadi “subur” (fecundissimus), yaitu penuh potensi untuk tumbuh, berbuah, dan memperdalam ikatan. Jauh dari idealisasi romantis yang hanya melihat sisi indah cinta, pepatah ini justru merayakan kompleksitasnya—bahwa cinta sejati tidak menghindari konflik, tetapi menyuburkannya menjadi ruang transformasi.
Madu dan Racun: Dualitas yang Tak Terpisahkan
Dalam tradisi klasik, mel (madu) melambangkan kelezatan, kelembutan, dan keintiman; sementara fel (racun atau empedu) melambangkan kepahitan, kemarahan, dan luka. Namun, keduanya tidak dipisahkan—karena justru dalam ketegangan antara keduanya, cinta menjadi dinamis dan hidup. Seperti tanah yang subur lahir dari pembusukan dan kehidupan, cinta yang matang lahir dari kemampuan pasangan untuk mengolah luka menjadi dialog, kemarahan menjadi pemahaman, dan kekecewaan menjadi komitmen yang diperbarui.
Vergilius, dalam Bucolica X, 28, menegaskan: “Amor non talia curat”—“Cinta tidak peduli pada hal-hal sepele.” Ini bukan berarti cinta buta, melainkan cinta yang memilih fokus pada esensi, bukan pada permukaan. Pakaian yang tidak rapi, selera makan yang berbeda, atau cara bicara yang kadang menyebalkan—semua itu adalah “debu kecil” yang mudah mengaburkan cahaya cinta jika kita terlalu membesarkannya. Cinta sejati, sebagaimana diingatkan Horatius (Satire I.1.27), mengajak kita: “Amoto quaeramus seria ludo”—“Singkirkan yang main-main, dan mari fokus pada yang serius.” Yang serius dalam cinta bukanlah kesempurnaan, tetapi kemauan untuk saling mengenal secara mendalam—dalam keutuhan dan kelemahan masing-masing.
Kemarahan Bukan Musuh Cinta—Jika Dikelola dengan Bijak
Salah satu kekeliruan besar dalam relasi modern adalah anggapan bahwa cinta yang “benar” tidak pernah marah. Padahal, kemarahan sering kali lahir dari kepedulian yang mendalam: kita marah karena kita peduli; kita kecewa karena kita berharap lebih baik. Yang merusak bukan kemarahan itu sendiri, tetapi cara kita menanganinya.
Alkitab mengingatkan: “Janganlah matahari terbenam dalam keadaan marahmu” (Efesus 4:26)—nasihat yang selaras dengan hikmat klasik: selesaikan pertengkaran pada hari itu, jangan biarkan luka mengendap. Karena kemarahan yang dibiarkan berlarut-larut menjadi dendam; dendam menjadi kebencian; dan kebencian mengubur cinta.
Namun, ada bentuk “kebencian” yang justru lahir dari cinta—yang dalam tradisi Latin disebut odium abominationis: benci terhadap hal-hal yang merusak keindahan cinta itu sendiri. Ini bukan kebencian pada pribadi, tetapi pada ketidakjujuran, pengkhianatan, atau kekerasan. Dalam konteks ini, “benci” adalah bentuk loyalitas terhadap nilai cinta: ia menolak segala sesuatu yang mengotori ikatan suci antarmanusia. Seperti api yang membakar rumput liar agar padi tumbuh subur, odium abominationis membersihkan relasi dari hal-hal yang menghambat pertumbuhan cinta.
Cinta Perlu Disiram Setiap Hari
Cinta bukan monumen yang dibangun sekali lalu abadi—ia seperti taman yang butuh dirawat harian. Seperti bunga yang membutuhkan air dan pupuk, cinta membutuhkan kata-kata yang membangun: ucapan terima kasih, penghargaan, kekaguman, simpati, dan penghiburan. Psikolog John Gottman, dalam penelitiannya selama puluhan tahun tentang pasangan sukses, menemukan bahwa rasio interaksi positif terhadap negatif minimal 5:1 diperlukan untuk menjaga kestabilan emosional dalam hubungan (Gottman & Silver, 1999). Artinya, untuk setiap kritik atau konflik, dibutuhkan lima ungkapan kebaikan untuk menjaga cinta tetap bersemi.
Inilah yang disebut emotional bank account (Covey, 1989): setiap tindakan kecil kebaikan—senyum, sentuhan, mendengarkan tanpa menghakimi—adalah “tabungan” yang bisa ditarik saat masa sulit tiba. Tanpa tabungan ini, konflik kecil bisa menjadi krisis besar.
Makna Kontekstual: Cinta dalam Dunia yang Cepat dan Dangkal
Di era media sosial, cinta sering direduksi menjadi tampilan: foto mesra, status romantis, atau jumlah hari jadian. Namun, cinta sejati justru terbentuk di ruang-ruang yang tak terlihat: dalam diam yang nyaman, dalam keberanian mengakui kesalahan, dalam komitmen tetap hadir meski tak ada kamera yang merekam.
Pepatah “amore et melle et felle” mengajak kita kembali pada realitas ini: cinta bukan tentang menghindari racun, tetapi belajar mengubah racun menjadi pupuk. Karena justru dalam pergulatan itu, cinta menjadi matang—tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mendalam, tangguh, dan transformatif.
Penutup: Subur Justru dalam Ketegangan
“Amore et melle et felle es fecundissimus” adalah undangan untuk tidak takut pada kompleksitas cinta. Madu memberi kita kebahagiaan; racun memberi kita kedalaman. Keduanya diperlukan. Seperti garam yang membuat makanan bermakna, pahit dalam cinta membuat manisnya lebih terasa.
Maka, janganlah berhenti mencinta hanya karena ada luka. Janganlah menyerah hanya karena ada salah paham. Karena cinta sejati bukan yang tak pernah retak—tapi yang terus diperbaiki, disiram, dan dipelihara, hari demi hari, dalam madu dan racun yang sama-sama membentuk kehidupan.
Referensi:
Vergilius. (37 SM). Bucolica (Eclogae), X, 28 & 69.Horatius. (35 SM). Satirae (Satire), I.1.27.Gottman, J. M., & Silver, N. (1999). The Seven Principles for Making Marriage Work. Crown Publishing.Covey, S. R. (1989). The 7 Habits of Highly Effective People. Free Press.Fromm, E. (1956). The Art of Loving. Harper & Row.Nussbaum, M. C. (2013). Political Emotions: Why Love Matters for Justice. Harvard University Press.Alkitab, Surat Efesus 4:26.Aquinas, T. (1270). Summa Theologiae — tentang cinta sebagai keutamaan moral dan odium abominationis


