Alasan Yudo Sadewa anak Menkeu Purbaya tak pakai fasilitas pengawalan: dinilai cuma buang anggaran

Posted on

Ringkasan Berita:

  • Yudo Sadewa, putra Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, menolak fasilitas pengawalan karena dinilai hanya membuang anggaran negara.
  • Sikap sederhana itu viral setelah ia datang ke acara live streaming naik motor Xmax sendirian tanpa protokoler.
  • Yudo juga menyindir gaya hidup pejabat yang boros anggaran dan menyebut pemborosan rapat serta dinas sebagai bentuk korupsi terselubung.

PasarModern.com Yudo Sadewa, putra Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, menyita perhatian publik setelah mengungkap alasannya menolak fasilitas pengawalan negara yang melekat pada pejabat dan keluarga pejabat.

Yudo Sadewa menilai penggunaan pengawalan untuk aktivitas pribadi tidak mendesak dan justru berpotensi menjadi pemborosan anggaran negara.

Sikap tersebut disampaikannya sebagai bentuk kesadaran etika publik, agar fasilitas negara digunakan secara tepat dan tidak berlebihan.

Yudo anak Menkeu Purbaya baru-baru ini meramaikan media sosial dengan pernyataan soal pengawalan.

Banyak keluarga Menteri atau pejabat negara yang terlihat menggunakan jabatan untuk memperoleh fasilitas pengawalan.

Namun hal tersebut tidak diperlihatkan oleh keluarga Menkeu Purbaya.

Seperti yang belakangan ini disoroti Yudo anak Menkeu Purbaya.

Yudo bikin heran influencer

Streamer Bigmo mengaku dibuat heran sekaligus kagum dengan gaya hidup sederhana Yudo Sadewa, putra Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa.

Momen tersebut terjadi ketika Yudo hadir sebagai narasumber dalam sesi live streaming di kanal milik Bigmo.

Sejak awal pertemuan, Bigmo sudah merasa ada hal yang tidak biasa dari kehadiran Yudo.

Menurut pengakuannya, Yudo datang ke lokasi live streaming bukan dengan mobil mewah atau pengawalan.

Sebaliknya, Yudo justru tiba dengan mengendarai sepeda motor jenis Yamaha Xmax.

Hal itu sontak membuat Bigmo terkejut karena status Yudo sebagai anak pejabat tinggi negara.

“Dia ke sini naik Xmax,” kata Bigmo sambil menceritakan pengalamannya.

Ia menambahkan bahwa Yudo bahkan mengendarai motor tersebut seorang diri.

“Dari Bogor nyetir sendiri,” imbuhnya.

Bigmo juga menegaskan bahwa tidak ada pengawalan atau protokoler yang menyertai Yudo selama perjalanan.

Mendengar keheranan Bigmo, Yudo hanya tertawa santai dan menganggap hal itu bukan sesuatu yang istimewa.

“Emang kenapa naik motor?” tanya Yudo dengan nada ringan.

Masih tak percaya, Bigmo pun kembali menimpali dengan nada heran, “Lu bayangin naik motor man.”

Sindir Gaya Anak Pejabat

Bigmo dan Yudo kemudian membahas soal trading bitcoin yang ditekuni oleh anak Purbaya Yudhi Sadewa tersebut.

Yudo lalu mengaku baru mengalami kerugian yang cukup besar.

“Gue 10 Oktober ini loss hampir Rp22 miliar, tapi dari 8 juta dollar AS kecil lah,” kata Yudo.

Bigmo lantas merasa heran dengan sikap Yudo yang sangat terbuka dengan jumlah hartanya.

Meski bergelimang harta, Yudo mengaku dirinya lebih memilih hidup sederhana.

Ia lalu menyindir anak pejabat yang berpergian menggunakan pengalawan ketat, berbeda dengan dirinya.

“Lu bisa setransparan ini, Lo gak peduli?” tanya Bigmo.

“Enggak peduli, gue ke sininya aja naik motor, gue kan sederhana orangnya,” jawab Yudo.

“Kalau anak pejabat yang lain kan naik, ‘tot tot tot’,” imbuhnya.

Pejabat Buang-buang Uang Negara

Yudo menyoroti kebiasaan pejabat yang dinilai gemar menghabiskan anggaran negara untuk fasilitas yang serba mewah dan premium, mulai dari rapat hingga penginapan. 

Praktik korupsi, menurutnya, tidak selalu berbentuk penggelapan uang secara langsung. 

Ia menilai penyalahgunaan anggaran untuk rapat dan perjalanan dinas juga merupakan bentuk korupsi yang tak bisa dianggap remeh. 

“Jadi orang-orang itu kebanyakan korupsi-korupsi itu dari situ. Anggaran rapat, perjalanan dinas, masa bisa sampai miliaran sih,” katanya.

Ia bahkan menyindir pilihan penginapan pejabat saat dinas di luar kota. 

Yudo menilai pejabat semestinya tidak selalu menginap di hotel bintang lima.

“Lu tidur di Oyo aja udah nyaman kali harusnya. Enggak usah di hotel bintang 5,” ujarnya.

Selain soal penginapan, Yudo juga menyoroti kebiasaan perjalanan dinas di era teknologi digital. 

Menurutnya, banyak agenda pemerintahan yang bisa dilakukan secara daring tanpa harus mengeluarkan biaya besar. 

“Kalau mau mengabdi masyarakat, kan kita sekarang udah ada teknologi. Emang enggak bisa pakai Zoom atau misalnya enggak bisa apa lebih jauh efisiensi lagi,” katanya. 

Ia menyarankan agar ketimbang menghambur-hamburkan anggaran, lebih baik dialihkan ke sektor yang lebih berdampak bagi perekonomian. 

“Daripada buang anggaran enggak jelas, mendingan buat suntikin ke bank-bank bumn atau apapun itu yang penting ekonomi muter lah,” pungkasnya. 

Ia mengatakan ayahnya Purbaya telah melakukan pemotongan anggaran rapat-rapat yang dianggap tidak jelas. 

Dari hasil pemotongan itu, negara bisa memperoleh penghematan hingga puluhan triliun. 

“Misalkan kemaren tuh bapak dapat 60 triliun dari potong anggaran-anggaran, rapat-rapat itu yang enggak jelas. Bahkan, 60 triliun itu cuman dari potong rapat enggak jelas itu loh, makanya negara indonesia itu susah majunya karena enggak efisien. Udah enggak efisien, pejabatnya kebanyakan maling gitu,” pungkasnya. 

(PasarModern.com/TribunJatim.com)

Jangan lewatkan berita-berita PasarModern.comtak kalah menarik lainnya di Google News , Threads dan Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *