Perubahan Besar dalam Sepak Bola Asia
Dunia sepak bola Asia tengah menghadapi perubahan besar yang disebut-sebut akan mengubah peta kompetisi di benua ini. Federasi Sepak Bola Jepang (JFA) dikabarkan tidak lagi percaya dengan manajemen Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), dan sedang mempertimbangkan untuk meninggalkan organisasi tersebut. Langkah ini dipicu oleh berbagai keputusan yang dinilai tidak adil dan terlalu didominasi oleh pendanaan dari negara-negara Teluk seperti Qatar dan Arab Saudi.
Alasan Jepang Kecewa dengan AFC
JFA merasa bahwa keputusan-keputusan yang diambil oleh AFC selama beberapa tahun terakhir justru merugikan klub-klub dan tim nasional Jepang. Salah satu contoh yang mencolok adalah kasus Vissel Kobe di ajang AFC Champions League (ACL) Elite 2024/2025. Klub asal Jepang itu merasa dirugikan setelah hasil pertandingan melawan Shandong FC dibatalkan, meskipun sebelumnya sudah dinyatakan sah dengan kemenangan 2-1 untuk Kobe. Keputusan ini membuat Vissel Kobe turun dari posisi ketiga ke peringkat kelima di klasemen akhir, meski kemenangan sudah diakui secara resmi.
Selain itu, JFA juga mengkritik sistem kompetisi dan pembagian zona di bawah AFC. Mereka menilai jadwal yang padat dan sistem kompetisi yang tidak efisien memberi dampak negatif bagi kebugaran pemain tim nasional Jepang, terutama mereka yang berkarier di Eropa. Hal ini berdampak pada tingkat kebugaran dan kesiapan pemain, terutama menjelang ajang besar seperti Piala Dunia 2026.
Kritik Terhadap Ketergantungan AFC pada Arab Saudi dan Qatar
Kemarahan Jepang juga dilatarbelakangi oleh kebijakan AFC yang dinilai terlalu berpihak pada Arab Saudi dan Qatar. Salah satu contoh paling mencolok adalah perubahan format AFC Champions League Elite (Piala Asia C1), di mana babak perempat final hingga final kini disentralisasi di Arab Saudi. JFA menganggap keputusan itu tidak adil dan menyulitkan tim-tim Asia Timur yang harus menempuh jarak ribuan kilometer hanya untuk bertanding.
Beberapa klub Jepang, seperti Yokohama Marinos dan Kawasaki Frontale, disebut menjadi korban sistem baru ini. Mereka harus menjalani perjalanan jauh dan jadwal padat yang menguras tenaga, berbeda dengan klub-klub dari Asia Barat yang diuntungkan dengan lokasi kompetisi yang dekat dan waktu istirahat yang lebih panjang.
Dampak pada Timnas Indonesia
Dampak ketimpangan keputusan AFC ternyata juga dirasakan oleh negara lain di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dalam laporan UTV, disebutkan bahwa Timnas Indonesia turut menjadi korban ketika harus memainkan laga putaran empat Kualifikasi Piala Dunia 2026 di Arab Saudi. Bukan hanya lokasi pertandingan yang dianggap tidak netral, AFC juga menunjuk wasit asal Asia Barat untuk memimpin laga tersebut. Keputusan itu dinilai memberi keuntungan besar bagi tuan rumah Arab Saudi, yang kemudian berhasil lolos otomatis ke Piala Dunia 2026 setelah memuncaki Grup B.
Rencana Pembentukan Federasi Sepak Bola Asia Timur
Sebagai respons atas ketidakpuasan tersebut, Jepang dikabarkan tengah memimpin inisiatif pembentukan konfederasi baru bernama Konfederasi Sepak Bola Asia Timur (East Asian Football Confederation). Rencana ini disebut akan melibatkan negara-negara kuat seperti Korea Selatan, Korea Utara, dan China sebagai anggota pendiri. Tidak hanya itu, Jepang juga berencana mengundang beberapa negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Vietnam, Thailand, Singapura, hingga negara Oseania seperti Australia dan Selandia Baru untuk bergabung.
Langkah ini akan menjadi peristiwa bersejarah dalam dunia sepak bola internasional. Secara historis, memang pernah ada federasi yang berpindah benua—seperti Israel yang keluar dari AFC dan bergabung ke UEFA (Eropa), serta Australia yang berpindah dari OFC (Oseania) ke AFC. Namun, belum pernah ada satu negara atau kelompok negara yang memisahkan diri dan membentuk federasi kontinental baru secara mandiri.
Potensi Perubahan dalam Sepak Bola Asia
Jika rencana Jepang ini benar-benar terwujud, maka peta sepak bola Asia akan berubah total. Dominasi Arab Saudi dan Qatar di AFC bisa berkurang, dan negara-negara Asia Timur berpeluang memiliki otonomi lebih besar dalam menentukan arah kompetisi dan kebijakan olahraga mereka sendiri. Bagi Indonesia, jika benar diundang bergabung, peluang ini bisa menjadi kesempatan emas untuk memperkuat hubungan dengan negara-negara sepak bola maju seperti Jepang dan Korea Selatan, serta mendapatkan akses ke sistem kompetisi yang lebih profesional dan adil.
Status AFC Saat Ini
AFC saat ini memiliki 47 negara anggota yang mayoritas terletak di Asia, termasuk Australia, Guam dan Kepulauan Mariana Utara yang secara geografis terletak di Oseania. Negara anggota AFC dikelompokkan ke dalam lima konfederasi regional yakni WAFF (Asia Barat), CAFA (Asia Tengah), SAFF (Asia Selatan), EAFF (Asia Timur), dan AFF (Asia Tenggara).
Di Piala Dunia 2026 nanti, AFC mendapat 8+1 jatah atau negara anggota AFC. Dimana 8 negara akan lolos ke Piala Dunia dan 1 negara lainnya memperebutkan kursi melawan negara-negara konfederasi di luar Asia.


