Alasan Suderajat berbohong terungkap, Camat Bogor: Dia dan istrinya disabilitas

Posted on

Penjualan Es Kue yang Viral dan Kontroversi yang Mengikuti

Suderajat, seorang penjual es kue yang sempat viral dan mendapat simpati publik, kini menjadi sorotan setelah banyak pernyataannya terbukti tidak sesuai fakta. Ia mengaku memiliki utang yang besar, tinggal di kontrakan karena tidak mampu membeli rumah, serta kesulitan membayar biaya pendidikan anaknya. Namun, setelah diverifikasi, semua informasi tersebut ternyata tidak sepenuhnya benar.

Camat Bojonggede, Tenny Ramdhani, memberikan penjelasan bahwa Suderajat sebenarnya memiliki rumah sendiri. Namun, ia tinggal sementara di kontrakan karena rumahnya sedang dalam proses rehabilitasi melalui program bantuan Rutilahu. Proses perbaikan rumah ini dimulai sejak Desember 2025, dan akibat bencana hujan dan angin kencang awal tahun, rumah tersebut sempat roboh. Akibatnya, Suderajat dan keluarganya harus pindah ke kontrakan sementara.

Indikasi Disabilitas dan Gangguan Mental

Selain itu, hasil asesmen lintas instansi menunjukkan adanya indikasi disabilitas pada Suderajat dan istrinya. Kondisi ini diduga berkaitan dengan gangguan mental pascatrauma, sehingga kemampuan komunikasi mereka cukup terbatas. Hal ini menjelaskan perubahan-perubahan dalam penyampaian informasi oleh Suderajat, yang sering kali terkesan tidak konsisten.

Tenny juga menyebutkan bahwa ketua RT dan RW setempat melihat tanda-tanda keterbelakangan psikologis dan mental pada Suderajat. Kondisi ini diduga sudah ada sebelumnya dan diperparah oleh tekanan trauma setelah difitnah oleh aparat serta banyaknya orang yang datang ke rumahnya.

Bantuan yang Diterima Suderajat

Meskipun demikian, Suderajat menerima berbagai bentuk bantuan dari berbagai pihak. Termasuk uang puluhan juta rupiah, bantuan renovasi rumah, motor, hingga umroh gratis. Salah satunya adalah bantuan dari Dedi Mulyadi, Gubernur Jabar, yang memberikan uang Rp15 juta. Dari jumlah tersebut, Rp10 juta digunakan untuk kontrakan dan pembayaran utang, sedangkan Rp5 juta diberikan sebagai modal usaha.

Namun, bukannya digunakan untuk modal usaha, Suderajat justru berniat menggunakan uang Rp5 juta untuk menikahkan anaknya. Hal ini menimbulkan kekecewaan dari Dedi Mulyadi, yang menyarankan agar uang tersebut digunakan untuk membuka usaha baru atau memperbaiki kondisi hidup Suderajat secara lebih berkelanjutan.

Kebocoran Informasi dan Kebohongan

Awalnya, Suderajat mengaku sedang pusing karena tidak mampu membayar biaya sekolah anaknya. Dedi Mulyadi langsung bertanya dan menemukan bahwa informasi tersebut tidak sepenuhnya benar. Menurut Dedi, sekolah negeri di wilayah Bogor gratis, sehingga tidak mungkin ada biaya sekolah sebesar Rp1,5 juta. Setelah dicecar pertanyaan, Suderajat akhirnya mengakui bahwa anaknya hanya belum bayar sekolah selama satu bulan, bukan empat bulan seperti yang ia katakan sebelumnya.

Selain itu, Suderajat juga mengaku memiliki utang di warung sebesar Rp400 ribu dan butuh uang Rp400 ribu lagi untuk modal usaha. Dedi Mulyadi memberikan uang gepokan sebesar Rp10 juta, namun setelah melihat tidak percaya pada kemampuan Suderajat, ia mengambil kembali uang tersebut dan memberikan Rp5 juta sebagai modal usaha.

Reaksi Publik dan Harapan Pemerintah

Akibat kebohongan dan penggunaan bantuan yang tidak tepat, Suderajat kini ramai dihujat dan dituduh memanfaatkan situasi untuk mendapatkan uang secara cuma-cuma. Pemerintah kecamatan berharap penjelasan tersebut dapat menghentikan spekulasi publik dan mengembalikan persoalan Suderajat pada konteks yang sebenarnya, yaitu upaya penanganan warga kurang mampu melalui program perbaikan rumah yang sedang berlangsung.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *