Akun IG Calista Amore Hilang, Dokter Bully Kematian Timothy Tak Unggah Permintaan Maaf

Posted on

Kasus Perundungan di Universitas Udayana: Calista Amore Manurung dan Rekan-rekannya

Kasus kematian Timothy Anugerah Saputra, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Udayana (Unud), yang diduga melompat dari lantai empat Gedung FISIP pada Rabu, 15 Oktober 2025, telah menjadi sorotan nasional. Kekinian, publik mulai memperhatikan sosok Calista Amore Manurung, seorang mahasiswi kedokteran Unud yang diduga terlibat dalam perundungan terhadap korban.

Peristiwa tragis ini tidak hanya menimbulkan duka, tetapi juga memicu kemarahan publik karena beberapa mahasiswa justru menunjukkan sikap tidak pantas. Foto-foto korban yang beredar di media sosial justru dijadikan bahan olok-olokan, bahkan dibandingkan dengan sosok selebgram Kekeyi.

Calista Amore Manurung, calon dokter dari Fakultas Kedokteran Unud, disebut terlibat dalam percakapan grup WhatsApp yang menyimpan komentar tak pantas. Dalam percakapan tersebut, terdapat ucapan seperti “Percobaan bunuh diri di kamsud lompat dri lt 2” dan “Gaberasa lt 2 mah.” Bahkan, salah satu komentar yang diduga ditulis oleh Calista adalah “Gaberasa lt 2 mah.”

Tidak hanya itu, rekan-rekannya seperti Erick Gonata dan James Halim juga turut mengirimkan komentar yang tidak sensitif. Misalnya, Erick menulis “Mati ga,” kemudian diikuti ajakan Calista untuk “Visit yu.” Ketika seseorang memberitahu bahwa korban masih berada di UGD, Erick menulis “Oh mati?” dan James menimpali “Oalah mati ya,” sementara Calista bertanya “Mati?” dan dijawab singkat “Ya,” sebelum ia menulis “Anjir,” yang dibalas James dengan “Baguslah.”

Aksi para calon dokter ini membuat dr Guco, seorang dokter di RS Ngoerah Bali, marah besar. Ia menuliskan, “Gausah jadi dokter kalau ga punya hati.” Menurutnya, ketiga calon dokter itu tengah menjalani koas di RS Ngoerah Bali. Ia menegur keras melalui tulisannya, “Sadar ga, yang kalian gunjingkan itu pasien, yang kedepannya akan jadi lahan pekerjaan kalian, dan tugas kalian sebagai dokter tidak perlu dijelaskan lagi /?/.”

dr Guco bahkan menyarankan agar para pelaku segera mundur dari pendidikan kedokteran. “Layak kah untuk lanjut koas? mending berhenti aja, malu. Malu-maluin diri sendiri, keluarga, kampus,” tulisnya. Ia mengaku sengaja memviralkan tindakan para adik tingkatnya itu karena menilai perbuatan mereka sangat tidak pantas.

Tanggapan dari Pihak Kampus

Rektor Universitas Udayana, Prof I Ketut Sudarsana, menanggapi adanya perundungan di lingkungan kampus. Ia menyatakan bahwa kampus harus menjadi ruang aman, berempati, dan bebas dari segala bentuk kekerasan, baik fisik maupun verbal.

“Kami berduka atas kepergian salah satu mahasiswa terbaik kami. Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi kita semua untuk memperkuat empati dan rasa peduli antar sesama sivitas akademika,” katanya dikutip dari Instagram Universitas Udayana.

Universitas Udayana menegaskan akan menindak tegas segala bentuk tindakan nir-empati, perundungan, maupun kekerasan digital, serta terus memperkuat pendampingan psikologis dan literasi digital di lingkungan kampus.

Mahasiswa Terlibat dalam Perundungan

Enam mahasiswa yang diduga melakukan perundungan terhadap mendiang TAS di percakapan grup WA itu, berbeda-beda angkatan. Mereka adalah:

  • Leonardo Jonathan Handika Putra, Wakil Ketua BEM Fakultas Kelautan dan Perikanan Unud angkatan 2022.
  • Maria Victoria Viyata Mayos, Kepala Departemen Eksternal Himapol FISIP Unud Kabinet Cakra.
  • Muhammad Riyadh Alvitto Satriyaji Pratama, Kepala Departemen Kajian, Aksi, Strategis dan Pendidikan Himapol FISIP Unud.
  • Anak Agung Ngurah Nanda Budiadnyana, Wakil Kepala Departemen Minat dan Bakat Himapol FISIP Unud Kabinet Cakra.
  • Vito Simanungkalit, Wakil Kepala Departemen Eksternal Himapol FISIP Unud Kabinet Cakra.
  • Putu Ryan Abel Perdana Tirta, Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Mahasiswa FISIP Udayana.

Sanksi yang Diberikan

Pihak UNUD menanggapi beredarnya informasi percakapan di media sosial terkait dugaan ucapan nir-empati terhadap almarhum TAS. Ketua Unit Komunikasi Publik Universitas Udayana mengatakan, berdasarkan hasil rapat koordinasi FISIP, dapat dipastikan isi percakapan terjadi setelah almarhum meninggal dunia, bukan sebelum peristiwa yang menimpa almarhum.

Sejumlah mahasiswa yang melakukan perundungan itu, akan direkomendasikan untuk memberikan nilai D atau tidak lulus pada semua mata kuliah semester berjalan. Namun, sanksi akhir nanti akan diputuskan berdasarkan rekomendasi Satgas PPK setelah pendalaman kasus oleh Satgas.

Rektor Universitas Udayana, I Ketut Sudarsana, menyampaikan rasa prihatin dan belasungkawa yang mendalam atas peristiwa yang menimpa almarhum. Ia menegaskan, pihak kampus harus menjadi ruang aman, berempati, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.

Di sisi lain, Unud mengajak seluruh civitas akademika untuk menjadikan peristiwa ini sebagai refleksi dan pembelajaran. Kampus juga memberikan pendampingan psikologis bagi rekan-rekan mahasiswa dan civitas akademika yang terdampak, serta berkomitmen memperkuat program kesehatan mental dan literasi digital di lingkungan kampus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *