Abrasi Sungai Kampar di Desa Kuala Terusan Mengancam Kehidupan Warga
Di Desa Kuala Terusan, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan Riau, abrasi yang terjadi di sepanjang Sungai Kampar semakin memprihatinkan. Peristiwa ini tidak hanya mengancam lingkungan sekitar, tetapi juga mengganggu kehidupan masyarakat setempat. Pada Minggu (7/9/2025) sore, warga kembali melihat tanah longsor yang menggerus tepian sungai. Kejadian ini berulang setelah abrasi parah yang terjadi pekan lalu, yang sempat viral di media sosial.
Pergerakan tanah kembali terpantau oleh warga sekitar pukul 16.40 WIB. Dalam video yang diambil menggunakan kamera ponsel, terlihat satu pohon kelapa sawit mulai bergerak dan akhirnya tumbang ke dalam air. Pohon tersebut tampak seperti tertarik ke bawah hingga mencapai akarnya. Pohon sawit yang tinggi itu langsung masuk ke Sungai Kampar, dekat dengan pohon lain yang telah tumbang sebelumnya.
Kepala Desa Kuala Terusan, Hendri, menyampaikan bahwa kondisi abrasi semakin memburuk. Ia menuturkan bahwa longsoran susulan terjadi hampir setiap hari, meskipun intensitasnya masih rendah. Namun, akibat curah hujan yang tinggi dan aliran air yang deras, tanah yang sudah retak semakin renggang. Selain itu, struktur tanah yang didominasi pasir membuat kontur tanah semakin rapuh dan rentan tergerus air.
Bahkan, longsoran terbaru yang mengakibatkan pohon sawit tumbang termasuk dalam kategori besar. Jarak titik longsor terbaru ke rumah warga hanya sekitar tiga meter, sehingga berpotensi merusak bangunan. Di sekitar lokasi, terdapat dua unit rumah yang mulai was-was karena ancaman abrasi.
Upaya Cepat untuk Menanggulangi Abrasi
Aparat desa, BPD, serta pemuda setempat telah berkumpul untuk mencari solusi tercepat. Mereka berencana membuat pancang kayu sebagai penahan tebing di area yang berada di tepi Sungai Kampar, termasuk titik longsor terparah. Warga akan bergotong royong mencari kayu di sekitar desa dengan panjang minimal tujuh meter dalam jumlah banyak.
Ditargetkan, pancang kayu akan dipasang sepanjang 30 meter di bibir pantai Desa Kuala Terusan. Menurut Hendri, langkah ini diharapkan mampu menahan tanah agar tidak longsor. Ia juga menyebutkan bahwa metode ini pernah dicoba sebelumnya dan berhasil.
Kondisi yang Semakin Mengkhawatirkan
Abrasi yang terjadi di pinggir Sungai Kampar di Desa Kuala Terusan semakin mengkhawatirkan masyarakat setempat. Setelah peristiwa longsor pada Selasa (2/9/2025) yang viral di media sosial, abrasi ini menjadi perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Pelalawan dan perangkat desa.
Bupati Pelalawan H Zukri, bersama para pejabat Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), telah turun ke lokasi untuk mencari solusi jangka pendek maupun jangka panjang. Hendri menyampaikan bahwa longsoran susulan masih terjadi, meski dalam jumlah sedikit. Namun, semakin banyak titik longsor yang muncul.
Saat ini, ada sekitar empat titik pantau yang paling terkena dampak abrasi. Tanah di tepi sungai semakin rapuh dan terkikis air, menciptakan retakan yang berpotensi menimbulkan longsoran susulan. Di titik longsor terparah yang viral, abrasi susulan telah menenggelamkan tanah seluas lima meter dan panjangnya hampir 10 meter. Bahkan, kondisi saat ini hanya sekitar empat meter dari rumah warga. Di dekatnya, terdapat dua unit rumah yang berpotensi terdampak.
Meskipun ancaman abrasi semakin nyata, penduduk desa yang tinggal di dua rumah tersebut masih memilih untuk tinggal. Mereka tetap bertahan meski tanah longsor dan retakan semakin mendekati bangunan mereka. Perangkat desa sedang berdiskusi untuk mencari solusi yang tepat dan cepat sebelum Pemda Pelalawan menjalankan rencana penanggulangan yang telah disusun.
Tindakan Gotong Royong untuk Melindungi Wilayah
Hendri menyampaikan bahwa rencananya adalah melakukan gotong royong untuk memasang pancang kayu di sepanjang area yang longsor. Ia berharap, langkah ini dapat membantu menahan tanah yang belum runtuh saat ini. Meski situasi masih memprihatinkan, warga dan aparat desa tetap berupaya untuk memberikan perlindungan terbaik bagi masyarakat setempat.
