Seorang Ulama Perempuan yang Menginspirasi Dunia
Rahmah el-Yunusiah adalah salah satu tokoh perempuan yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah Indonesia. Ia lahir di Padang Panjang, Sumatra Barat, dan dikenal sebagai Muslimah pertama abad ke-20 yang menyuarakan emansipasi bagi kaum hawa di Tanah Air. Pada tahun 2026, ia dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh pemerintah Indonesia.
Dalam buku Tentang Perempuan Islam, Wacana dan Gerakan, nama Rahmah el-Yunusiah muncul karena pemikiran dan kiprahnya dalam dunia pendidikan modern. Ia wafat pada 26 Februari 1969 di Padang Panjang, Sumatra Barat. Keluarganya tergolong terhormat, dengan ayah bernama Muhammad Yunus bin Imanuddin dan ibu bernama Rafiah. Keturunan dari garis ibunya berasal dari nagari IV Angkat, Bukittinggi.
Pendirian Sekolah Khusus Perempuan
Rahmah el-Yunusiah adalah pendiri Madrasah Diniyah lil Banat (Diniyah Putri) di kota kelahirannya. Lembaga ini merupakan sekolah agama Islam pertama khusus untuk perempuan di Indonesia. Bagi Rahmah, pendidikan adalah kunci emansipasi. Dengan demikian, Diniyah Putri dirancang untuk meningkatkan derajat kaum perempuan di tengah masyarakat, khususnya umat Islam.
Pada awal abad ke-20, Nusantara mengalami “demam” modernisme. Semangat kemajuan menjalar terutama dari kota-kota penting di Indonesia. Kaum terpelajar gemar mengkaji pemikiran-pemikiran di luar konvensi tradisi generasi tua. Di Sumatra, Ranah Minang menjadi pusat perhatian karena jumlah kaum terdidik dan pedagang yang cukup signifikan.

Petugas memperlihatkan kitab yang rusak dan yang masih utuh saat proses digitalisasi manuskrip di Padang, Sumatera Barat, Rabu (12/7/2023). – (Antara/Muhammad Arif Pribadi)
Pengembangan Pendidikan Modern
Di awal abad ke-20, Sumatra Barat subur dengan tumbuhnya lembaga-lembaga pendidikan Islam modern. Selain Diniyah Putri, pada 1909 berdiri Sekolah Adabiyah di Padang dan Sumatra Thawalib yang awalnya adalah kelompok pegiat pendidikan yang digagas Zainuddin Labai el-Yunusi (kakak kandung Rahmah) dan kaum terdidik Surau Jembatan Besi, Padang Panjang, pada 1913.
Pembina surau tersebut adalah ayahanda Buya Hamka, Abdul Karim Amrullah alias Haji Rasul. Rata-rata, para penggagas lembaga-lembaga pendidikan modern Islam di Ranah Minang pada masa itu pernah berguru pada Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, imam sekaligus pengajar mazhab Syafii di Masjid al-Haram, Makkah.

Syaikha Rahmah el-Yunusiah (tengah) bersama pengajar di Diniyah Putri Padang Panjang – (Public Domains)
Perjuangan dan Dedikasi
Rahmah tidak berupaya memperhadapkan kaum adam dan kaum hawa, melainkan menyelaraskan kemajuan keduanya dalam dakwah Islam. Kegigihannya menggema hingga ke Jawa. Bagi Ki Hadjar Dewan tara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, perempuan tersebut terbilang istimewa. Sebab, Diniyah Putri Padang Panjang terbentuk atas inisiatif pribadi Rahmah, bukan kelompok organisasi tertentu.
Mendirikan sekolah khusus perempuan adalah cita-citanya sedari kecil. Awalnya, Rahmah menyampaikan maksudnya itu kepada sang kakak, Zainuddin Labai el-Yunusi. Sebab, dia merasa tergugah lantaran kakak lelakinya itu ikut merintis sekolah yang terbilang maju di Minang, Sumatra Thawalib. Ternyata, Zainuddin mendukung keinginan adiknya itu. Rahmah kemudian mengajak kawan-kawannya di persatuan murid Diniyah School. Maka pada 1 November 1923, Diniyah Putri Padang Panjang terbentuk dengan diketuai Rahmah el-Yunusiah.
Pada awalnya, Diniyah Putri hanya memiliki murid 71 orang. Mereka adalah perempuan yang belum lama menikah atau memiliki anak-anak masih balita. Hingga akhir masa hidupnya, Zainuddin terus mendukung kelangsungan Diniyah Putri dan membesarkan hati Rahmah, adiknya.
Perkembangan dan Pengaruh
Saat itu, aktivitas pengajaran masih terpusat di Masjid Pasar Usang, Padang Panjang. Dua tahun kemudian, Rahmah berinisiatif membangun gedung baru untuk Diniyah Putri. Rencana ini sempat terkendala musibah gempa bumi yang mengguncang Sumatra Barat pada 28 Juni 1926. Namun, semangat Rahmah tidak kenal surut.
Hanya berselang sekitar satu bulan kemudian, Rahmah memulai pembangunan kembali asrama Diniyah Putri, kali ini di atas tanah wakaf milik ibundanya, Ummi Rafiah.
Dalam sebuah suratnya, Rahmah el-Yunusiah mengungkapkan tekadnya untuk memajukan pola pikir kaum perempuan melalui pendidikan: “Telah terpatri di mata hati saya akan menyampaikan cita-cita Diniyah School Putri ini juga akan menyampaikan tujuan Diniyah School Putri ini, untuk seluruh anak bangsanya, Putri Islam Indonesia ini.”
Upayanya ini mengundang simpati banyak orang. Keluarga besarnya dari Aceh, Sumatra Utara, dan Malaysia, ramai-ramai menyumbangkan harta dan pemikirannya demi keberlangsungan Diniyah Putri. Itu terutama dalam masa-masa kritis pada 1927.
Perlawanan terhadap Diskriminasi
Pada 1932, penguasa menerbitkan aturan diskriminatif terhadap penduduk pribumi, yakni Ordonansi Sekolah Liar. Dengan begitu, pemerintah kolonial dapat mengecap sekolah-sekolah yang berdiri atas inisiatif pribumi sebagai terlarang.
Rahmah tidak tinggal diam. Dia bahkan memimpin Panitia Penolak Ordonansi Sekolah Liar di Padang Panjang. Hubungan antara kaum terpelajar Minang dan pemerintah kolonial cukup memanas. Puncaknya adalah kasus Persatuan Muslimin Indonesia (Permi) masih di tahun 1932.
Tiga orang tokoh muda Muslim Minangkabau ditangkap Belanda untuk kemudian dibuang ke Digul (Papua), yakni Mochtar Lutfi, Iljas Ja’coub dan Djalaluddin Thaib. Ada pula tokoh yang lebih muda, Abdul Gaffar Ismail (ayahanda penyair Taufiq Ismail) yang juga ikut ditangkap Belanda untuk kemudian diasingkan ke Pekalongan, Jawa Tengah.
Kiprah dalam Pendidikan dan Perjuangan
Rahmah el-Yunusiah sekuat tenaga memimpin Diniyah Putri setidaknya selama 46 tahun. Acapkali, dia mengorbankan harta miliknya demi keberlangsungan lembaga edukasi tersebut. Upayanya berbuah manis. Dalam beberapa tahun, Diniyah Putri berkembang pesat. Fasilitas perpustakaannya selalu lengkap dengan koleksi-koleksi buku berbagai bahasa, termasuk Indonesia (Melayu), Arab, Inggris, Belanda, dan Prancis.
Diniyah Putri ikut pula mempelopori hadirnya taman kanak-kanak (freubel school) di Ranah Minang. Kemudian, dibuka pula Junior School (sekolah dasar) yang berjenjang hingga ke tingkat ibtidaiyah dan tsanawiyah. Puncaknya, dalam masa kepemimpinan Rahmah, pada 1937 Diniyah Putri mendirikan program Kulliyah al-Mu’allimat al-Islamiyah. Itu merupakan ajang mendidik para perempuan calon guru tiga tahun lamanya.
Kabar kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 tidak langsung menyebar merata ke seluruh Tanah Air. Namun, begitu berita ini tiba di Sumatra Barat, Rahmah el-Yunusiah terpompa semangatnya. Rahmah memperoleh berita Proklamasi dari Engku Syafei selaku ketua Badan Penasehat Pusat (Chuo Sangi In) cabang Sumatra Tengah. Konon, perempuan itulah yang pertama kali di Sumatra Barat mengibarkan bendera Merah Putih sesudah Indonesia resmi merdeka.
Peran dalam Revolusi dan Pendidikan
Pada masa revolusi, Rahmah mempelopori pembentukan tentara keamanan rakyat (TKR) serta mengumpulkan laskar-laskar pejuang Muslim yang berada di banyak organisasi Sumatra Barat. Tak mengherankan bila ia berjulukan Bundo Kanduang para pejuang. Perjuangan Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan berujung manis. Pada 1949, Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia, meskipun minus Papua Barat. Rahmah lantas kembali sepenuhnya ke dunia pendidikan.
Dia terus berupaya memajukan kegiatan belajar-mengajar di Diniyah Putri Padang Panjang sehingga menjadi panutan. Dalam pada itu, Indonesia menuai perhatian dari dunia Islam sebagai negeri mayoritas Muslim yang baru saja berhasil merebut kedaulatan. Pada 1955, Rektor Universitas al-Azhar Kairo saat itu, Dr Syaikh Abdurrahman Taj berkesempatan mengunjungi Indonesia. Dia juga menyambangi Padang Panjang, termasuk Diniyah Putri yang dikepalai Rahmah el-Yunusiah.
Seperti dituturkan Taufiq Ismail dalam tulisannya, rektor al-Azhar Kairo ketika itu begitu terpana melihat bagaimana hebatnya sistem dan praktik pendidikan Islam di Diniyah Putri yang didirikan Rahma. Sebab, Syaikh Abdurrahman tidak menyangka bahwa ada lembaga pendidikan khusus Muslimah di negeri non-Arab.
Bahkan, Taufiq menyebut, sang rektor agak malu-malu lantaran Universitas al-Azhar sejak berdirinya sampai saat itu belum meruangkan pendidikan yang cukup kondusif bagi kaum hawa, tidak sebagaimana kaum pria. Kunjungannya ke Indonesia rupanya membuka kesadarannya dari sikap jumud. Usai melawat dari Indonesia, Syaikh Abdurrahman Taj mengumpulkan para pakar dan pemangku kepentingan di al-Azhar.
Hasilnya, Universitas al-Azhar akan membuka Kulliyatul Banat, yakni lembaga pendidikan khusus Muslimah. Salah satu kampus tertua di dunia itu mulai membuka seluas-luasnya kesempatan belajar di ranah pendidikan tinggi bagi kaum perempuan. Sebagai tanda apresiasi, pada 1957 pihak kampus al-Azhar mengundang Rahmah el-Yunusiah ke Kairo, Mesir, untuk dianugerahi gelar doktor kehormatan (honoris causa). Sejak saat itu, tokoh Muslimah Indonesia ini berhak menyandang sebutan Syaikhah.


