Ribuan tahun rahasia di balik simbol @

Posted on



Di Taiwan, simbol @ dikenal sebagai “tikus kecil”, sementara di Rusia disebut “anjing”. Dalam bahasa Ibrani, tanda ini disebut “strudel”, dan dalam bahasa Belanda ia dikenal sebagai “ekor monyet”. Meski terlihat sederhana, simbol @ memiliki sejarah yang sangat panjang, yang bisa ditelusuri hingga ribuan tahun silam.

Pada 2010, Paola Antonelli, kurator senior MoMA New York, membuat keputusan penting. Dia ingin mengadakan pameran yang menunjukkan bahwa barang-barang sehari-hari seperti Post-it, M&Ms, klip kertas, atau alat dapur populer bisa menjadi bagian dari seni. Pameran ini memperlihatkan objek-objek yang sering kita gunakan tanpa menyadari betapa uniknya mereka.

Menurut Antonelli, museum menciptakan jarak dan drama untuk membantu orang melihat benda-benda tersebut dengan cara baru. Tiba-tiba, orang menjadi takjub dengan kisah di balik benda-benda itu. Mereka sadar bahwa ada semesta di balik bentuk sederhana yang selama ini tidak pernah mereka perhatikan.

Ketika pameran itu selesai, Antonelli memasukkan simbol @ ke dalam koleksi permanen MoMA. Coba lihat keyboard Anda. Jangan abaikan simbol mata uang. Mungkin tidak ada karakter yang memiliki bobot budaya lebih signifikan daripada @. Simbol ini telah menjadi bagian penting dari internet. Ia menghubungkan email Anda, menonjolkan nama pengguna di tengah lautan kalimat. Bahkan hari ini, Anda pasti sudah menggunakan simbol itu.

Bagaimana @ menjadi begitu signifikan? Ini mungkin terlihat seperti fenomena modern. Namun, sebenarnya ada cerita yang berakar ribuan tahun sebelumnya di balik lekukan yang terlihat seperti huruf “a” ini. Tanda ini telah melintasi batas-batas negara, budaya, dan bahasa dalam sejarah manusia.



“Itu sebenarnya sebuah singkatan,” kata Keith Houston, penulis buku Shady Characters: The Secret History of Punctuation. “Yang jadi pertanyaan: ini awalnya singkatan dari apa?” ujarnya.

Satu hal yang jelas: tanda @ berkaitan dengan tembikar. Bangsa Yunani kuno menyukai guci tanah liat yang disebut amphora. Amphora digunakan untuk menyimpan anggur, gandum, minyak zaitun, dan bahan-bahan lainnya. Ini menjadi kebiasaan di wilayah Mediterania selama berabad-abad. Lama kelamaan, amphora menjadi standar pengukuran.

“Pedagang sering bilang, ‘Saya akan menjual sekian amphora barang dengan harga sekian’,” jelas Houston. “Akhirnya, orang mulai menulis huruf ‘a’ dengan ekor panjang yang melingkar, dan menghapus sisa huruf lainnya [dari kata amphora].”

Cerita kegagalan yang mengawali penemuan internet – ‘Kami hanya berusaha membuatnya berfungsi’

Aitana Lopez, sosok influencer ciptaan AI yang menghasilkan puluhan juta rupiah per bulan

Apa itu ‘digital overload’ yang kerap dialami perempuan dan ibu rumah tangga?

Pada 4 Mei 1536, pedagang bernama Francesco Lapi menulis surat dari Seville ke Roma. Dia mengatakan bahwa satu amphora anggur berharga sekitar 70-80 dukat. Lapi menggunakan @ sebagai singkatan dari amphora. Itulah contoh pertama yang diketahui dari penggunaan tanda @ dalam konteks modern. Namun, simbol ini sebenarnya lebih tua dari itu.

Tanda @ juga ditemukan pada naskah Bulgaria tahun 1375 meski tanpa makna khusus. Di situ, @ menjadi hiasan pada huruf pertama kata “amen”.

Setelah ratusan tahun, amphora tidak lagi digunakan. Meskipun demikian, tanda @ tetap bertahan karena dipakai oleh akuntan untuk menunjukkan harga atau jumlah barang yang dijual.

“Akarnya ada pada mesin ketik, yang mulai menyebar di Amerika Serikat pada abad ke-19,” kata Gerry Leonidas, profesor tipografi di Universitas Reading UK. Meledaknya pesanan lewat pos di AS memunculkan kebutuhan administrasi yang besar terhadap juru ketik profesional.

“Mesin ketik diciptakan untuk mengurangi risiko tulisan tangan yang buruk, meningkatkan efisiensi, dan membuat administrasi kantor lebih teratur,” ujar Leonidas. Saat itu, mesin ketik masih begitu rumit dan mahal. Beberapa model awal tidak memiliki angka 1 dan 0. Sebagai gantinya, penggunanya bisa memakai huruf O dan I.

Namun pada akhir 1800-an, tanda @ dianggap cukup penting untuk dimasukkan di mesin ketik. “Mengingat mesin ketik berkaitan erat dengan dunia bisnis dan akuntansi, tanda @ terus bertahan di lintas generasi mesin ketik karena perannya yang signifikan,” ujarnya.



Ketika komputer mulai memakai keyboard, tanda @ pun ikut terbawa. Tetapi di luar dunia akuntansi, tanda ini tidak terlalu terpakai. Sampai akhirnya Ray Tomlinson, ilmuwan komputer di proyek pemerintah AS bernama Arpanet, menemukan sistem surat elektronik (email).

Tomlinson punya gagasan bahwa orang-orang perlu berkirim pesan satu sama lain. Ketika dia menulis kode pemrogramannya, dia merasa perlu suatu cara untuk menunjukkan di mana posisi orang itu di dalam jaringan. Tomlinson melihat @ keyboard-nya. Dia menaruh tanda @ di tengah alamat surel. Pada 1971, dia mengirim email pertama di dunia.

Seiring berkembangnya internet di AS dan mengubah kehidupan manusia selama setengah abad berikutnya, tanda @ ikut mendunia.



Menariknya, simbol @ menjadi punya banyak nama ketika menyebar ke banyak bahasa. Orang Italia menyebutnya “chiocciola” (siput) karena bentuknya mirip cangkang siput. Dalam bahasa Ibrani, ini disebut “strudel”. Orang Ceko menyebutnya “zavináč” yang berarti rollmops, yakni ikan hering gulung acar yang biasa diisi daging.

Di Rusia, orang menyebutnya “soboka” yang berarti anjing karena tanda ini terlihat seperti hewan yang meringkuk tidur. Istilah ini bahkan menjadi sumber lelucon, “tulis namaku di anjing kecil itu.”

“Sekarang, hampir semua orang menyebutnya ‘at’. Banyak hal terpengaruh bahasa Inggris selama 25 tahun terakhir,” kata Nick Fransen, konsultan manajemen lepas asal Belgia. Di Belgia, orang bisa tumbuh dengan tiga bahasa; Flemish (Belanda Belgia), Prancis atau Jerman.

“Beberapa hari lalu, saya mengobrol dengan orang tua yang belum terlalu terpengaruh bahasa Inggris, dan tanpa sadar saya menyebutnya lagi ‘apenstaartje’,” kata dia. “Apenstaartje” adalah istilah tradisional Belanda untuk @ yang berarti “ekor monyet”.

Dalam bahasa Inggris, tanda ini dibaca “at”, walaupun terkadang disebut sebagai “at komersil” karena keterkaitannya dengan bisnis. “Simbol ini tidak punya nama khusus dalam bahasa Inggris karena definisinya sudah cukup jelas dan sudah diadopsi sejak awal,” kata Leonidas.

“Saat orang mulai mengadaptasi simbol-simbol ini ke bahasa lokal, mereka perlu cara mudah untuk mengingatnya. Ketika Anda melihat tanda ini di komputer, Anda akan menggambarkan bentuknya ketimbang mencari tahu namanya. Dalam bahasa Yunani, kami menyebutnya ‘bebek kecil’.”

Namun, sama seperti Tomlinson yang mengadopsi tanda ini untuk karyanya, @ juga diinterpretasikan ulang untuk keperluan lain. Di Spanyol dan Portugal, @ adalah “arroba”, istilah yang terkait dengan amphora dan juga merupakan satuan berat dan ukuran standar. Namun saat ini, @ kadang dipakai sebagai karakter yang netral gender dalam bahasa Spanyol. Ia menggantikan huruf “O” yang bersifat maskulin dan “A” yang feminin.

Saat menulis kata “teman” dalam bahasa Spanyol misalnya, orang bisa mengetiknya menjadi “amig@s” supaya lebih inklusif. “Ada sesuatu yang sangat menarik tentang ‘at’ ini yang menurut saya unik, yaitu apa yang terjadi setelah simbolnya,” kata Leonidas.

Ketika menulis nama Anda, Anda akan menggunakan huruf kapital, lalu ada spasi di antara nama depan dan belakang. “Namun, @ memaksa kita memakai huruf kecil untuk nama dan menghilangkan semua spasi,” katanya. “Kita harus menciptakan kata unik tunggal untuk diri kita sendiri. Tanda ini memaksa kita untuk memikirkan cara kita mempresentasikan identitas kita.”

Penelitian menunjukkan sesuatu yang mungkin pernah Anda lakukan: mencari nama pengguna (username) tidak sesederhana itu. Biasanya, orang ingin nama pengguna mereka unik dan mewakili identitas mereka. Nama pengguna digunakan untuk mengekspresikan siapa kita, atau untuk menciptakan persona online yang berbeda dengan identitas dunia nyata kita.

Ahli linguistik yang mempelajari budaya online menemukan bahwa nama pengguna amat berkaitan dengan identitas kita. Mengubahnya terasa seperti mengubah nama atau penampilan kita di dunia nyata. Di internet, tanda @ lekat dengan identitas online kita.



“Tentu saja kita punya ikatan emosional dengan tanda @,” kata Leonidas. “Simbol itu berkaitan dengan cara kita memahami eksistensi diri di dunia digital.”

Pameran MoMA berjudul Pirouette: Turning Points in Design menawarkan cara baru untuk mengapresiasi tanda @, jauh dari keyboard, ribuan tahun setelah akar sejarahnya di tembikar Yunani kuno. “Kita sudah paham bagaimana film dibuat dan musik diciptakan, tapi kita belum terbiasa memahami hal yang sama dari benda sehari-hari,” kata Paola Antonelli dari MoMA. “Pesan yang ingin saya sampaikan lewat tanda @ adalah rasa kagum, momen eureka, dan kebahagiaan sekaligus kebanggaan menjadi bagian dari dunia yang dirancang dengan begitu cermat. Itu perasaan yang muncul ketika saya sadar ada begitu banyak makna tersembunyi di balik ‘pusar kecil’ simbol ini,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *