Peristiwa Kekerasan di Sekolah dan Reaksi Berbagai Pihak
Peristiwa kekerasan yang menimpa seorang siswa di SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, kini menjadi perhatian publik. Insiden ini terjadi setelah siswa berinisial ILP (17 tahun) kedapatan merokok di lingkungan sekolah. Kejadian ini memicu aksi mogok sekolah oleh ratusan siswa dan mendapat perhatian dari berbagai pihak, termasuk anggota DPRD Provinsi Banten, Dede Rohana Putra.
Penyelidikan Harus Dilakukan Secara Terang Benderang
Dede Rohana Putra, anggota Partai Amanat Nasional (PAN), menegaskan pentingnya penyelidikan yang transparan dan tidak bias. Ia mengingatkan agar tidak terburu-buru menghakimi kepala sekolah, meskipun tindakan kekerasan fisik tidak dapat dibenarkan.
Menurut Dede, perlu ada tim investigasi yang melakukan kroscek menyeluruh di lapangan. Ia menilai bahwa setiap masalah pasti memiliki akar permasalahan yang perlu dipahami secara utuh.
“Jadi memang kekerasan fisik itu tidak pernah dibenarkan dalam hukum kita, akan tetapi ada asap pasti ada api, ada yang melatarbelakangi. Maka kita harus bentuk tim investigasi harus kroscek ke lapangan ini karena apa,” ujar Dede.
Usulan Jalan Tengah yang Adil
Selain itu, Dede juga mengusulkan jalan tengah yang adil. Jika hasil investigasi membuktikan bahwa kedua belah pihak bersalah, maka sanksi harus diterapkan kepada keduanya, tidak hanya kepada kepala sekolah. Ia bahkan menyarankan sanksi tegas bagi siswa untuk menciptakan efek jera.
“Kalau kepsek diberikan sanksi ya siswa juga karena merokok di sekolah atau karena tidak disiplin. Apakah siswanya dikeluarkan jadi efek jera juga,” tegasnya.
Kekhawatiran tentang Preseden Buruk
Dede juga menyampaikan kekhawatiran jika hanya kepala sekolah yang dihukum saat mencoba menegakkan aturan, sedangkan siswa yang jelas-jelas melanggar malah dibela. Hal ini bisa menciptakan preseden buruk, di mana guru takut untuk mendisiplinkan siswa yang bermasalah.
“Jangan sampai ketika kita menghukum kepsek karena menegakkan aturan misalnya, sedangkan siswa yang salah malah dibela, nanti kepsek yang lain mau mendisiplinkan siswa yang bermasalah jadi pada takut, nanti siswa makin berani,” paparnya.
Penonaktifan Kepala Sekolah
Terkait keputusan menonaktifkan kepala sekolah, Dede setuju hal itu dilakukan dalam rangka proses investigasi agar berjalan objektif. Namun, ia mengingatkan agar tidak langsung mengambil keputusan final untuk memberhentikan kepala sekolah.
“Harus terang benderang dulu ya sebelum mengambil keputusan, harusnya dalam rangka posisi investigasi, harus dinonjobkan dulu dan tugasnya sementara dihandle oleh wakasek, biar tim investigasi ini bisa berjalan,” katanya.
Pengalaman Kasus Viral di Jawa
Dede merujuk pada kasus viral di Jawa di mana seorang kepala sekolah yang menegur siswa anak pejabat awalnya disalahkan, namun akhirnya terbukti benar. Ia berharap pengalaman ini menjadi pelajaran bagi semua pihak.
“Dan itu harus jadi pelajaran buat kita, ketika mendapatkan informasi itu kita harus kroscek lah, harus tabayyun jangan sampai keputusan itu diambil ternyata ada yang terdzolimi,” imbaunya.
Kepala Sekolah Dinonaktifkan oleh Gubernur
Kepala Sekolah SMAN 1 Cimarga, Dini Fitria, kini dinonaktifkan sementara dari jabatannya. Penonaktifan itu dilakukan atas perintah langsung dari Gubernur Banten, Andra Soni. Keputusan ini diambil setelah Dini diduga menampar salah seorang siswa yang kedapatan merokok.
Persoalan ini pun tengah ramai dan viral di media sosial, pasca ratusan siswa di sekolah tersebut melakukan aksi mogok sekolah.
Kronologi Kejadian
ILP dalam kesempatannya mengakui merokok, tapi tidak di sekolah. Ia menghisap rokok di warung dekat sekolah, pada Jumat (10/10/2025) pagi.
“Saya kaget waktu ketemu kepsek. Rokok langsung saya buang, tapi disuruh nyari lagi sama kepala sekolah,” katanya, dikutip dari PasarModern.com, Senin (13/10/2025).
Singkat cerita, Dini Fitria kemudian menyuruh ILP mencari rokok yang telah dihisapnya. Kala itu ibu kepsek dalam kondisi marah serta memaki-maki ILP. Tidak berhenti di situ, Dini Fitria juga diduga melayangkan pukulan ke arah tubuh ILP.
“Beliau marah, nendang saya di bagian punggung, terus nampol saya di pipi kanan.”
“Kepsek bilang g*k, a*g, terus nyuruh saya nyari rokok lagi, padahal udah enggak ada,” tegas ILP.
Orang Tua Minta Ibu Kepsek Diberhentikan
Orang tua ILP, Tri Indah Alesti membenarkan telah terjadi penganiayaan kepada anaknya. Ia mengaku tidak terima saat mengetahui kejadian yang menimpa ILP.
“Saya sebagai orang tua jelas sakit hati dan tidak terima anak saya ditempeleng dan ditendang di sekolah,” katanya.
Indah melanjutkan, pihaknya siap menempuh jalur hukum dengan melaporkan kepsek SMA Negeri 1 Cimarga ke Polres Lebak. Ia juga mendesak Dinas Pendidikan turun tangan memberikan sanksi kepada Dini Fitria.
“Harapan saya, kepala sekolah itu diberhentikan. Kalau masih menjabat, anak saya bisa trauma dan takut masuk sekolah,” tandas dia.
Pernyataan Kepsek
Kepala Sekolah (Kepsek) SMA Negeri 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Dini Fitria buka suara, terkait dugaan kekerasan terhadap siswa, yang menyeret nama dirinya. Dini dituding telah melakukan tindakan kekerasan terhadap salah satu anak muridnya yang kedapatan merokok di lingkungan sekolah.
Korban berinisial ILP (17), saat ini masih duduk di bangku kelas XII. Peristiwa kekerasan itu terjadi pada Jumat (10/10/2025) pagi, lantaran ILP kedapatan merokok di lingkungan sekolah.
Dini menjelaskan, peristiwa terjadi pada hari Jumat bertepatan dengan pelaksana program Jumat bersih. Namun, pada saat dirinya berkeliling melihat seorang siswa tengah merokok di dekat warung kecil yang berada di luar pagar sekolah.
“Jumat Bersih itu bagian dari rangkaian kegiatan pembentukan karakter para siswa. Saya lihat dari jarak sekitar 20-30 meter, ada asap rokok di tangan anak itu,” kelasnya.
“Saya panggil dengan suara agak keras, karena jaraknya cukup jauh. Anak itu langsung lari,” sambungnya.
Saat dimintai keterangan, kata Dini, siswa tersebut tidak mengakui perbuatannya, yang membuat dirinya sempat emosi karena merasa dibohongi. Dini juga mengakui, telah menampar siswanya tersebut, akan tetapi tidak begitu keras.
“Saya kecewa bukan karena dia merokok, tapi karena tidak jujur. Saya spontan menegur dengan keras, bahkan sempat memukul pelan karena menahan emosi. Tapi saya tegaskan, tidak ada pemukulan keras,” katanya.
Tak hanya itu, Kepsek itu membantah bahwa dirinya menendang siswanya tersebut. “Saya tidak menendang. Hanya menepuk bagian punggung, itu pun karena emosi spontan. Tidak ada luka atau bekas apa pun,” ucapnya.
Menurut Dini, warung tempat kejadian tersebut memang sudah menjadi perhatian pihak sekolah, lantaran diduga kerap menjual rokok kepada siswa.
“Kami sudah pernah mengingatkan pemilik warung, agar tidak menjual rokok. Bahkan kami buat kesepakatan, kalau masih ketahuan, kantinnya akan kami tutup sementara,” ujarnya.
Dini berharap peristiwa ini bisa menjadi pembelajaran, agar lebih berhati-hati dan menjaga komunikasi antara guru, siswa dan orang tua.
“Kami di sekolah berupaya membentuk karakter anak, bukan merusak. Kalau ada kekeliruan dalam cara saya menegur, tentu akan saya evaluasi,” pungkasnya.


