ISEF 2025 Jadi Perekat Koneksi Pemerintah, Industri, dan UMKM

Posted on

Pameran Indonesia Sharia Economic Forum (ISEF) 2025 yang berlangsung di Jakarta International Expo (JIExpo) pada tanggal 8–12 Oktober 2025 menjadi ajang penting dalam memperkuat ekonomi syariah dan inklusi keuangan nasional. Acara ini mengusung tema Synergy of Islamic Economic and Finance to Strengthen Economic Self-Reliance and Inclusive Economic Growth dan menjadi pameran ke-12 yang diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan, baik nasional maupun internasional.

Selama lima hari penyelenggaraan, lebih dari 90.000 pengunjung hadir untuk menikmati berbagai aktivitas dan pameran yang disajikan. Mulai dari UMKM, kementerian, lembaga negara, hingga perbankan turut serta memperkenalkan produk-produk mereka. Dari lantai 1 hingga 6, setiap sudut JIExpo dipenuhi oleh tenant yang menampilkan berbagai produk, seperti dagangan halal, fesyen muslim, kompetisi masakan halal, dan layanan keuangan syariah. Selain itu, ISEF juga memberikan ruang bagi UMKM untuk mengekspor produk halal dan memperluas pasar mereka secara global.

Salah satu peserta yang sukses adalah Aranaspice, perusahaan rempah dan herbal yang didirikan oleh Sri Astutik atau dikenal sebagai Tuti. Selama ISEF 2025, ia berhasil mencatatkan letter of intent (LoI) dari dua negara, yaitu Inggris dan Uni Emirat Arab dengan nilai Rp2 miliar. Ini merupakan bukti nyata bahwa ISEF menjadi platform yang efektif untuk menjalin kerja sama bisnis antar pelaku usaha dan pembeli internasional.

Aranaspice, yang berdiri sejak tahun 2018, telah menyuplai berbagai rempah dari seluruh Indonesia ke eksportir dan buyer internasional. Perusahaan ini juga bekerja sama dengan petani lokal dan mitra binaan untuk memastikan keberlanjutan sosial ekonomi. Tuti mengakui bahwa dukungan dari Bank Indonesia sejak tahun 2023 sangat membantu dalam pengembangan bisnisnya, termasuk inovasi produk dan teknik pemasaran. Bahkan, ia sempat mendapat suntikan modal saat tampil di Expo Osaka, Jepang pada Mei 2025.

Tuti menyampaikan rasa syukur atas kesempatan yang diberikan oleh ISEF. Di sana, ia tidak hanya bisa menjalin relasi dengan sesama UMKM, eksibitor, dan buyer, tetapi juga merasa bangga dapat berkontribusi dalam pengembangan ekonomi syariah di Indonesia.

Hingga 11 Oktober 2025, ISEF 2025 mencatatkan total transaksi sebesar Rp3,1 triliun, dengan komitmen dan realisasi pembiayaan senilai Rp2,4 triliun, serta omset penjualan sebesar Rp8,7 miliar. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan bahwa ISEF bukan hanya milik Bank Indonesia, tetapi juga milik bangsa Indonesia. Ia menekankan bahwa perkembangan ekonomi syariah adalah milik bersama.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan bahwa sistem ekonomi syariah akan menjadi strategi utama Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai pusat ekonomi syariah dunia. Ia memaparkan enam program strategis yang dibagi ke dalam tiga pilar utama: peningkatan peringkat Indonesia, penguatan rantai produk dan ekonomi halal, serta literasi dan inklusi ekonomi syariah.

ISEF juga menjadi platform untuk mendorong tingkat literasi keuangan dan ekonomi syariah di Indonesia menjadi 50% pada 2025. Target ini sejalan dengan upaya pemerintah menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dan halal global, melampaui Arab Saudi dan Malaysia. Berdasarkan data State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2025, pertumbuhan konsumsi masyarakat muslim global terhadap produk halal terus meningkat, dari USD1,62 triliun pada 2012 menjadi USD2,43 triliun pada 2023, dan diproyeksikan mencapai USD3,36 triliun pada 2028.

Direktur Eksekutif Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) KH. Sholahudin Al Aiyub menjelaskan bahwa ISEF menjadi ajang konsolidasi berbagai stakeholder dari pemerintah, industri, dan masyarakat. KNEKS menggunakan ISEF untuk memaparkan program kerja sesuai amanah pemerintah dalam menyusun roadmap ekonomi dan keuangan syariah melalui dukungan Komite Daerah Keuangan dan Ekonomi Syariah (KDKES).

ISEF juga menjadi forum multiplier effect ekonomi karena semua kegiatan yang ada pasti mendorong roda perekonomian berputar. KNEKS juga mendorong layanan syariah untuk Koperasi Desa Merah Putih yang baru diluncurkan oleh Presiden. Layanan ini memungkinkan KNEKS menarik dana sosial syariah seperti zakat, infaq, shadaqah, dan wakaf menjadi ekosistem Koperasi Desa Merah Putih.

Dalam rantai ekosistem halal, KNEKS mendorong UMKM berkontribusi dalam layanan syariah, salah satunya rumah potong hewan (RPH) bersertifikat halal. Menurut Kyai Aiyub, bila pemotongan hewan sudah memiliki sertifikat halal, maka sekitar 50% dari persoalan halal sudah terlaksana. Hal ini tentu membantu rantai produk makanan halal semakin banyak di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *