Kembalinya Kontrol Hamas di Gaza dan Penghancuran Milisi yang Didukung Israel
Pascagencatan senjata, situasi di Jalur Gaza menunjukkan perubahan signifikan. Pasukan keamanan Hamas kembali memegang kendali wilayah tersebut, sementara milisi bersenjata yang didukung Israel mulai dilumpuhkan. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa petugas keamanan Hamas telah mengambil alih daerah-daerah yang sebelumnya dikuasai oleh kelompok-kelompok yang berada di bawah pengaruh Israel.
Berdasarkan informasi dari sumber-sumber keamanan, pasukan keamanan Hamas telah sepenuhnya mengendalikan milisi bersenjata di Kota Gaza. Mereka juga sedang melakukan operasi penyisiran menyeluruh untuk membersihkan wilayah dari ancaman yang dianggap tidak aman. Dalam beberapa jam terakhir, beberapa orang yang dituduh melakukan eksekusi terhadap pengungsi dan bekerja sama dengan penjajah tewas dalam bentrokan dengan milisi di Gaza.
Selain itu, sekitar 60 anggota milisi berhasil ditangkap dan dibawa ke lokasi yang aman untuk pemeriksaan lebih lanjut. Sumber senior di Kementerian Dalam Negeri Gaza mengungkapkan bahwa bentrokan meletus di Kota Gaza dengan “milisi bersenjata yang berafiliasi dengan penjajah,” yang mengakibatkan kematian dan cedera. Pasukan keamanan saat ini sedang melakukan pengepungan terhadap milisi tersebut.
Tindakan Penegakan Hukum dan Pemulihan Keamanan
Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Nasional di Gaza mengumumkan langkah-langkah untuk mengatasi situasi keamanan dan masyarakat. Tujuan utama dari langkah ini adalah untuk memulihkan keamanan dan stabilitas di Jalur Gaza setelah gencatan senjata diberlakukan.
Dalam pernyataannya, Kementerian tersebut menyatakan bahwa pintu pengampunan dan amnesti umum telah terbuka bagi semua orang yang bergabung dengan geng tetapi tidak terlibat dalam pembunuhan. Orang-orang tersebut diminta untuk menyerahkan diri kepada pihak keamanan dalam waktu seminggu, mulai Senin pagi hingga Ahad, 19 Oktober 2025, agar status hukum dan keamanannya dapat diselesaikan secara permanen.
Amnesti ini disebut sebagai upaya untuk menjaga persatuan internal, memperkuat front internal, membentengi masyarakat, dan memulihkan ketertiban umum. Namun, Kementerian Dalam Negeri di Gaza memperingatkan siapa pun yang menolak untuk menyerah atau terus melanggar hukum akan menghadapi tindakan tegas sesuai dengan hukum. Keamanan publik dan hak-hak warga negara tidak boleh dilanggar dalam keadaan apa pun.
Peran Milisi yang Didukung Israel
Dengan dukungan Israel, geng-geng bersenjata telah terbentuk dalam beberapa bulan terakhir. Beberapa di antaranya mengkhususkan diri dalam merampok bantuan dan properti pribadi, sementara yang lain—seperti kelompok Yasser Abu Shabab—telah aktif melawan perlawanan di bawah perlindungan tentara pendudukan.
Perjanjian gencatan senjata di Gaza mulai berlaku pada Jumat siang, dan sejak itu, lebih dari setengah juta pengungsi telah kembali ke Kota Gaza dan Jalur Gaza utara. Namun, konflik masih terjadi, terutama di wilayah-wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh milisi-milisi yang didukung Israel.
Beberapa sumber Palestina melaporkan bahwa jurnalis Saleh Al-Jafrawi dibunuh oleh orang-orang bersenjata di selatan Kota Gaza. Sumber mengatakan bahwa Al-Jafrawi ditembak oleh anggota “milisi bersenjata” saat meliput kehancuran di lingkungan Al-Sabra. Aktivis media sosial menyebarkan foto-foto jurnalis tersebut beberapa saat setelah kematiannya, membenarkan bahwa dia telah diculik dan dieksekusi oleh militan.
Penyelidikan dan Kepatuhan terhadap Hukum
Sumber keamanan mengonfirmasi bahwa pasukan keamanan telah sepenuhnya mengendalikan milisi bersenjata di Kota Gaza dan sedang melakukan operasi penyisiran menyeluruh. Klip video yang beredar di media sosial menunjukkan bentrokan antara aparat keamanan dan militan di lingkungan Sabra.
Sebelumnya, surat kabar Israel Haaretz mengutip para perwira Israel yang mengatakan bahwa tentara penjajah mempekerjakan milisi di Jalur Gaza untuk melaksanakan misi militer dengan imbalan gaji dan kendali wilayah. Surat kabar tersebut melaporkan bahwa tentara telah memperluas perekrutan milisi, bekerja dalam koordinasi dengan tentara Israel di lapangan.

Miliisi Yasser Abu Shabab yang didukung Israel untuk melawan Hamas di Jalur Gaza. – (facebook)
Konflik yang Terus Berlangsung
Laporan surat kabar tersebut muncul hanya beberapa hari setelah sumber keamanan perlawanan Palestina mengatakan kepada Aljazirah bahwa sekelompok kolaborator dan tentara yang menyamar telah menculik mujahidin di Jalur Gaza pada bulan itu. Sumber tersebut menyatakan bahwa geng-geng tersebut memainkan peran murahan dalam mengumpulkan informasi bagi pendudukan tentang lokasi para tahanan dan terowongan perlawanan.
Pada awal bulan yang sama, seorang pejabat Hamas mengatakan bahwa titik-titik bantuan di Jalur Gaza digunakan untuk merekrut dan bertemu dengan kolaborator penjajah. Dia menunjukkan bahwa narkoba digunakan untuk menjerat generasi muda, menjebak mereka pada masalah keamanan, dan menugaskan mereka untuk melakukan misi spionase.

Miliisi Yasser Abu Shabab yang didukung Israel untuk melawan Hamas di Jalur Gaza. – (facebook)


