13 Fakta Menginspirasi Jane Goodall, Ahli Primat yang Berpulang

Posted on

Jane Goodall, Seorang Ilmuwan yang Meninggalkan Warisan Abadi

Pada Rabu (1/10/2025), dunia kehilangan salah satu tokoh terbesar dalam bidang konservasi dan ilmu pengetahuan. Jane Goodall, primatolog, antropolog, konservasionis, dan aktivis hak-hak hewan, meninggal dunia di usia 91 tahun. Menurut unggahan dari Jane Goodall Institute, ia meninggal karena sebab alamiah saat sedang berada di California dalam tur pidatonya di Amerika Serikat.

Jane Goodall tidak hanya dikenal sebagai ilmuwan, tetapi juga sebagai sosok yang menginspirasi banyak orang melalui dedikasinya untuk melindungi lingkungan dan makhluk hidup. Dari awal kariernya hingga akhir hayatnya, ia selalu memperjuangkan keberlanjutan dan empati terhadap semua makhluk hidup. Berikut adalah beberapa fakta menarik tentang perjalanan hidupnya.

Saat Kecil, Jane Goodall Mengidolakan Tarzan

Jane Goodall menemukan tujuan hidupnya setelah jatuh cinta dengan seorang laki-laki yang tinggal di hutan. Seperti yang dijelaskan dalam buku Jane Goodall: A Biography, Jane sangat mengagumi Tarzan sejak kecil. Ia mengatakan, “Saya sangat mencintai sang Raja Hutan, sangat cemburu pada Jane-nya. Mimpi memiliki kehidupan di hutan bersama Tarzan-lah yang mendorong saya untuk pergi ke Afrika, hidup bersama hewan, dan menulis buku tentang mereka.”

Selama bertahun-tahun, Jane Goodall mengamati hewan dengan rasa takjub. Ia bahkan pernah bersembunyi di kandang ayam untuk mengamati proses bagaimana ayam bertelur. Keluarga Goodall, yang saat itu tidak menyadari hal tersebut, mengira bahwa Jane Goodall hilang.

Bakat untuk Meneliti Simpanse di Tanzania

Filsuf sains bernama Thomas Kuhn pernah menyatakan, “Dalam kondisi normal, ilmuwan atau peneliti bukanlah seorang inovator melainkan pemecah teka-teki, dan teka-teki tersebut diteliti dalam tradisi ilmiah yang ada.” Nah, hal ini dirasakan betul oleh Jane Goodall. Pasalnya, ketika Jane Goodall pertama kali meneliti simpanse, tradisi ilmiah menyatakan bahwa primata nonmanusia sangatlah primitif. Namun, Jane Goodall menepis hal tersebut.

Di bawah bimbingan Louis Leakey, Jane Goodall mulai mengamati simpanse pada 1960. Setelah mengalami beberapa kendala, Jane Goodall justru berhasil membuat dua penemuan penting. Bertentangan dengan kepercayaan umum, simpanse bukanlah kera bodoh yang tidak bisa menggunakan alat, dan mereka tidak menghindari memakan daging. Rupanya, simpanse menggunakan rumput untuk berburu serangga dan memakan babi karena daging babi lezat.

Jane Goodall Menderita Prosopagnosia

Di balik semua keberuntungan yang didapatkan Jane Goodall, rupanya ia juga punya perjuangannya sendiri. Seperti yang dijelaskan The New Yorker, peneliti ini menderita prosopagnosia, atau juga dikenal sebagai buta wajah. Gangguan ini membatasi atau bahkan sepenuhnya mengganggu kemampuan seseorang untuk mengenali wajah, termasuk wajahnya sendiri.

Nah, Jane Goodall ternyata sering lupa dengan wajah-wajah yang biasa ia lihat. Seperti yang ia katakan, “Saya bisa seharian bersama seseorang dan tidak mengenali mereka keesokan harinya.” Prosopagnosia yang dideritanya mengganggu penelitian Jane Goodall. Selain itu, Jane juga buta tampat.

Karya Jane Goodall Sering Dihina

Sebagaimana yang diungkap BBC, Jane Goodall sering dihina dan diejek. Sejumlah kritikus menganggapnya sebagai akademisi yang suka berbohong dan ia dituduh memalsukan temuannya. Mereka mencemooh penelitian Jane Goodall dalam menamai simpanse yang diamatinya dan menepis klaim yang ia buat tentang kepribadian simpanse.

Namun, orang-orang yang pernah mencela Jane Goodall akhirnya menarik kembali pernyataan mereka pada 1965. National Geographic bahkan menyoroti penelitian revolusioner Jane Goodall dalam sebuah film dokumenter. Tiba-tiba, Jane pun menjadi sosok yang berpengaruh.

Bekerja Sama dengan National Geographic

Ketenaran Jane Goodall berawal dari film dokumenter tahun 1965 yang berjudul Miss Goodall and the Wild Chimpanzees. Diproduksi oleh National Geographic dan dinarasikan oleh Orson Welles, film ini menampilkan aksi investigasi Jane Goodall di Tanzania. Film ini secara fundamental mengubah cara pandang orang terhadap primata.

Menurut National Geographic, film ini juga mendefinisikan ulang arti menjadi seorang ilmuwan. Jane Goodall adalah seorang perempuan kulit putih yang berani melakukan penelitian ilmiah di pedalaman Afrika, di masa ketika perempuan enggan mengejar karier di bidang sains.

Kisah Asmara Jane Goodall

Miss Goodall and the Wild Chimpanzees ditayangkan di 25 juta saluran di seluruh Amerika Utara. Di luar layar, sang ilmuwan dan juru kameranya justru menikah di kehidupan nyata. Fotografer Hugo van Lawick awalnya diminta untuk merekam penelitian lapangan dan temuan Jane Goodall. Dalam perjalanannya, keduanya bertemu. Kehadiran Hugo van Lawick membuat Jane Goodall jatuh cinta.

Pada 1967, Jane Goodall dan Hugo van Lawick menjadi orangtua dari kehadiran anak pertama mereka. Sayangnya, tujuh tahun kemudian, mereka bercerai. Perceraian ini diduga karena kesibukan Hugo van Lawick yang sering menghabiskan waktunya untuk bekerja di luar negeri.

Kejadian Traumatis yang Dialami Jane Goodall

Alam memiliki sisi yang menakjubkan dan juga mengerikan. Selama waktunya di alam liar, Jane Goodall bertahan dari segala macam ancaman alam. Ia menghadapi cuaca buruk, parasit berbahaya, dan ular. Ia juga sering menghabiskan waktunya bersama simpanse, hewan yang gemar kanibalisme dan terlibat dalam kekerasan antar anggota. Namun, hal terburuk yang disaksikan Jane Goodall justru bukan datang dari alam, tetapi dari kekejaman manusia.

Pada 1975, 40 penyusup bersenjata menyerbu Cagar Alam Gombe, yang Jane pimpin. Para gerilyawan tersebut menyerang anggota staf sebelum menculik sekelompok peneliti yang disponsori Universitas Stanford. Ke depannya, Jane Goodall hanya mempekerjakan orang Tanzania untuk membantu penelitiannya. Ia tidak ingin mengambil risiko jika ada peneliti yang diculik lagi.

Kontroversi Jane Goodall yang Dituduh Plagiator

Tidak ada pencapaian yang selalu berjalan baik, bahkan sekelas Jane Goodall sekalipun. Pada 2013, bukunya yang berjudul Seeds of Hope: Wisdom and Wonder From the World of Plants, menerima perhatian luar biasa. Ditulis bersama penulis lepas Gail Hudson, karya tersebut berfokus pada tanaman rekayasa genetika. Sayangnya, hal ini malah menimbulkan malapetaka.

Buku ini diisi dengan kutipan yang diambil dari berbagai situs web. Selain itu, tidak dicantumkan sumber-sumbernya. Sumber-sumber tersebut hanya mencakup Wikipedia dan situs-situs tentang bir, teh, tembakau, dan astrologi. Itu sebabnya, Jane Goodall dituduh sebagai plagiator.

Penganiayaan Seorang Petugas di Jane Goodall Institute Chimpanzee Eden oleh Simpanse

Meskipun ada ular berbisa dan cuaca panasnya yang tak tertahankan, alam liar Afrika justru memiliki oasis. Namun terkadang, oasis membutuhkan suaka tersendiri. Hilangnya habitat dan perburuan liar telah menghancurkan berbagai populasi hewan, termasuk simpanse. Sebagai bagian dari upaya selama puluhan tahun untuk membantu melestarikan simpanse, Jane Goodall mendirikan Jane Goodall Institute Chimpanzee Eden di Afrika Selatan pada 2006.

Sayangnya, Jane Goodall Institute Chimpanzee Eden punya pengalaman tragisnya sendiri. Pada 2012 sebuah rombongan tur mengalami kejadian yang mengerikan. Seorang mahasiswa bernama Andrew Oberle yang sedang magang sebagai pemandu wisata, ditarik ke bawah pagar oleh dua simpanse. Luka-lukanya sangat parah sehingga Andrew Oberle mengalami kondisi koma. Andrew Oberle akhirnya selamat tetapi cacat permanen.

Binatang Kesukaan Jane Goodall

Rupanya, mainan masa kecil favorit Jane Goodall adalah boneka simpanse. Mungkin itu sebabnya, ia menghabiskan waktunya bersama simpanse dan berusaha keras untuk melindungi mereka dari bahaya. Namun, seperti yang diakui Jane Goodall sendiri melalui BBC, hal itu bukanlah impian seumur hidupnya. Ketika merenungkan masa-masa awal penelitiannya, ia berkata, “Saya tidak pernah menginginkan menjadi ilmuwan. Saya ingin menjadi seorang naturalis.” Bahkan, simpanse ternyata bukanlah hewan favoritnya.

Meskipun Jane Goodall menyukai simpanse, rupanya ada hewan lain yang sangat ia kagumi. “Hewan favorit saya adalah anjing. Saya suka anjing, bukan simpanse. Simpanse sangat mirip kita: Ada yang baik dan ada yang jahat. Saya tidak menganggap mereka sebagai hewan, sama seperti saya tidak menganggap kita sebagai hewan.”

Jane Goodall Tidak Mengesampingkan Keberadaan Bigfoot

Apa, ya, pendapat Jane Goodall tentang Bigfoot? Yap, primata legendaris dari Amerika Barat Laut ini tidak pernah dianggap serius oleh sebagian besar primatologi atau antropolog. Namun, Jane tidak mengesampingkan kemungkinan keberadaan Bigfoot, lho.

Seperti yang Jane Goodall katakan kepada Yahoo Entertainment pada tahun 2018. “Saya berharap Bigfoot ada.” Pasalnya, Jane berbicara langsung dengan banyak saksi mata yang tampaknya yakin dengan apa yang mereka lihat dan bertemu dengan penduduk asli di Ekuador yang tidak mengetahui mitos Bigfoot yang mereka ceritakan kepadanya, melalui seorang penerjemah, tentang primata tanpa ekor setinggi 2 meter. Meskipun begitu, Jane Goodall tidak pernah menyatakan dirinya sebagai penganut setia Bigfoot.

Penghargaan dengan Satu Set LEGO

Jane Goodall mengatakan bahwa penghargaan, meskipun merupakan bentuk pengakuan yang baik, ternyata tidak terlalu berarti baginya. Namun, hal itu tidak menghentikan perusahaan, lembaga, dan negara untuk memberikan penghargaan kepadanya. Negara asalnya, Inggris, menganugerahkannya gelar Dame pada 2004, dengan penghargaan yang diberikan oleh Pangeran Charles pada saat itu. Disney, yang telah bermitra dengan Jane Goodall Institute dalam upaya konservasi, juga memberikan penghormatan kepadanya melalui Pohon Kehidupan di taman Animal Kingdom mereka di Florida.

Penghargaan yang lebih baru mungkin tidak diberikan langsung kepada Jane Goodall, tetapi tersedia baginya dan siapa pun yang tertarik untuk memilikinya di rumah. LEGO rupanya menawarkan set Penghormatan Jane Goodall, yang terdiri dari tiga pohon, tiga simpanse, dan patung LEGO Jane Goodall sendiri.

Jane Goodall adalah Vegetarian

Jane Goodall merupakan seorang vegetarian seumur hidupnya. Dia juga menentang kekerasan yang dilakukan di peternakan pabrik, baik terhadap hewan maupun lingkungan. Di sisi lain, Jane Goodall masih aktif hingga akhir hayatnya. Ia bepergian hingga 300 hari selama setahun untuk memberikan kuliah. Ia juga sering terlihat di depan umum bersama boneka simpanse yang diberi nama Mr. H. Boneka tersebut diberikan kepadanya oleh pesulap buta bernama Gary Haun. Linimasa lengkap karier Jane Goodall selama lebih dari 60 tahun, termasuk karyanya dengan National Geographic dan Jane Goodall Institute, bisa kamu lihat di situs web Jane Goodall Institute. Selamat jalan Jane Goodall, karya-karyamu akan dikenang dari generasi ke generasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *