Kenangan Hujan yang Menyentuh Hati
Hujan sering kali menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun, bagi banyak orang, hujan juga membawa kenangan yang tak terlupakan. Dari rintik lembut hingga derasnya hujan yang mengguyur, setiap momen hujan memiliki cerita yang unik dan penuh makna.
Hujan yang Mengganggu Rencana Olahraga
Sejak Jumat sore, Kota Tepian Mahakam dihiasi oleh gerimis yang perlahan berubah menjadi hujan yang semakin intens. Sesekali hujan berhenti sejenak, tetapi mendung tetap menggelayut hingga malam. Pada dini hari, rintik kembali datang, mengganggu rencana olahraga jalan kaki bersama tetangga. Akhirnya, saya harus membatalkan rencana tersebut karena hujan yang tidak kunjung reda. Hujan terus mengguyur hingga menjelang sore, dengan awan tebal dan udara yang dingin. Pada senja hari, hujan akhirnya berhenti, menyambut malam minggu yang tenang.
Kembali Ke Alam Sederhana
Ahad pagi, cuaca tampak cerah dengan matahari yang muncul dari balik awan tipis. Bersama suami, saya menyempatkan waktu untuk berolahraga sejenak di gelanggang olahraga, sekaligus membeli beberapa buah segar seperti jambu air, ubi ungu kukus, dan ketan mangga. Untuk sarapan, kami mampir ke Warung Magetan yang selalu menyediakan masakan rumahan. Saat itu, tiba-tiba mendung kembali hadir dan menurunkan rintik kecil. Kami segera menyelesaikan santap pagi dan pulang ke rumah sebelum hujan mengguyur. Beruntung, sesaat tiba di teras rumah, gerimis mulai intens kembali. Agenda berikutnya adalah menghadiri taklim dan arisan di komplek perumahan, berteman dengan suasana sejuk dan teduh serta bunyi tik-tik hujan di atas genting.
Hujan yang Tak Kunjung Reda
Senin pagi ini, kota kembali diguyur hujan. Saya memberitahu para bunda agar kegiatan tahsin libur sejenak karena cuaca tidak bersahabat. Setelah tilawah, beberes rumah, dan membersihkan badan, saya melihat jalanan dari balik jendela. Melalui tirai tipis, saya melamun mengikuti irama hujan yang terus menari di atas jalanan semen perumahan. Beberapa kendaraan tetangga lalu lalang di depan rumah, berangkat kerja dan mengantar anak sekolah. Tak peduli hujan menerpa, selalu ada doa tersemat di saat hujan, atas keberkahan dan rahmat dari Sang Maha Pencipta. Saya turut tersenyum simpul. Hujan mengantarkan lamunan ke masa kanak-kanak, kenangan saat hujan datang dan saya menyambut dengan suka cita.
Kenangan Masa Kanak-Kanak
Sependek ingatan saya, umur waktu itu masih balita. Saat mendung datang, atas izin Ibu yang masih masak di dapur, saya bertandang ke rumah sahabat yang jaraknya hanya terpaut empat rumah. Saat itu jalanan perumahan pabrik gula sepi saja, karena hari libur. Asyik bermain di rumah sahabat, hujan datang. Saya pamit ingin pulang. Sahabat turut mengantarkan dengan membawakan payung. Berjalanlah kami sepayung berdua dengan penuh canda tawa dan membentangkan satu tangan kecil masing-masing, bergaya menampung hujan di atas telapak tangan.
Tiba di rumah saya, masakan ibu sudah selesai. Beliau mengajak kami makan bersama. Jadilah sahabat tinggal sejenak di rumah sambil menunggu hujan reda. Ya, sisa gerimis saja, akhirnya sahabat pamit pulang. Tapi karena belum puas bermain bersama, saya pun ikut mengantarkan dia pulang ke rumahnya. Tanpa kami duga, hujan tetiba deras kembali, kami berlarian menuju rumah agar tubuh tak basah, terlanjur payung sudah terlipat rapi sejak dari rumah saya.
Apa yang terjadi kemudian? Saat hujan kembali deras dan suasana dingin memeluk, kami justru makan es lilin kacang hijau! Sambil tertawa dan bercanda menghabiskannya, tanpa terasa masing-masing menghabiskan dua bungkus plastik kecil es lilin. Hujan tak kunjung reda. Karena hari makin siang, mamanya sahabat meminta saya untuk pulang agar keluarga bisa beristirahat. Akhirnya sahabat dan kakaknya mengantarkan saya pulang dengan satu payung hitam berukuran besar untuk melindungi kami bertiga dari hujan. Di tengah jalan, dalam jarak ratusan meter, saya dan sahabat malah berlarian menembus hujan, tubuh kami basah kuyup jadinya. Teriakan larangan mandi hujan dari si kakak tak kami gubris. Setelah berpamitan dengan Ibu usai mengantarkan saya, mereka langsung pulang. Ibu membantu mengeringkan badan saya dengan handuk dan menggantikan baju, lalu menyuruh saya tidur siang. Dan, apa yang Ibu khawatirkan terjadi. Saya demam sepanjang sore hingga pagi keesokan harinya. Jadilah saya tak bisa bermain di luar rumah karena tubuh panas dingin.
Kenangan Hujan yang Menghibur
Lain masa, berganti cerita. Hujan deras beberapa hari membuat saya dan kakak-kakak bosan di rumah. Beruntung Ayah baru pulang dari luar kota dan membawa mainan untuk saya berupa helikopter mini dan pesawat terbang. Kakak-kakak terhibur dengan hadiah buku-buku baru untuk dibaca secara bergiliran. Berdua dengan bapak, saya memperhatikan beliau merakit mainan helikopter dan pesawat. Baterai terpasang rapi dan aman pada tubuh mainan tersebut. Ayah menaiki tangga dan memasang dua mainan itu di atas batang kayu teras rumah dengan memberikan jarak pada keduanya. Beliau mengikat dan menggantungnya dengan menggunakan tali panjang di bagian lubang kecil yang tersedia di bagian tengah atas mainan.
Sesaat tombol diaktifkan, berputarlah helikopter dan pesawat dengan arah lingkaran memutar. Saya bersorak kegirangan. Di antara derasnya suara hujan siang itu, bercampur desing suara dua pesawat. Air hujan yang turut tempias mengenai pesawat, ikut memercikkan air di teras. Saya pun curi-curi mandi hujan di halaman sembari mengamati putaran pesawat. Wajah menegadah, hujan menghantam wajah. Sesekali saya menutup mata menikmati siraman hujan yang begitu riuh mengerubuti kepala. Basah mengguyur, tapi saya bahagia. Ayah hanya tertawa kecil menyaksikan saya mandi hujan dari teras dan sesekali mendongak melihat mainan pesawat terus berputar. Lagi-lagi, saya masuk angin, kena omel Ibu, karena mandi hujan. Jadilah esok hari saya demam. Kali ini, baluran minyak kayu putih bercampur minyak sayur dan irisan bawang merah, lengket menyerap di sekujur tubuh sebagai obat peredanya. Manjur! Demam saya hilang, bablas angine!
Trauma yang Tak Terlupakan
Namun, kejadian hujan bercampur petir yang justru membuat saya trauma. Ya, saat itu saya usia sekolah dasar, sekira kelas empat atau lima. Jam baru menunjukkan pukul tiga sore. Ibu meminta saya menjemput kakak yang sedang les menjahit tak jauh dari rumah. Tempatnya hanya sejalur jalan depan rumah, kurang lebih satu kilometer saja. Ibu membawakan saya payung, karena langit mulai gelap akan turun hujan. Bergegas saya mengayunkan langkah, berharap tidak turun hujan hingga nanti kami berdua tiba di rumah. Harapan tinggal harapan. Saat kami berdua berjalan pulang ke rumah dari rumah jahit, entah bagaimana cerita, tetiba hujan runtuh seketika. Kami terkejut dan gagap membuka payung. Kakak memeluk tubuh saya yang mungil sembari menggegan erat gagang payung. Namun angin berhembus sangat kencang, hingga tangan mungil saya pun turut memegang erat mempertahankan stabilnya payung agar tidak terhuyung. Angin sangat kencang menerpa kami hingga payung terkembang terbalik, dan salah satu tangkainya patah. Kami berjalan tersendat melawan angin. Terpaksa kakak melepas payung, terbang terbawa badai. Kami seolah berjalan menghadapi arus yang kuat. Di pinggir jalan, ada beberapa tenda petani bawang merah yang berisi penghuni sekira dua-tiga orang. Salah satu bapak keluar dari tenda, menarik kami dari jalan agar berteduh di dalam tenda mereka. Tenda terpal plastik transparan dengan lengkung sederhana membentuk perlindungan setengah lingkaran, menahan penghuni dari guyuran hujan dan badai angin. Kakak memeluk tas les menjahit. Tampak sedih dan khawatir dengan basahnya buku di dalamnya. Kami berdua meringkuk saling menghangatkan. Bersama tiga petani lainnya (satu bapak dan dua ibu), kami memanjat doa, mengusir rasa takut dan khawatir. Guntur dan guruh saling bersahutan. Bibir kami terus berdzikir berharap badai segera berlalu.
Selang satu jam lebih kiranya, badai angin berhenti. Namun masih menyisakan hujan yang tak terlalu deras. Kami berpamitan dan mengucapkan terima kasih atas pertolongan mereka. Dengan mengumpulkan keberanian, saya dan kakak bergegas menembus hujan untuk bisa segera sampai di rumah. Dalam pandangan masih kabur karena kabut dingin, mata saya melihat posisi rumah kami yang tidak jauh dari sawah dan tenda tempat berteduh tadi. Setengah berlari, saya menuju rumah meninggalkan kakak yang berhajan cepat. Ibu juga setengah berlari menyambut kami di halaman. Memeluk saya dan menggiring ke teras belakang. Rupanya beliau sudah menyiapkan air mandi di ember besar dan satu termos. Beliau menuangkan air panas dalam ember. Langsung memandikan saya dengan air hangat. Saya menangis terisak memeluk tubuh Ibu. Ibu memandikan sembari membelai tubuh saya. Suara beliau menenangkan jiwa dan badan saya yang menggigil dan ketakutan. Ya, saya takut dengan bencana alam yang tetiba terjadi hari itu. Ibu mencium ubun-ubun saya dan mendoakan keselamatan saya dan kakak. Rupanya beberapa pohon tua di sekitar pabrik gula tumbang karena angin kencang. Listrik dipadamkan genting-genting tetangga ada yang pecah dan atap rumah bocor. Ibu juga khawatir dengan keadaan kami berdua, apalagi dalam waktu satu jam lebih belum sampai rumah, padahal rumah les jahit cukup dekat saja. Sependek ingatan saya, terjadinya angin kencang dan hujan sangat deras itu menjelang malam tahun baru. Karena untuk pertama kalinya, acara pesta pergantian tahun baru bagi warga pabrik gula tetap berjalan dan penerangannya digantikan dengan menggunakan lampu petromak dan lampu sorot menggunakan genset. Saya, kakak dan teman-teman lain tetap tampil di atas pentas dengan tari tradisional dan menabuh gamelan, berdandan dengan menggunakan penerangan banyak lilin dan cahaya lampu sentir (lampu tempel dengan isian minyak tanah dan sumbu tali). Alhamdulillah, pentas seni untuk warga berjalan lancar hingga akhir acara.
Kenangan yang Tak Pernah Hilang
Hujan telah reda pagi ini, namun kenangan itu takkan lenyap di telan masa dalam balutan memori bahagia. Di balik rasa takut dan khawatir pada derasnya hujan, rindu saya pada Bapak dan Ibu dalam perjalanan hidup, mereka abadi dan terus menyala dalam sanubari. Al-Fatihah kagem Bapak dan Ibu. Aamiin.


