9 Petugas dan Polisi India Tewas Saat Periksa Bahan Peledak, Potongan Tubuh Tersebar 100 Meter

Posted on

Ledakan di Kantor Polisi Kashmir Tewaskan 9 Petugas

Pada Jumat (14/11/2025) malam, sebuah ledakan hebat terjadi di kantor polisi Nowgam, Srinagar, ibu kota musim panas wilayah Kashmir yang dikuasai India. Insiden ini menewaskan sedikitnya sembilan orang dan melukai 32 lainnya. Ledakan tersebut disebabkan oleh detonasi tidak sengaja dari tumpukan bahan peledak yang disita selama pemeriksaan forensik.

Ledakan yang tergolong berkekuatan besar itu menyebabkan potongan tubuh korban tersebar hingga 100 meter dari lokasi kejadian. Korban tewas sebagian besar adalah petugas polisi dan staf forensik. Beberapa korban luka dalam kondisi kritis dan dirawat di rumah sakit terdekat. Bahan peledak tersebut merupakan barang sitaan dari kejadian ledakan sebelumnya di New Delhi.

Insiden ini memicu ketegangan konflik Kashmir yang merupakan salah satu persengketaan wilayah terpanjang di dunia, melibatkan India, Pakistan, dan hingga batas tertentu China. Konflik ini dimulai sejak pembagian India dan Pakistan pada 1947 dan telah menyebabkan beberapa perang serta ketegangan berkelanjutan.

Wilayah Kashmir, yang terkenal dengan keindahan alamnya, menjadi simbol persaingan nuklir antara dua negara tetangga ini. Ledakan di kantor polisi disebabkan oleh detonasi tidak sengaja dari bahan peledak yang disita selama pemeriksaan forensik. Ledakan utama diikuti oleh serangkaian ledakan kecil, yang menghancurkan bangunan dan kendaraan di sekitarnya, serta memicu kebakaran hebat.

Direktur Jenderal Polisi Kashmir, Nalin Prabhat, menyatakan bahwa ledakan terjadi selama proses evaluasi bahan peledak yang disita. Pihak berwenang India menegaskan ini adalah kecelakaan, bukan serangan teroris. Menurut laporan Reuters, sembilan orang tewas dan 27 luka, dengan penambahan bahwa ledakan ini terjadi di tengah investigasi terkait ledakan mobil di New Delhi awal pekan ini.

Ledakan di New Delhi: Awal Mula Kekacauan

Ledakan hebat dari sebuah mobil terjadi di dekat Benteng Merah yang bersejarah di New Delhi, India, menewaskan sedikitnya 13 orang dan melukai lebih dari 20 lainnya. Insiden ini diklasifikasikan sebagai aksi teror oleh pemerintah India. Ledakan terjadi di kawasan ramai dekat Benteng Merah, salah satu landmark ikonik di ibu kota India.

Sebuah mobil yang bergerak lambat meledak, menyebabkan kerusakan parah pada kendaraan sekitar dan memicu kepanikan di antara warga. CCTV footage menunjukkan momen sebelum ledakan sekitar pukul 18:51, di mana mobil tersebut terlihat mendekati area tersebut sebelum detonasi. Ini merupakan serangan teror pertama di Delhi dalam 13 tahun terakhir.

Menurut laporan awal seperti dikutip dari NDTV, ledakan menewaskan setidaknya 8 orang, namun angka tersebut bertambah menjadi 13 korban tewas dan lebih dari 20 luka-luka setelah update dari otoritas. Korban termasuk pejalan kaki dan pengendara di sekitar lokasi. Kerusakan meliputi mobil-mobil yang hancur dan puing-puing berserakan, dengan api yang sempat menyala hebat sebelum dipadamkan oleh petugas pemadam kebakaran.

Ledakan disebabkan oleh lebih dari 2 kg ammonium nitrate dicampur dengan petroleum, bahan yang umum digunakan dalam bom rakitan. Pengemudi mobil diidentifikasi sebagai Umar Nabi, seorang ahli pembuat bom asal Kashmir melalui tes DNA. Investigasi mengarah pada hubungan dengan kelompok militan di Kashmir, di mana beberapa tersangka ditangkap, termasuk dua dokter, dan bahan peledak disita.

Rumah keluarga Umar Nabi di Pulwama, Kashmir, dihancurkan sebagai bagian dari tindakan hukuman. Insiden ini juga terkait dengan ledakan tak sengaja di kantor polisi Kashmir selama pemeriksaan bahan peledak yang disita.

Sejarah Konflik Kashmir

Konflik Kashmir, salah satu sengketa wilayah terpanjang di dunia, telah melibatkan India, Pakistan, dan hingga batas tertentu China sejak pembagian anak benua India pada 1947. Wilayah yang indah ini menjadi simbol persaingan nuklir antara dua negara tetangga, dimulai ketika Inggris meninggalkan koloninya dan membagi wilayah menjadi India mayoritas Hindu serta Pakistan mayoritas Muslim.

Maharaja Hari Singh, penguasa Hindu di Kashmir yang mayoritas penduduknya Muslim, awalnya ingin tetap independen, tetapi invasi suku Pathan dari Pakistan pada Oktober 1947 memaksanya meminta bantuan India dan menandatangani Instrumen Aksesi, menggabungkan Kashmir ke India. Hal ini memicu Perang India-Pakistan pertama (1947-1948), yang berakhir dengan gencatan senjata PBB pada 1949, membentuk Garis Kontrol sebagai pembatas de facto, di mana India menguasai sebagian besar wilayah dan Pakistan bagian barat.

Pada 1965, Pakistan melancarkan Operasi Gibraltar dengan menyusupkan pasukan ke Kashmir India untuk memicu pemberontakan, yang berujung pada perang skala penuh termasuk pertempuran tank terbesar sejak Perang Dunia II di Chawinda, sebelum diakhiri dengan gencatan senjata Tashkent pada 1966 tanpa perubahan signifikan di Garis Kontrol.

Konflik memanas lagi pada 1999 melalui Perang Kargil, di mana pasukan Pakistan dan militan Kashmir menyusup ke wilayah India di pegunungan Himalaya, memicu pertempuran sengit yang hampir menjadi konflik nuklir setelah kedua negara menguji senjata nuklir pada 1998; India merebut kembali wilayah tersebut dengan bantuan mediasi AS yang memaksa Pakistan mundur.

Selain itu, sejak 1984, kedua negara bertempur di Gletser Siachen, wilayah tertinggi yang diklaim bersama, sementara China merebut Aksai Chin dari India pada Perang Sino-India 1962 dan mengontrol sekitar 20 persen wilayah Kashmir asli, termasuk melalui Koridor Ekonomi China-Pakistan (CPEC) di area sengketa.

Pada akhir 1980-an, pemberontakan bersenjata meletus di Kashmir India dengan dukungan Pakistan, melibatkan kelompok seperti Hizbul Mujahideen dan Lashkar-e-Taiba yang menuntut kemerdekaan atau bergabung dengan Pakistan, mencapai puncak kekerasan pada 1990-an dengan ribuan korban, termasuk serangan Mumbai 2008 yang menewaskan 166 orang.

Pada 2019, India mencabut status otonomi Jammu dan Kashmir melalui Pasal 370, membagi wilayah menjadi dua teritori uni, memicu protes besar dan ketegangan dengan Pakistan; hingga 2025, konflik berlanjut dengan insiden seperti ledakan di New Delhi dan Kashmir yang terkait militan, meskipun PBB pernah mengusulkan referendum sejak 1948 yang tak pernah terealisasi.

Dampaknya mencakup puluhan ribu korban jiwa, pengungsian massal, dan beban ekonomi, dengan India menganggapnya isu internal sementara Pakistan menyerukan resolusi internasional, menjadikan Kashmir sebagai “konflik paling berbahaya di dunia” karena ancaman nuklir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *