Sunda Colugo, Mamalia yang Mampu Meluncur di Udara
Pernahkah kamu membayangkan seekor mamalia yang bisa terbang di antara pepohonan rimbun di hutan Asia Tenggara? Mungkin yang terlintas di benakmu adalah tupai terbang. Namun, ada makhluk lain yang jauh lebih ahli dalam meluncur di udara, yaitu Sunda colugo atau kubung Sunda. Hewan nokturnal ini menghabiskan hampir seluruh hidupnya di atas pohon, bergerak dengan cara yang begitu unik dan efisien.
Meskipun sering disebut sebagai “lemur terbang”, hewan ini sebenarnya bukan lemur dan tidak benar-benar terbang. Sunda colugo adalah seorang peluncur ulung yang menggunakan selaput kulit lebar untuk melayang dari satu pohon ke pohon lain. Dengan kemampuan kamuflase yang luar biasa dan gaya hidup yang misterius, colugo menjadi salah satu mamalia paling menarik sekaligus paling jarang dipahami di hutan tropis kita.
Sunda Colugo Bukanlah Lemur dan Tidak Bisa Terbang
Banyak orang salah kaprah dan menyebut Sunda colugo sebagai lemur terbang. Faktanya, hewan ini sama sekali bukan bagian dari keluarga lemur, yang merupakan primata asli Madagaskar. Colugo masuk ke dalam ordo taksonominya sendiri yang disebut Dermoptera, dan kerabat terdekatnya justru adalah primata. Hal ini menjadikan mereka sebuah keajaiban evolusi yang unik.
Istilah “terbang” juga kurang tepat. Colugo tidak mengepakkan sayap seperti burung atau kelelawar. Mereka adalah peluncur atau glider paling mahir di antara semua mamalia. Dengan melompat dari dahan tinggi, mereka membentangkan selaput kulitnya dan meluncur di udara. Gerakan ini lebih mirip seperti menggunakan wingsuit daripada terbang, namun sangat efektif untuk berpindah tempat di kanopi hutan yang lebat.
Colugo Memiliki “Wingsuit” Alami dari Leher Hingga Ujung Ekor
Senjata utama Sunda colugo adalah patagium, yaitu selaput kulit berbulu yang membentang di sekujur tubuhnya. Selaput ini terhubung mulai dari leher, sela-sela jari tangan dan kaki, hingga ke ujung ekornya. Desain ini memberikan colugo permukaan terluas di antara semua mamalia peluncur, menjadikannya ‘parasut’ hidup yang sangat aerodinamis.
Dengan patagium canggih ini, Sunda colugo dapat meluncur sejauh lebih dari 100 meter dalam sekali lompatan, bahkan beberapa catatan menyebut hingga 150 meter, sambil kehilangan sedikit sekali ketinggian. Kemampuan ini memungkinkan mereka mencari makanan atau melarikan diri dari predator seperti elang dan ular tanpa harus turun ke lantai hutan yang berbahaya. Mereka bahkan bisa bermanuver di udara untuk menghindari rintangan dan mendarat dengan mulus di batang pohon lain.
Colugo Adalah Seniman Kamuflase yang Sangat Andal
Menemukan colugo di siang hari adalah sebuah tantangan besar, bahkan bagi para peneliti. Ini karena mereka adalah master kamuflase. Warna dan corak bulu mereka yang berbintik-bintik menyerupai kulit kayu, lumut, dan liken. Saat mereka diam tak bergerak menempel di batang pohon, tubuh mereka seolah menyatu sempurna dengan lingkungan sekitar.
Kemampuan bersembunyi ini adalah mekanisme pertahanan utama mereka. Sepanjang hari, colugo akan beristirahat dengan posisi vertikal di batang pohon atau di dalam lubang pohon. Kamuflase yang efektif ini membuat mereka hampir tidak terlihat oleh predator maupun manusia yang melintas di dekatnya. Sering kali, para pendaki hutan bahkan tidak menyadari telah melewati salah satu mamalia paling unik di dunia.
Gigi Unik Mereka Berfungsi Ganda sebagai Sisir
Salah satu fitur paling aneh dari Sunda Colugo terletak di mulutnya. Mereka memiliki struktur gigi yang tidak biasa di antara mamalia. Gigi seri bagian bawah mereka telah berevolusi menjadi bentuk yang menyerupai sisir. Gigi-gigi ini tidak hanya digunakan untuk makan, tetapi juga memiliki fungsi penting lainnya dalam kehidupan sehari-hari colugo.
Fungsi kedua dari gigi sisir ini adalah untuk merawat dan membersihkan bulu tebal mereka. Selain itu, bentuk gigi yang unik ini juga membantu mereka mengerok daun atau buah dari cabang pohon. Adaptasi ini menunjukkan betapa istimewanya colugo, di mana evolusi telah membentuk anatomi tubuh mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup di puncak pepohonan.
Sistem Pencernaannya Didesain untuk Makanan yang Sulit Dicerna
Sunda colugo adalah hewan herbivora sejati. Makanan utama mereka terdiri dari dedaunan muda, kuncup, bunga, dan buah-buahan. Karena dedaunan mengandung selulosa yang sulit dicerna dan rendah nutrisi, colugo membutuhkan sistem pencernaan khusus untuk mengekstrak energi semaksimal mungkin.
Mereka memiliki perut berbilik dan usus yang sangat panjang, mirip dengan sapi, untuk membantu proses fermentasi dan penyerapan nutrisi dari serat tumbuhan. Sistem pencernaan yang efisien ini memungkinkan mereka bertahan hidup dengan pola makan yang sangat spesifik. Karena metabolismenya yang lambat, colugo menghabiskan sebagian besar waktunya untuk beristirahat guna menghemat energi.
Induk Colugo Merawat Bayinya dengan Cara Seperti Marsupial
Proses reproduksi colugo juga sangat unik. Setelah periode kehamilan sekitar 60 hari, induk colugo biasanya melahirkan satu bayi dalam kondisi yang sangat kecil dan belum berkembang sempurna, mirip seperti bayi kanguru atau marsupial lainnya. Bayi ini sangat lemah dan hanya cukup kuat untuk berpegangan pada bulu induknya.
Untuk melindungi dan menghangatkan anaknya, induk colugo akan melipat patagiumnya menjadi semacam kantung yang aman dan nyaman. Sang bayi akan tinggal di dalam ‘kantung’ ini sambil menyusu pada induknya selama sekitar enam bulan hingga cukup mandiri. Induk akan membawa bayinya ke mana pun ia pergi, bahkan saat meluncur di antara pepohonan.
Kelangsungan Hidup Mereka Sangat Bergantung pada Kesehatan Hutan
Saat ini, status konservasi Sunda colugo menurut IUCN adalah “Risiko Rendah”. Namun, populasi mereka terus menghadapi ancaman serius. Ancaman terbesar datang dari perusakan habitat akibat deforestasi untuk perkebunan dan pembalakan liar.
Karena colugo adalah hewan arboreal yang sangat terspesialisasi, mereka tidak dapat bertahan hidup tanpa hutan yang luas dan terhubung. Mereka jarang sekali turun ke tanah, sehingga fragmentasi hutan dapat memisahkan populasi dan membatasi ruang gerak mereka untuk mencari makan dan pasangan. Oleh karena itu, melindungi kawasan hutan hujan tropis di Asia Tenggara menjadi kunci utama untuk memastikan kelestarian mamalia peluncur yang menakjubkan ini.
Sunda colugo atau kubung Sunda adalah bukti nyata keajaiban adaptasi di alam liar. Dari kemampuannya meluncur dengan anggun hingga caranya menyamar dengan sempurna, setiap aspek dari hewan ini menunjukkan betapa luar biasanya kehidupan di kanopi hutan. Melindungi habitat mereka berarti kita turut menjaga salah satu makhluk paling unik di planet ini.
