Sejarah Puskesmas dan Perannya dalam Kesehatan Masyarakat
Puskesmas menjadi salah satu bentuk inisiatif penting dalam sejarah kesehatan Indonesia. Jika seseorang bertanya, “Apa sih kepahlawanan Presiden Soeharto?” maka jawabannya bisa ditemukan di berbagai Puskesmas yang tersebar di seluruh Nusantara. Dengan konsep Puskesmas, Soeharto layak disebut sebagai “pahlawan kesehatan”.
Ini bukan sekadar pujian kosong. Lidah tidak hanya berfungsi sebagai indra pengecap, tetapi juga sebagai alat untuk menyampaikan informasi. Namun, bagi seorang mantan jubir presiden, mungkin lidah itu digunakan untuk menjilat.
Konsep Puskesmas bukanlah gagasan asli dari Soeharto. Awalnya, konsep ini berasal dari Bandung Plan, sebuah rencana jaringan layanan kesehatan yang menjangkau langsung warga dari kota hingga desa. Konsep ini diprakarsai oleh Rumah Sakit Zending Immanuel, Bandung pada tahun 1930-an.
Dokter Johannes Leimena, yang pernah bekerja di RSZ Immanuel, bersama dr. Abdul Patah kemudian mempresentasikan rencana pembangunan Puskesmas ala Bandung Plan kepada Presiden Soekarno. Soekarno setuju dengan ide tersebut, tetapi menghadapi tantangan finansial. Barulah pada masa Orde Baru, rencana ini terlaksana.
Gerrit A. Siwabessy, Menteri Kesehatan awal Orba, membawa rencana tersebut kepada Presiden Soeharto. Soeharto setuju dan memasukkan pembangunan Puskesmas sebagai salah satu program prioritas Repelita. Hasilnya, jumlah Puskesmas di Indonesia tumbuh pesat. Pada akhir Pelita II (1979) berhasil dibangun 2.000 unit Puskesmas. Tahun 1993, atau lima tahun sebelum Soeharto jatuh, jumlahnya melonjak menjadi 6.749 unit. Lalu, 26 tahun setelah kejatuhan Soeharto, pembangunan Puskesmas berlanjut dengan pesat. Pada tahun 2024 jumlahnya di seluruh Indonesia sudah mencapai 10.280 unit (data BPS).
Pengalaman Pribadi dengan Puskesmas
Namun, dari 10.280 unit Puskesmas itu, kamu boleh tertawa, dalam 45 tahun hanya 2 unit yang aku tahu. Tahu dalam arti aku masuk ke dalam gedungnya dan memanfaatkan layanannya. Satunya Puskesmas Desa Panatapan (pseudonim), Toba, kampung halamanku; satunya lagi Puskesmas Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, kampung rantauku. Uniknya, aku mendatangi kedua Puskesmas itu bukan untuk berobat.
Puskesmas Desa Panatapan: Urusan Surat Keterangan Berbadan Sehat
Suatu pagi yang heboh di Puskesmas Desa Panatapan, Toba pada awal tahun 1980. Dokter dan perawat sibuk menenangkan seorang pasien perempuan di ruang tindakan. Pantat perempuan itu, entah belahan kiri atau kanan tak begitu jelas, baru saja digigit seekor babi.
Pantat perempuan digigit babi? Kok bisa, sih?
Begini ceritanya. Pagi itu, sebagaimana umumnya orang Batak di pedesaan Toba waktu itu, perempuan tersebut buang hajat di semak-semak belakang rumah. Semak-semak itu sejatinya semacam “kakus organik”. Di situ lazimnya sudah siap siaga satu dua ekor babi yang dengan sigap akan membersihkan feses manusia dengan cara paling brutal, menyantapnya bulat-bulat.
Nah, hari yang nahas rupanya bagi perempuan tersebut. Pagi itu, saat dia mulai jongkok, dua ekor babi — entah betina atau jantan — sudah siaga di belakang pantatnya. Rupanya salah seekor babi itu tak sabaran, entah karena rakus, kelaparan atau takut gak kebagian. Baru juga sedikit feses nongol dari anus sudah langsung dikerkahnya. Akibatnya daging pantat perempuan itu ikut tergigit sampai kiwir-kiwir.
Blessing in disguise. Tragedi “pantat perempuan digigit babi” itu menjadi bahan penyuluhan kesehatan bagi Pak Dokter, Pak Mantri, dan Bu Bidan Puskesmas. “Bangunlah jamban sederhana tapi bersih. Jangan buang hajat di semak-semak. Nanti pantatmu digigit babi.” Kisah sial perempuan itu rupanya cukup efektif. Dua tiga keluarga mulai membangun jamban di belakang rumahnya.
Masih awal tahun 1980. Aku bergegas ke Puskesmas Panatapan. Bukan untuk berobat tapi meminta Surat Keterangan Berbadan Sehat dari dokter. Itu salah satu syarat administratif untuk mendaftar ke sebuah Perguruan Tinggi di Jawa.
“Pak Dokter sedang main catur di kedai kopi.” Suster jaga rawat inap memberitahu. Ya, Puskesmas ini, walau terpencil di atas pegunungan, sudah dilengkapi fasilitas yang rawat inap. Kerenlah pokoknya.
Aku tahu kedai kopi yang dimaksud perawai tadi. Aku bergegas ke sana dan, benar, Pk Dpokter sedang asyik main catur di situ dengan seorang warga desa. Beberapa orang duduk mengelilingi mereka berdua; sebagian sekondan Pak Dokter, sebagian lagi sekondan lawan mainnya.
“Sebentar, ya, Dik. Tanggung ini mainnya,” kata Pak Dokter itu saat kuutarakan maksudku menemuinya.
“Skak, mat!” teriaknya beberapa saat kemudian. Dia tertawa senang, lawannya tertawa kecut.
Dokter Puskesmas kerjanya main catur? Ya, betul, tapi jangan sinis dulu. Itu bagian dari strategi komunikasi kesehatan yang diterapkan dokter itu.
Sambil main catur, Pak Dokter itu bercerita tentang pengalamannya menangani berbagai penyakit di berbagai tempat tugasnya. Dia ceritakan gejalanya, akibatnya jika tidak ditangani, dan tindakan pengobatan untuk penyembuhan.
Nah, ada saja di antara warga yang berkumpul di kedai itu mengaku dirinya atau kerabatnya mengalami gejala penyakit serupa. Kena, sudah. Pak Dokter lalu menyarankan orang itu atau kerabatnya datang ke Puskesmas, agar segera ditangani.
Dalam praktik pemasaran modern, itu disebut word of mouth, getok tular. Itu cara yang efisien dan efektif untuk sosialisasi fungsi dan layanan Puskesmas di bidang kesehatan masyarakat.
Begitulah Puskesmas Panatapan. Dikenal dan didatangi oleh warga desa antara lain berkat cerita-cerita Pak Dokter saat bermain catur di kedai kopi.
Puskesmas Kebayoran Baru: Urusan Pemeriksaan Kesehatan Gratis
Kalau bukan karena program pemeriksaan kesehatan gratis saat ulang tahun, aku mungkin tidak akan mendatangi Puskesmas Kebayoran Baru, Jaksel dan membiarkan dokter dan perawat memegang-megang tubuhku. Katakanlah dokter dan perawat itu perempuan-perempuan cantik dan ramah; tetap akuctak paham apa enaknya tubuh kita dipegang-pegang istri atau pacar lelaki lain.
Tentang Puskesmas Kebayoran Baru itu, saat pensiun dari PNS, aku telah memilihnya sebagai tempat layanan kesehatan berbadis Askes. Ketika Askes dikonversi ke BPJS Kesehatan, pilihanku tetap pada Puskesmas itu. Tua-tua gini, aku “Anak Jaksel”, lho.
Tapi sudah sebegitu lama pensiun, sampai hari ini, aku tidak pernah memanfaatkan layanan Puskesmas tersebut. Bukannya aku gak pernah sakit. Tapi mungkin aku terlalu dipengaruhi pandangan Ivan Illich tentang sistem kesehatan modern yang merampas kedaulatan individu atas tubuhnya.
Kata Illich dalam Medical Nemesis: The Expropriation of Health (1976), sistem kesehatan modern telah menjadi musuh (nemesis) bagi masyarakat. Sistem itu menciptakan ketergantungan pada teknologi medis dan profesional kesehatan. Akibatnya kemampuan individu mengontrol kesehatannya sendiri memudar.
Intinya aku menolak sistem kesehatan nasional, dalam hal ini direpresentasikan Puskesmas, merampas kedaulatanku atas kesehatan tubuhku. Aku sudah lebih dari setengah abad mengelola tubuhku sendiri. Aku tahu mana yang sakit, penyakitnya apa, dan bagaimana menanganinya.
Karena itu, bagaimana mungkin aku bisa menyerahkan keputusan tentang kesehatan tubuhku kepada otoritas seorang dokter yang tak mengenal diriku?
Bukannya aku anti-Puskesmas atau anti-Rumah Sakit. Bukan begitu. Aku cuma mengambil sikap kritis terhadap sistem kesehatan modern.
Kalau pun pada pertengahan tahun 2025 ini aku pergi ke Puskesmas Kebayoran Baru, maka itu lebih sebagai upaya verifikasi obyektif atas kesinpulan-kesimpulan subyektifku tentang kesehatan diriku.
Di Puskesmas itu, dengan birokrasi yang ramah dan cekatan, kondisi kesehatanku dicek. Darah, mata, telinga, gigi, dan jantung diperiksa.
Hasilnya? Sama seperti penilaian subyektifku, hasil pemeriksaan obyektif itu menunjukkan bahwa kesehatan tubuhku baik-baik saja untuk ukuran seorang lansia. Saran dokter: jaga makanan, olah raga teratur, dan benahi gigi ke dokter gigi.
Tentang saran terakhir ini, aku tahu sejumlah gigi gerahamku memang bermasalah. Rompal, sisa akar, berlubang, retak, dan goyah. Jika sedang lelah fisik, sakit gigi (gusi) kadang datang mendera. Tapi datang ke dokter gigi? Tunggu dulu. Aku masih mampu menahan rasa sakit sampai sembuh sendiri.
Tapi lepas dari keenggananku berobat, harus kuakui, Puskesmas Kebayoran Baru memang yahud. Dokter lengkap, mulai dari dokter umum sampai dokter gigi. Ada laboratorium, apotik, dan ruang rawat inap. Ada klinik HIV, konsultasi gizi, dan pemeriksaan kesehatan pra-nikah. Klinik lansia terpisah dari klinik anak dan non-lansia. Dokter, paramedis, perawat, sampai satpamnya ramah dan cekatan. Ada tersedia air mineral gratis bagi mereka yang haus.
Aku pikir, kelak bila kemampuank mengelola kesehatan tubuhku semakin memudar, aku akan datang juga ke Puskesmas ini dengan kartu BPJS Kesehatan di tangan.
Epilog
Dari tahun 1980 sampai 2025, atau selama 45 tahun, memang hanya 2 Puskesmas — satu di desa dan satu di kota — yang layanannya pernah kumanfaatkan. Itu pun bukan untuk berobat tapi untuk urusan surat keterangan berbadan sehat (1980) dan pemeriksaan kesehatan gratis (2025).
Lepas dari pendirianku yang masih enggan memanfaatkan layanan kesehatan modern, harus kuakui kehadiran Puskesmas itu telah menyelamatkan jutaan nyawa penduduk Indonesia, terutama di wilayah pedesaan. Mayoritas dari mereka adalah penduduk miskin yang tanpa kehadiran Puskesmas mustahil mendapat layanan kesehatan modern.
Tapi di perkotaan kini, seperti kulihat di Kebayoran Baru, orang-orang kaya juga mulai banyak datang ke Puskesmas dengan kartu BPJS Kesehatan di tangan. Mungkin ada pembaca artikel ini di antara mereka. Yang jelas, aku berada di luar bilangan itu.
By the way, suka tidak suka, jika kamu datang berobat ke Puskesmas, jangan lupa mengenang jasa dan berterimakasih pada Johannes Leimena, Abdul Patah, G.A. Siwabessy, dan tentu saja Soeharto, Presiden Kedua RI. Tanpa inisiatif mereka, Puskesmas itu tak akan pernah ada.


