Yoan Febriawan Dalam Sorotan: Tambang Ilegal Gaspol, Penegakan Hukum Mengapa Seperti Ngerem?

Posted on

Masalah Tambang Ilegal di Kalimantan Barat

Di Kalimantan Barat, isu tambang ilegal kembali menjadi perhatian masyarakat. Mulai dari warung kopi hingga forum diskusi publik, topik ini selalu menjadi pembicaraan. Warga mengamati aktivitas pertambangan di beberapa lokasi yang tampaknya tidak pernah benar-benar berhenti, meskipun penegakan hukum diklaim telah dilakukan. Dalam konteks ini, nama Yoan Febriawan dari Polda Kalbar sering disebut sebagai pejabat yang diharapkan dapat memberikan kejelasan terkait langkah penanganan, bukan karena adanya dugaan pelanggaran yang dilakukannya, melainkan karena posisinya dianggap penting oleh masyarakat dalam mengawasi tambang.

Di sisi lain, laporan masyarakat yang diteruskan ke Propam membuat warga semakin ingin tahu apakah proses penegakan hukum benar-benar berjalan cepat atau justru mengalami hambatan. Di lokasi, masyarakat mengungkapkan kebingungan terhadap situasi yang terasa berbeda jauh: di satu sisi, pihak berwenang menyatakan bahwa mereka telah melakukan pemeriksaan dan penegakan hukum, namun di sisi lain, warga masih menyaksikan mobilitas alat berat serta truk pengangkut yang beroperasi secara bebas seolah tidak terpengaruh oleh peraturan.

Kondisi ini menyebabkan sebagian masyarakat bertanya—bukan berprasangka—apakah kerjasama antar-instansi benar-benar efektif, atau justru terdapat kendala yang menghambat sehingga hasilnya tidak tampak dengan jelas. Bagi masyarakat Kalbar, isu tambang bukan hanya sekadar masalah izin, melainkan tantangan untuk menyelesaikan masalah yang telah lama dianggap “berjalan lebih cepat daripada pihak berwenang.”

Kebingungan Informasi dan Peran Pejabat

Para ahli lingkungan dan akademisi menilai bahwa kebingungan informasi mengenai tambang ilegal ini muncul akibat kurangnya laporan resmi yang dapat diakses oleh masyarakat. Mereka berpendapat bahwa tanpa adanya data yang transparan dan pemetaan yang jelas, masyarakat akan terus sulit mengetahui siapa yang benar-benar bekerja dan siapa yang hanya tampak sedang bekerja. Kondisi ini diperburuk oleh adanya berbagai video dan foto dari masyarakat yang menunjukkan kegiatan penambangan yang diduga belum memiliki izin lengkap, sehingga menimbulkan lebih banyak pertanyaan mengenai efektivitas pengawasan di lokasi.

Dalam konteks tersebut, nama-nama pejabat, termasuk Yoan Febriawan, menjadi perhatian—bukan karena adanya bukti pelanggaran, melainkan karena masyarakat beranggapan bahwa pejabat yang berada dalam posisi strategis harus tampil untuk menjelaskan dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi, agar tidak timbul persepsi bahwa kegiatan tambang berlangsung tanpa pengawasan, sementara aparat masih fokus menyusun narasi.

Persoalan Tambang Ilegal sebagai Penyakit Menahun

Di tengah meningkatnya kegelisahan masyarakat, beberapa organisasi lokal bahkan menyatakan bahwa persoalan tambang ilegal di Kalbar sudah seperti “penyakit menahun” yang kambuh lagi setiap tahun tanpa pernah betul-betul sembuh. Mereka menyoroti pola yang selalu berulang: ada operasi, ada konferensi pers, ada pernyataan bahwa langkah hukum berjalan, tetapi beberapa waktu kemudian masyarakat kembali melihat geliat tambang yang sama. Hal inilah yang menimbulkan persepsi bahwa ada jarak antara apa yang diumumkan dan apa yang dirasakan masyarakat di lapangan.

Dalam situasi seperti ini, wajar bila publik mencari figur-figur yang dianggap paling relevan untuk dimintai penjelasan—termasuk sosok seperti Yoan Febriawan, yang karena posisinya berada di jalur pengawasan, otomatis menjadi bagian dari nama-nama yang ditunggu keterangannya untuk meredakan kebingungan.

Tuntutan Transparansi dan Proses Hukum yang Jelas

Sejumlah pemerhati hukum kemudian menegaskan bahwa persoalan tambang ilegal tidak hanya soal ‘siapa melakukan apa’, tetapi juga soal bagaimana mekanisme kontrol bekerja dan sejauh mana aparat mampu menjaga jarak dari kepentingan di lapangan. Mereka menyebut, ketika laporan masyarakat sudah masuk ke Propam, itu seharusnya menjadi momentum bagi institusi untuk menunjukkan keseriusan dengan membuka proses pemeriksaan secara transparan—bukan hanya sebagai formalitas, melainkan sebagai cara meredam spekulasi.

Dalam konteks ini, publik tentu berharap pejabat-pejabat kunci, termasuk Yoan Febriawan, dapat memberikan penjelasan terbuka agar tidak ada ruang kosong yang kemudian diisi oleh rumor. Para pengamat percaya bahwa salah satu cara paling efektif mengembalikan kepercayaan masyarakat adalah dengan menghadirkan proses yang bisa dilihat, bukan hanya didengar, terutama ketika di lapangan warga masih menemukan aktivitas tambang yang terasa berjalan lebih cepat daripada klarifikasi yang keluar dari pihak berwenang.

Tekanan dari Akademisi dan Lingkungan

Tekanan juga datang dari akademisi yang menilai bahwa akar masalah tambang ilegal di Kalbar bukan semata kelemahan pengawasan, melainkan juga minimnya integrasi data dan lemahnya pengawasan berbasis teknologi. Mereka mengatakan bahwa tanpa peta transparan, koordinat lokasi, dokumen izin yang dapat diakses publik, dan laporan rutin dari aparat, maka persoalan seperti ini akan selalu berulang. Dari perspektif mereka, pejabat-pejabat penegak hukum, termasuk yang berada pada jabatan strategis seperti Yoan Febriawan, berada pada posisi krusial untuk mendorong perubahan sistemik tersebut.

Aktivis lingkungan juga menambahkan bahwa situasi ini semakin rumit karena beberapa lokasi tambang berada dekat area pemukiman, sungai, dan ruang hidup masyarakat adat. Mereka menyebut bahwa selain aspek hukum, masalah ini menyentuh kebutuhan dasar warga seperti air bersih, lahan, dan keselamatan lingkungan.

Kunci Solusi adalah Transparansi

Polda Kalbar sendiri dalam beberapa kesempatan menegaskan bahwa pihaknya selalu mengambil langkah sesuai prosedur dan bahwa laporan masyarakat akan diproses secara proporsional. Namun, publik menilai penjelasan ini masih belum menjawab inti masalah: mengapa aktivitas tambang yang diduga ilegal masih terlihat di sejumlah titik? Mengapa masyarakat memahami satu cerita, sementara aparat memberi cerita yang lain?

Inilah alasan mengapa sorotan publik belum reda. Proses klarifikasi internal di Propam juga memunculkan pertanyaan lanjutan tentang sejauh mana pemeriksaan tersebut berlangsung transparan. Bukan untuk mencari kambing hitam, tetapi untuk memastikan bahwa proses hukum tidak berjalan di balik tirai yang terlalu tebal. Dalam konteks ini, masyarakat tentu berharap figur-figur kepolisian, termasuk Yoan Febriawan, bisa muncul di ruang publik membawa penjelasan konkret agar polemik tidak melebar.

Harapan Masyarakat

Pada akhirnya, yang publik inginkan bukanlah pembelaan diri atau pencitraan, tetapi fakta lapangan yang bisa diverifikasi, langkah hukum yang terlihat, dan komunikasi terbuka dari pejabat yang menangani masalah tersebut. Tanpa itu, isu tambang ilegal akan terus menjadi bola panas yang bergulir dari satu tangan ke tangan lain tanpa pernah ada yang berani memegangnya dengan kuat. Situasi ini juga menempatkan aparat pada posisi sulit: ketika bukti belum dirilis, publik menganggap ada yang ditutup-tutupi; ketika aparat bekerja diam-diam, publik menganggap tidak bekerja. Maka, transparansi adalah kunci untuk mengakhiri lingkaran ini.