Wisata Vietnam Jadi Favorit, Tapi Masyarakat Indonesia Tetap Bodoh

Posted on

Pariwisata Vietnam: Tidak Hanya Alam dan Ramah Tamah

Belakangan ini, Vietnam menjadi primadona baru dalam dunia pariwisata. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia! Di FYP TikTok saya, banyak traveler Indonesia yang membagikan pengalaman kunjungan mereka ke Phu Quoc, pulau di ujung selatan negara tersebut yang baru-baru ini melengserkan posisi Pulau Dewata dari tahta “pulau terindah di Asia.” Saya senang melihatnya, kagum, dan terpesona bagaimana Negeri Paman Ho berkembang dengan pesat sejak kunjungan pertama saya pada tahun 2015 lalu.

Namun, rupanya tidak semua orang Indonesia mau terbuka dan mawas diri untuk belajar dari Vietnam. Di sebuah utas dalam aplikasi Threads yang saya baca beberapa hari lalu tentang mengapa Indonesia “kalah” dari Vietnam (bukan cuma Bali vs Phu Quoc, tapi sudah kompetisi negara), ada netizen yang berkomentar dengan nada pongah. Kalau boleh sedikit saya kutip, begini komentarnya: “Dari POV pelancong dan pelaku hospitality, dengan percaya diri saya bilang, mereka belum ada apa-apanya.”

Sebentar, mbak. Seriously?

Sekilas, pernyataannya mungkin terkesan patriotik dan nasionalis, tapi kalau saya pikir-pikir, lebih mirip mekanisme pertahanan diri daripada analisis ahli.

Pariwisata Vietnam: Lebih Dari Sekadar Alam dan Ramah Tamah

Saya paham, untuk beberapa hal, pariwisata (atau kemajuan secara umum) Vietnam memang belum setara Indonesia saat ini. Entah kalau beberapa tahun lagi, ya. Salah satu contohnya mungkin adalah hospitality, orang Vietnam memang nggak seramah dan se-lemahlembut orang Indonesia, apalagi Jawa. Malah, orang-orang Vietnam bagian utara seperti Hanoi dan sekitarnya itu terbiasa ngobrol kayak orang Tionghoa, alias teriak-teriak. Contohnya lagi, bahasa Inggris, di mana kemampuan bahasa Inggris mereka memang payah banget, masih ketambahan medhok Vietnam yang aneh.

Ngomongin alam dan budaya, Indonesia memang juara banget! Dari pantai berpasir putih, lautan bening biru toska, gunung berapi yang selalu mengepulkan asapnya, kawah berwarna-warni, sampai candi Buddha terbesar sedunia, kita punya. Tapi, bukan berarti Vietnam nggak punya daya tarik. Lautan hijau toskanya bisa dinikmati dari atas cable car terpanjang di dunia, gunungnya (yang jadi titik tertinggi di Indocina) bisa “didaki” dengan funicular yang nggak bikin lutut gemetar.

Lagipula, pariwisata ‘kan nggak cuma soal ramah-tamah dan alam yang indah. Ada berapa negara di dunia yang menawarkan pantai pasir putih dan laut hijau zamrud? Banyak! Dan ada berapa banyak wisatawan yang peduli soal mana pantai pasir putih yang indah banget, indah biasa aja, atau cukup indah? Bodo amat, pokoknya yang penting ada pantai pasir putih yang bagus.

Vietnam mengemas keindahan alamnya dengan 2 hal: konsep, dan fasilitas. Coba bandingkan Raja Ampat atau Labuan Bajo dengan Halong Bay, mana yang lebih indah? Mungkin banyak yang sepakat kalau Raja Ampat dan Labuan Bajo lebih indah daripada Halong Bay, tapi mana yang menarik lebih banyak wisatawan? Halong Bay jawabannya. Cuma 2 jam dari Hanoi, ibukota Vietnam, dan wisatawan bisa menikmati keindahannya di dalam tur kapal cruise sehari. Lalu, Fansipan, nggak perlu susah-susah didaki seperti Bromo atau Rinjani, bisa duduk manis di dalam kereta gantung yang menembus samudera awan.

Di mata orang Indonesia, apalagi orang Jawa dan Bali, keramahan orang Vietnam memang bener nggak ada apa-apanya. Tapi itu ‘kan di mata kita, yang sama-sama Asia Tenggara. Di mata orang Eropa dan Amerika yang terbiasa dengan tatapan dingin dan celetukan ketus satu sama lain, orang Vietnam bisa disebut sebagai orang paling ramah sedunia!

“Lho, tapi kita lebih ramah, to?”

Iya kalau mereka juga ke Indonesia. Kalau mereka cuma sampai di Vietnam terus balik ke negaranya, kesimpulan mereka akan berhenti di Vietnam. Nah, dari sini, kita bisa masuk membahas hal-hal yang Vietnam lebih unggul dari Indonesia.

Apa Saja Keunggulan Vietnam dari Indonesia?

Saat kita berpikir, seperti mbak-mbak Threads itu, hospitality kita jauh di atas Vietnam, tidakkah terus bikin kita bertanya-tanya: terus apa yang bikin Vietnam lebih baik? Yang membuatnya jadi primadona baru wisata global dan regional?

Saya nggak akan jawab, “Ada lah pokoknya.” Tapi sebelum ke sini, kita ngomongin data dulu yok.

Di tahun 2024 aja, Vietnam menerima sekitar 17,6 juta kunjungan wisatawan mancanegara. Angkanya melonjak pesat, udah setara dengan masa sebelum pandemi di mana Vietnam dikunjungi 18 juta wisman. Indonesia? Tahun 2024 cuma menerima 13,9 juta kunjungan wisman, padahal wilayah kita jauh lebih luas dari Vietnam. Angka ini juga masih jauh dari masa sebelum pandemi, di mana kita dikunjungi 16,1 juta wisman (2019). Ini artinya, pariwisata Vietnam sekarang sudah benar-benar pulih dari pandemi, sementara kita masih berjuang.

Saya cek di laman Kemenpar RI, untuk kunjungan wisman ke Indonesia selama periode Januari-November 2025 sudah menyentuh angka 13,9 juta. Sayangnya masih kalah juga dari Vietnam, yang menyentuh rekor sepanjang masa di angka 19,1 juta wisman.

Koneksi, Keindahan Alam, Budaya Sosial, Infrastruktur, dan Harga yang Murah

Koneksi adalah kekuatan pertama Vietnam, ini adalah hal yang juga paling nggak bisa kita apa-apain, alias takdir. Negeri Paman Ho ini terletak di antara Thailand dan Tiongkok (Cina). Thailand adalah negara yang paling banyak dikunjungi wisatawan di dunia, dan Tiongkok, warganya yang bermilyar-milyar itu hobi plesir ke negara orang. Kombo maut! Wisatawan bisa ke Vietnam dari Thailand dan Tiongkok via darat dan pesawat. Jadi, mereka yang lagi Southeast Asian trip bisa gampang aja menyisipkan Vietnam ke dalam itinerari.

Indonesia, yang “terpisah” sendiri di ujung selatan, butuh “kesengajaan.” Orang ke Indonesia memang sengaja mau ke Indonesia, bukan sekadar transit atau sekadar mampir mumpung deket. Apalagi, baik Jakarta atau Bali itu sama-sama jauh, harus dicapai dengan naik pesawat terbang.

Kedua, sudah saya singgung di atas juga, keindahan alam Vietnam itu lebih ramah turis dan juga lebih menarik dari segi pengalaman. Bisa naik cable car terpanjang di dunia melintasi birunya lautan Phu Quoc. Bisa menembus samudera awan ke “atapnya Indocina” di Gunung Fansipan dengan naik cable car dan funicular. Bisa menyusuri perairan hijau toska di antara tebing-tebing karst Halong Bay di dalam kapal cruise yang apik dan TikTok-genic.

Alam Indonesia itu adventurous alias bolang banget. Iya, selalu ada pasarnya karena pasti ada traveler yang sukanya adventure ke alam yang minim intervensi modernisasi. Tapi kalau bicara komersialisme, ngomongin cuan dari wisatawan, angka di atas sudah jadi buktinya.

Kekuatan ketiga ini menyangkut budaya sosial. Karena sebagian besar orang Vietnam memeluk agama… eh, nggak beragama apa-apa ding, suasana di sana jadi mirip Thailand yang mayoritas Buddhist. Maksud saya, budaya night club dan bar itu hidup, dan banyak bule yang doyan beginian saat jalan-jalan ‘kan. Pork dan minuman keras bisa dikonsumsi dengan bebas, gaya berpakaian wisatawan juga jadi lebih leluasa.

Saya nggak bermaksud biar Indonesia juga menerapkan hal yang sama. Maksud saya di sini, ketika kita nggak bisa menawarkan satu hal karena berbenturan dengan norma agama dan sosial, maka kita harus bisa jauh lebih unggul di aspek lainnya.

Keempat, infrastruktur Vietnam berkembang pesat, baik oleh pemerintah maupun swasta. Coba cari foto skyline Ho Chi Minh City (kota terbesar Vietnam) yang baru, sudah ada gedung pencakar langit yang mirip Burj Khalifa di Dubai, namanya gedung Landmark 81. HCMC dan Hanoi juga sudah punya metro (semacam MRT) masing-masing, meski jalurnya belum banyak dan belum menghubungkan bandara atau destinasi wisata. Pembangunan di Vietnam nggak terpusat di Hanoi. Tengoklah Da Nang yang disebut Miami-nya Asia, Nha Trang, atau Can Tho. KA jarak jauhnya, yang sekarang kualitasnya memang masih di bawah Kereta Api Indonesia, punya sleeper train yang sesungguhnya dengan harga yang pantas tapi tampilan tetap berkelas.

Cepat atau lambat, Hanoi bisa menyalip Jakarta, karena sekarang aja udah punya 2 jalur metro. Padahal, tanggal mulai beroperasi Hanoi Metro itu jauh setelah MRT Jakarta.

Kelima, Vietnam itu murah banget! 1 Vietnamese Dong (VND) aja nilainya masih di bawah Rp1. Ongkos naik bus kota cuma Rp3 ribuan, makan dengan layak cukup belasan ribu Rupiah. Pokoknya semua kurang-lebih sama kayak di Indonesia, tapi berarti udah terhitung lebih murah dibandingkan tetangga-tetangganya kayak Thailand, Malaysia, dan Singapore.

Sepuluh tahun lalu, di dalam bus menuju pusat kota, saya bertanya pada kawan saya yang orang lokal Ho Chi Minh City, “Apa ini?” sembari menunjuk pembangunan jembatan layang beton yang sedang berjalan. “Oh, electric train (kereta listrik),” jawabnya. Saat itu tahun 2015, HCMC ternyata sedang membangun jalur metro pertamanya, yang hasilnya sudah bisa kita lihat sekarang setelah berkali-kali terhambat karena pendanaan dan masalah lainnya.

Saat itu, pikir saya, “Wah, negara ini ternyata nggak sejadul yang saya kira.” Saya melihat Vietnam adalah sebuah negara yang penuh potensi untuk berkembang pesat, dan benar, 2 tahun terakhir ini Vietnam membuktikannya. Sayangnya, masih banyak orang Indonesia yang melihat Vietnam dari masa lalu, hanya ada perang dan ketinggalan zaman. Sementara itu, Vietnam bergerak dengan target masa depan. Mereka tidak sibuk membuktikan siapa paling indah, tapi fokus membangun infrastruktur yang bikin wisatawan betah.

Nggak ada yang salah mencintai Bali. Nggak ada yang salah bangga pada Indonesia. Tapi kalau setiap perkembangan di negara lain selalu kita jawab dengan bebal, “Ah, kita masih lebih oke kok”, lama-lama kita bakal yang ketinggalan sendiri. Sementara kita sibuk berpikir kita yang paling maju, diam-diam Vietnam melaju.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *