Wawancara Juan Florit Zapata: Tanpa Kompetisi Kuat, Sulit ke Piala Dunia

Posted on

Sepak bola Spanyol kembali menjadi contoh utama dalam dunia sepak bola global. Setelah meraih gelar Euro dan Piala Dunia dalam satu dekade terakhir, tim nasional mereka kini berada di puncak peringkat FIFA. Posisi ini merupakan hasil dari sistem pembinaan pemain yang disebut-sebut paling efisien di Eropa. Di balik prestasi tersebut, terdapat struktur akademi LaLiga yang terorganisasi, metodologi latihan yang jelas, serta budaya kompetisi usia muda yang terjaga sejak dini.

Ketika Indonesia baru saja gagal lolos ke Piala Dunia, pengalaman Spanyol menjadi rujukan penting tentang bagaimana sebuah negara membangun jalur pemain dari akademi hingga tim. Dalam wawancara melalui aplikasi Teams, Rabu, 5 November 2025, Juan Florit Zapata, Direktur Sepak Bola LaLiga, menjelaskan fondasi keberhasilan Spanyol dan apa yang bisa dipelajari Indonesia untuk memperbaiki ekosistem sepak bola, terutama dalam pembinaan usia muda.

Apa yang Membuat Sistem Akademi Spanyol Lebih Efisien?

LaLiga menunjukkan bahwa mereka memimpin di semua peringkat baik di dalam maupun di luar lapangan. Hal ini penting karena dalam ekosistem sepak bola global saat ini, kita harus menganalisis segalanya dari perspektif sepak bola serta aspek ekonomi dan finansial.

Data menunjukkan bahwa LaLiga dan klub-klubnya merupakan yang terdepan di Eropa dalam hal pembinaan pemain muda. Tahun lalu, misalnya, lebih dari 160 pemain akademi bermain di tim utama klub-klub LaLiga. Rata-rata delapan pemain per klub, angka yang sangat baik. Yang juga penting adalah persentase waktu bermain pemain akademi di kompetisi utama seperti LaLiga: hampir 20 persen. Sebagai perbandingan, klub-klub Prancis berada di kisaran 13 persen, sementara Premier League, Bundesliga, dan Serie A di bawah 10 persen.

Dari sisi ekonomi, nilai pasar pemain akademi Spanyol mencapai sekitar 1,5 miliar euro (setara Rp 28 triliun). Angka ini jauh lebih tinggi dibanding Premier League yang sekitar 1 miliar euro. Ini adalah kombinasi dari berbagai faktor: budaya, tradisi, dan nilai yang sudah lama diberikan Spanyol terhadap pengembangan pemain muda. Ini bukan hanya hasil investasi finansial dari klub dan institusi, tapi juga hasil kerja sama jangka panjang LaLiga sejak 2015, untuk membantu klub memahami pentingnya membangun model berbasis akademi.

Titik Balik Spanyol

Pada tahun 2015, LaLiga membentuk Departemen Pengembangan Akademi, yang saya pimpin. Saat itu Spanyol sudah menjadi referensi internasional dalam pengembangan pemain muda, terutama setelah kesuksesan tim nasional di Piala Dunia dan Euro pada 2008, 2010, dan 2012.

Namun kami sadar, jika hanya puas dengan posisi itu, negara lain akan segera menyusul. Karena itu kami memulai proses baru pengembangan akademi dalam beberapa fase. Dua tahun pertama (2015–2017) kami fokus mendekati klub, mendengar tantangan dan kebutuhan mereka, serta mencari cara bagaimana LaLiga bisa membantu. Setelah membangun hubungan yang kuat, kami masuk ke fase berikutnya membangun komitmen kolektif antar-klub untuk berkembang bersama.

Kami meluncurkan Rencana Nasional Akademi LaLiga pada 2022. Fase pertama berlangsung 2022–2025. Program ini berfokus pada lima pilar utama, struktur profesional, infrastruktur dan sumber daya, model latihan dan metodologi, pengembangan serta perlindungan pemain, dan transisi menuju sepak bola profesional. Setiap pilar memiliki KPI tersendiri, dan kami bekerja bersama klub untuk mencapainya.

Bagaimana LaLiga Mengoordinasikan Peran Klub, Federasi, dan Institusi Publik?

Secara resmi, LaLiga tidak memiliki kewenangan langsung dalam sepak bola usia muda. Itu merupakan ranah Federasi Sepak Bola Spanyol. Namun, pada 2015 kami menyadari bahwa belum ada proyek nasional yang benar-benar fokus pada pembinaan usia muda. LaLiga memutuskan untuk memimpin inisiatif tersebut bersama klub. Saat ini, ada rencana nasional yang diluncurkan tahun 2022 dan menjadi satu-satunya proyek besar yang secara khusus berfokus pada pengembangan sepak bola usia dini di Spanyol.

Pandangan LaLiga Terhadap Pemain Seperti Lamine Yamal

Transisi dari akademi ke tim utama memang masa paling krusial dalam karier pemain. Sepak bola profesional menuntut banyak hal, sehingga kesiapan menjadi faktor utama. Kami di LaLiga percaya, jika pemain sudah siap, baik secara fisik maupun mental, tidak ada alasan untuk menahannya. Fokus kami bukan pada melarang atau mempercepat, tapi memastikan sistem di sekitarnya mampu melindungi dan menyiapkan mereka.

Salah satu pilar dalam rencana nasional kami adalah perlindungan terhadap pemain, yang mencakup KPI khusus seperti pembentukan departemen kesehatan mental, program karier ganda untuk pendidikan dan sepak bola, dukungan bagi keluarga, dan bimbingan karier setelah masa bermain. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan stabil bagi pemain muda agar siap menghadapi tekanan dunia profesional.

Kasus seperti Lamine Yamal memang istimewa, tapi bukan masalah. Itu justru kabar baik. Ia menunjukkan bahwa sistem bisa melahirkan pemain berkelas dunia. Yang penting, klub dan institusi bersama-sama memastikan mereka tumbuh dengan sehat dan seimbang, seperti juga pada pemain muda lain di Spanyol.

Perbandingan Daya Saing Pemain Muda LaLiga dan Premier League

Premier League memang telah berinvestasi besar sejak meluncurkan Elite Player Performance Plan pada 2012, dan hasilnya cukup baik. Namun dalam beberapa tahun terakhir, trennya menurun sedikit dibanding 2018–2020.

Kami di LaLiga tetap fokus pada diri kami sendiri. Data menunjukkan LaLiga memimpin di semua aspek, dan sekarang kami mulai mengekspor model sukses ini ke seluruh dunia. Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Selatan melalui kerja sama dengan federasi dan liga lokal. Tentu, setiap negara memiliki konteks unik, jadi model Spanyol harus diadaptasi, bukan disalin begitu saja.

Di Mana Posisi Indonesia dalam Pembangunan Sepak Bola?

Setiap negara membutuhkan empat hingga lima faktor utama untuk membangun ekosistem sepak bola yang kuat. Pertama, soal gairah dan budaya sepak bola. Indonesia sudah memilikinya. Anda harus tahu bahwa tidak semua negara memilikinya. Kedua, infrastruktur. Ini penting, tapi bukan yang terpenting. Anda harus memiliki infrastruktur yang baik untuk memberikan para pemain, pelatih, dan semua orang, alat yang tepat untuk bekerja.

Ketiga, metodologi dan filosofi latihan. Kami memiliki metodologi tertentu dan filosofi saat kita latihan dan bekerja dengan para pemain muda. Saya pikir ini salah satu faktor di mana Indonesia mungkin masih gagal yaitu infrastruktur kompetisi yang solid. Anda perlu memberikan para pemain wadah kompetitif yang tepat di setiap fase, dari U-7, U-8, U-9, U-19, dan U-20. Ini aspek yang masih menjadi tantangan di Indonesia.

Seorang anak di Spanyol bisa bermain resmi sejak usia 7–8 tahun dan memainkan sekitar 500 pertandingan sebelum usia 18–19 tahun. Kami selalu berkata bahwa pertandingan adalah bagian dari latihan. Jika di suatu negara pemain hanya berlatih tanpa kompetisi reguler, perkembangan mereka akan terhambat. Maka, kompetisi tahunan yang konsisten adalah kunci.

Apakah Mungkin Indonesia Lolos ke Piala Dunia Tanpa Sistem Kompetisi yang Kuat?

Sulit, tapi bukan mustahil. Namun membangun struktur kompetitif yang berkelanjutan, dari U-10, U-12 hingga U-19 akan sangat membantu membuka jalan ke sana.

Jika LaLiga berada di posisi Indonesia, apa langkah pertama yang akan dilakukan?

Ada dua prioritas. Pertama, membangun sistem kompetisi usia muda yang berjenjang dan sesuai konteks lokal, dan, kedua, meningkatkan kapasitas pelatih dan profesional lokal. Pelatih, analis, scout, pelatih fisik, dan lainnya. LaLiga dapat membantu di tahap awal dengan berbagi keahlian dan metodologi. Tapi dalam jangka panjang, perubahan harus dilakukan oleh profesional lokal dengan pengetahuan dan alat yang memadai.

Inisiatif LaLiga di Asia

Inisiatif LaLiga di Asia adalah LaLiga Youth Tournament, yang juga digelar di Indonesia. Ada saran agar formatnya diubah dari 7 lawan 7 menjadi 11 lawan 11. Bagaimana pandangan LaLiga?

Turnamen ini sangat penting bagi kami di kawasan Asia Tenggara dan dijalankan oleh kantor LaLiga di Singapura. Kami sangat puas dengan hasil beberapa edisi sebelumnya, dan tentu kami mendengar masukan tersebut. Saran tersebut masuk akal dan akan kami evaluasi bersama tim di Singapura untuk meningkatkan kualitas dan dampak kompetisi ini. Kami ingin semakin banyak pemain muda mendapat kesempatan berkembang melalui format kompetisi yang tepat.

Peluang Pemain Indonesia Bermain di Liga Spanyol

Kami ingin menjadikan turnamen ini lebih besar dan berdampak, dan tentu membuka peluang agar pemain muda dari Asia, termasuk Indonesia, dapat tampil di Spanyol suatu hari nanti. Namun, penting diingat bahwa proses ini memerlukan visi jangka panjang. Membangun pemain tidak bisa dalam 1-2 tahun. Tapi, saya yakin Indonesia memiliki potensi besar menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola Asia.

Pendapat tentang Luis Milla

Luis Milla, pelatih Spanyol pernah bekerja untuk Indonesia, apakah Anda mengenalnya?

Ya, tentu. Saya mengenal Luis Milla dan putranya yang bermain di Getafe. Kami memiliki hubungan baik dengannya di LaLiga, terutama ketika dia pernah melatih tim nasional Indonesia.

Pendapat tentang Sepak Bola Indonesia

Saya cukup sering mendengar tentang Indonesia. Saya menonton pertandingan terakhir Indonesia di putaran empat kualifikasi Piala Dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, saya melihat banyak perubahan, tapi terlalu seringnya pergantian strategi dan pelatih tim nasional bukan hal yang baik. Sepak bola nasional memerlukan stabilitas dan visi jangka panjang.

Setiap pelatih punya filosofi sendiri, tapi yang terpenting adalah kesinambungan proyek. Luis Milla punya karakter sendiri, Patrick Kluivert juga punya gaya yang berbeda. Indonesia memiliki potensi besar seperti populasi pemain muda yang besar dan semangat tinggi. Dengan metodologi, strategi, dan konsistensi yang tepat, saya yakin Indonesia bisa mencapai target besar seperti lolos ke Piala Dunia. Kali ini hampir berhasil, mungkin di kesempatan berikut Anda akan mencapainya.