PasarModern.com – Warren Buffett dikenal sebagai salah satu orang terkaya di dunia dengan kekayaan bersih lebih dari 147 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2.466 triliun. Namun, gaya hidupnya jauh dari kesan mewah.
Buffett masih tinggal di rumah yang sama di Omaha yang dibelinya pada 1958 seharga 31.500 dollar AS atau sekitar Rp 528,6 juta. Ia mengemudikan mobil sendiri, menghindari merek mewah, dan kerap sarapan di McDonald’s.
Kebiasaan ini mencerminkan pandangan Warren Buffett bahwa membangun kekayaan bukan semata soal meningkatkan pendapatan, melainkan menghindari jebakan finansial yang membuat kelas menengah sulit mengumpulkan modal.
Filosofi Warren Buffett soal uang menyoroti pola belanja yang dianggap boros dan kontraproduktif terhadap pembentukan kekayaan.
Dikutip dari New Trader U, Senin (22/12/2025), berikut lima hal yang menurut Warren Buffett sering menjadi pemborosan uang kelas menengah.
1. Mobil Baru dan Aset yang Terdepresiasi
Warren Buffett pernah mengatakan bahwa ia hanya mengemudi sekitar 3.500 mil per tahun sehingga sangat jarang membeli mobil baru. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, putrinya harus membujuknya untuk mengganti mobil yang sudah dianggap usang.
Sementara itu, kelas menengah secara kolektif menghabiskan miliaran dollar AS untuk membeli mobil baru. Rata-rata mobil baru langsung kehilangan sekitar 20 persen nilainya saat keluar dari dealer dan terdepresiasi hingga 60 persen dalam lima tahun pertama.
Mobil seharga 40.000 dollar AS atau sekitar Rp 671,24 juta dapat turun nilainya menjadi sekitar 16.000 dollar AS atau Rp 268,5 juta. Penurunan nilai ini terjadi saat pemiliknya masih harus membayar cicilan beserta bunga.
Buffett sendiri mengendarai Cadillac DTS keluaran 2006 selama bertahun-tahun dan baru menggantinya dengan model 2014 setelah didesak putrinya.
Pendekatan ini mencerminkan prinsip dasar pembentukan kekayaan, yakni menghindari pembelian aset yang nilainya terus menurun dengan harga ritel.
Menurut Buffett, mobil berusia tiga tahun tetap memberikan fungsi transportasi yang sama dengan harga sekitar setengahnya. Selisih dana tersebut dapat dialihkan untuk investasi pada aset yang nilainya meningkat.
Kelas menengah kerap membenarkan pembelian mobil baru dengan alasan garansi dan keandalan. Namun, secara matematis, kerugian akibat depresiasi jauh lebih besar dibanding potensi biaya perbaikan.
2. Bunga Kartu Kredit dan Utang Konsumtif
Rekan lama Warren Buffett, Charlie Munger, pernah menyebut utang berbunga tinggi sebagai jebakan yang sulit dihindari. Menurutnya, sekali terjerat utang, akan sangat sulit untuk keluar, terutama jika membiarkan utang kartu kredit terus bergulir dengan bunga tinggi.
Warren Buffett sependapat. Ia menilai banyak orang gagal secara finansial bukan hanya karena kebiasaan buruk, tetapi juga karena penggunaan utang.
Menurut Buffett, membawa saldo kartu kredit dengan bunga sekitar 18 persen atau bahkan lebih tinggi merupakan cara yang hampir pasti untuk menghancurkan kekayaan.
Rumah tangga kelas menengah rata-rata memiliki saldo kartu kredit sebesar 6.501 dollar AS atau sekitar Rp 109,09 juta dengan bunga sekitar 20 persen per tahun.
Kondisi ini membuat sekitar 1.300 dollar AS atau Rp 21,8 juta per tahun habis untuk membayar bunga, tanpa menghasilkan nilai tambah apa pun.
Buffett menegaskan bahwa membayar bunga 18–20 persen sambil berharap imbal hasil investasi 8–10 persen adalah pola pikir yang terbalik.
Secara matematis, keluarga yang membayar bunga kartu kredit 1.300 dollar AS per tahun selama 30 tahun berpotensi kehilangan akumulasi kekayaan sekitar 152.000 dollar AS atau Rp 2,55 miliar, dengan asumsi imbal hasil investasi konservatif sebesar 7 persen.
Menurut Buffett, utang seharusnya hanya digunakan untuk membiayai aset yang nilainya meningkat atau menghasilkan pendapatan, bukan untuk konsumsi.
3. Merek dan Simbol Status
Warren Buffett pernah menyatakan bahwa harga adalah apa yang dibayar, sedangkan nilai adalah apa yang diperoleh. Namun, kelas menengah kerap mencampuradukkan kedua konsep tersebut.
Pakaian desainer, tas mewah, hingga perangkat elektronik premium sering kali dijual dengan harga 200 hingga 500 persen lebih mahal dibanding alternatif yang memiliki fungsi serupa.
Tas seharga 1.500 dollar AS atau sekitar Rp 25,17 juta, misalnya, tidak memberikan kegunaan tambahan dibanding tas seharga 150 dollar AS atau sekitar Rp 2,5 juta.
Warren Buffett sendiri mengenakan setelan dari peritel China dan menyebut dirinya akan sama bahagianya mengenakan pakaian murah. Status miliardernya dibangun dengan mengalihkan uang dari konsumsi ke investasi produktif.
Ia juga menyinggung aspek psikologis di balik konsumsi bermerek. Menurut Buffett, seseorang tidak akan benar-benar sukses jika terlalu memikirkan penilaian orang lain.
4. Produk Keuangan yang Tidak Dipahami
Warren Buffett memiliki prinsip terkenal, yakni tidak berinvestasi pada bisnis yang tidak dipahami. Namun, prinsip ini sering dilanggar oleh kelas menengah saat membeli produk keuangan yang kompleks.
Produk seperti asuransi whole life, anuitas dengan biaya tersembunyi, serta reksadana yang dikelola secara aktif dengan rasio biaya di atas 1,5 persen dapat menggerus kekayaan secara perlahan.
Investor kelas menengah yang membayar biaya tahunan 1,5 persen untuk portofolio senilai 100.000 dollar AS atau sekitar Rp 1,68 miliar selama 30 tahun berpotensi kehilangan sekitar 200.000 dollar AS atau Rp 3,36 miliar kepada perantara keuangan.
Warren Buffett secara konsisten merekomendasikan reksadana indeks berbiaya rendah bagi investor rata-rata. Pandangan ini diperkuat melalui taruhannya pada 2007, ketika reksadana indeks S&P 500 mengungguli portofolio hedge fund dalam periode 10 tahun.
5. Kepuasan Instan Dibanding Imbal Hasil Jangka Panjang
Ajaran Warren Buffett yang paling kuat berkaitan dengan kesabaran. Ia pernah mengibaratkan bahwa seseorang bisa menikmati keteduhan hari ini karena ada orang yang menanam pohon sejak lama.
Kelas menengah kerap menghabiskan uang untuk kepuasan instan, seperti makan di luar, layanan berlangganan, dan hiburan. Secara rata-rata, rumah tangga di Amerika Serikat menghabiskan 3.500 dollar AS atau sekitar Rp 58,7 juta per tahun untuk makan di luar.
Jika dana tersebut dialihkan ke investasi dengan imbal hasil 8 persen per tahun, nilainya dapat berkembang menjadi sekitar 432.000 dollar AS atau Rp 7,25 miliar dalam 30 tahun.
Warren Buffett hidup hemat bahkan ketika kekayaannya terus bertambah. Pilihan gaya hidup sederhana memungkinkan lebih banyak dana dialokasikan untuk investasi jangka panjang.
Filosofi belanja Warren Buffett menunjukkan bahwa kesulitan finansial kelas menengah lebih sering disebabkan oleh pola konsumsi dibandingkan keterbatasan pendapatan.
Menurut Buffett, kesenjangan antara kelas menengah dan kelompok kaya tidak hanya ditentukan oleh besarnya penghasilan, tetapi oleh perubahan mendasar dalam prioritas pengeluaran.
