Wastra, atau kain tradisional Indonesia, tidak lagi hanya menjadi selembar kain yang digunakan dalam upacara adat. Berkat kontribusi para desainer, merek, hingga penggemar mode di Tanah Air, wastra kini mampu menembus hati dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Masa-masa ragu untuk mengenakan kain tradisional kini telah berlalu. Para perancang mode semakin percaya diri dalam menciptakan kreasi dari wastra, mulai dari batik hingga tenun. Karya-karya ini menjadi seni tekstil yang menarik perhatian berbagai kalangan, termasuk generasi muda.
Ragam peragaan busana, seperti Plaza Indonesia Fashion Week, menjadi panggung bagi desainer dan brand untuk menampilkan karya mereka. Di sini, para penonton diajak untuk semakin jatuh cinta pada wastra.
Plaza Indonesia Fashion Week digelar pada 28 September hingga 5 Oktober 2025 lalu. Puluhan merek dengan identitas mode dan siluet unik sukses memukau para penonton di area Warehouse. Salah satu yang tak bisa dilewatkan adalah deretan fashion show yang menyajikan kain-kain tradisional di atas runway.
Setiap koleksi memiliki nuansa yang berbeda. Sentuhan tangan para desainer dan kreativitas yang tinggi menciptakan pentas seni wastra yang indah. Ini membuktikan bahwa wastra bisa dijahit menjadi apa saja, dipadukan dengan apa pun, dan dikenakan di situasi apa pun.
Berikut beberapa merek yang memperlihatkan warna-warni wastra Nusantara di panggung Plaza Indonesia Fashion Week:
1. BINhouse
“Saya ingin membuat sesuatu yang fun. Ini adalah hidup, saya ingin sesuatu yang hidup,” ujar Obin, desainer senior di balik jenama BINhouse, ketika diwawancarai selepas show di hari ketiga, Selasa (30/9).
Tante Obin, demikian ia biasa disapa, menjelaskan bahwa ia tidak ingin melakukan peragaan busana yang serius. Setelah membaca daftar nama model yang akan melenggang di runway, kemudian menatap kain batik dan deretan busana yang dirancang, Tante Obin sampai pada kesimpulan bahwa semuanya harus bergoyang. Maka, lahirlah judul untuk fashion show tersebut: Lenggak Lenggok.
Koleksi Lenggak Lenggok BINhouse menghadirkan puluhan busana yang menyulap kain batik dan lurik menjadi pasangan mesra berbagai atasan. Dari busana khas Indonesia, seperti kebaya dan beskap, hingga pakaian lainnya seperti blus dan tunik. Pemilihan warna wastra dan atasannya beragam, dari merah cerah dan kuning terang sampai warna netral seperti hitam, cokelat, krem, dan putih.
Uniknya, para model tidak melakukan catwalk yang anggun. Mereka justru berjoget riang mengikuti alunan musik, salah satunya lagu Garam & Madu oleh Tenxi dan Naykilla, mengajak para penonton untuk tidak malu bergoyang bersama. Istilah jaga image atau jaim tak lagi menjadi slogan; inilah waktunya berlenggak-lenggok.
2. KRATON by Auguste Soesastro
Terinspirasi dari magis Pulau Dewata, desainer di balik KRATON, Auguste Soesastro, menunjukkan bahwa sarung tenun tangan Bali bisa dikenakan di berbagai situasi.
Dari busana smart casual di siang hari, evening wear, sampai busana formal, koleksi bertajuk “Archipelago Cruise” merupakan perpaduan antara kain tradisional Bali dan gaya fesyen Barat berkelas high-end. Dalam keterangan resminya, KRATON menjelaskan bahwa koleksi ini adalah refleksi dari dua realita gaya hidup Bali yang sangat berkontras. Sangat berbeda, tapi eksis di bawah satu payung.
Material yang digunakan secara spesifik dipilih untuk cuaca tropis, seperti silk dan linen yang ringan, tanpa menghilangkan nuansa elegan. Warna netral seperti putih, abu, dan krem pun membersamai koleksi ini.
3. IKAT Indonesia by Didiet Maulana
Lewat koleksi bertajuk “The Isle of Reverie”, desainer Didiet Maulana menghadirkan ragam motif tenun yang disulap ke dalam berbagai siluet baju. IKAT Indonesia memamerkan 30 tampilan yang terdiri dari 22 busana perempuan dan delapan busana laki-laki dengan perpaduan gaya tradisional dan modern, mulai dari beskap tenun, dress berlapis, blazer, hingga beragam siluet rok.
Keindahan alam Indonesia diangkat dalam koleksi ini lewat pemilihan warna-warna bumi yang hangat, seperti terracotta, maroon, serta cokelat. Didiet juga memberdayakan para perajin lokal dengan menghadirkan aksesori karya mereka di atas runway.
“Koleksi hari ini sebenarnya adalah campur sari dalam arti kita terinspirasi dari berbagai budaya di Indonesia. Karena Indonesia penuh dengan keberagaman, this is the time for us untuk saling bersatu, menyatu,” ucap Didiet saat diwawancarai.
4. Julianto for Iwan Tirta Private Collection
Pencinta batik tentunya sudah tidak asing dengan jenama legendaris Iwan Tirta Private Collection. Untuk koleksi di PIFW ini, Iwan Tirta bergandengan tangan dengan desainer Julianto dalam merancang koleksi bertajuk “Jagad Rasa”.
Sembari mempertahankan kekhasan motif batik Iwan Tirta yang besar dan prominen, Julianto menghadirkan siluet busana formal dan evening wear yang sarat dengan nuansa kontemporer; ciri khas Julianto. Dari blus berdetail intricate, kemeja pria dengan twist di berbagai sisi, sampai gaun mewah yang mempesona, seluruh artikel pakaian dalam koleksi ini dirancang di atas kain batik.
“Pattern di balik koleksi ini adalah Batik Slogan, motif klasik Iwan Tirta. Ada motif burung, daun, dan bunga-bunga. Batik ini punya banyak arti seperti cinta; sementara makna menyeluruhnya, bisa punya rasa yang sangat dekat dengan sesama,” papar Julianto ketika diwawancarai.
5. Parang Kencana
Koleksi “Shiki” oleh Parang Kencana merupakan perwujudan dari asimilasi budaya Indonesia dan Jepang. Peragaan busana ini mengisahkan perpindahan empat musim: semi (Haru), panas (Natsu), gugur (Aki), dan dingin (Fuyu).
Parang Kencana menghadirkan motif-motif khas kimono Jepang yang dilukis dengan metode pembatikan. Motif floral seperti krisan, carnation, camellia, hingga cherry blossoms menjadi cerminan dari keanggunan, keseimbangan, dan keterhubungan setiap musim.
Setiap musim direpresentasikan dengan pemilihan warna dan siluet berbeda. Misalnya, musim semi menampilkan blus berpotongan leher kebaya berwarna lembut. Lalu, di musim gugur, warnanya mulai meredup dengan bahan yang lebih tebal, dan pada musim dingin, warna gelap seperti biru tua dan bahan corduroy mendominasi.
6. Mel Ahyar Archipelago
Berbeda dengan desainer lainnya yang mengangkat batik dan tenun, Mel Ahyar Archipelago memilih kain Sasirangan dari Kalimantan Selatan sebagai muse-nya. Creative Director brand, Mel Ahyar, mengajak para penikmat fashion untuk berkelana ke Kabupaten Tanah Laut, Kalsel, lewat koleksi bertajuk sama: Tanah Laut.
Koleksi yang terdiri dari 27 tampilan menswear ini meliputi artikel pakaian dengan tailoring yang bersih dan lugas. Mel terinspirasi dari busana pahlawan dan bangsawan Kesultanan Banjar, seperti Pangeran Antasari dan Pangeran Suriansyah.
Untuk melengkapi setiap tampilan, Mel Ahyar berkolaborasi dengan perajin di Kab. Tanah Laut dalam menghadirkan tas anyaman unik yang terbuat dari tanaman dasar purun danau (Lepironia articulata).
7. Wilsen Willim
Pekan fashion di Plaza Indonesia ini ditutup oleh presentasi mode oleh Wilsen Willim, desainer muda yang tengah naik daun. Seperti biasa, Wilsen memadukan unsur elegan yang kontemporer dengan kain batik yang ekspresif. Perpaduan antara palet monokrom hitam-putih dengan sentuhan warna berani seperti merah mampu memanjakan mata.
Koleksinya cukup didominasi oleh blus berkerah tinggi cheongsam yang dimodifikasi, meskipun ia turut menghadirkan gaun dengan detail kerah yang serupa. Setiap busana lansiran Wilsen memiliki ciri khas: Garis pundak yang tajam dan tegas serta permainan motif yang memikat mata.
