Ringkasan Berita:
- Jembatan Gantung Muara Wahau di Kutai Timur tampak bengkok setelah sebuah batang pohon besar tersangkut akibat banjir deras di kawasan tersebut
- Warga menyaksikan kerusakan itu dari atas jembatan
- Muara Wahau, wilayah yang kerap dilanda banjir saat hujan tinggi di area hulu, sehingga kerusakan jembatan berpotensi mengganggu mobilitas sehari-hari.
PasarModern.com– Sebuah video viral di media sosial menunjukkan Jembatan Gantung Muara Wahau, Kutai Timur, Kalimantan Timur mengalami bengkok di bagian tengah.
Tampak batang pohon menyangkut di Jembatan Gantung Muara Wahau, Kutim, saat terjadi banjir.
Adapun video itu diunggah oleh akun media sosial Instagram @Sangattaku.
Jembatan Gantung ini adalah salah satu akses penting yang menghubungkan aktivitas warga di Muara Wahau.
Jembatan menjadi jalur utama bagi pejalan kaki dan pengendara motor ringan.
Muara Wahau sendiri merupakan salah satu kecamatan di Kutai Timur, yang sering menjadi langganan banjir, terutama saat curah hujan tinggi di wilayah hulu.
Jembatan gantung sering menjadi pilihan di daerah pedalaman dengan medan sungai yang lebar.
Dalam rekaman video yang menunjukkan Jembatan Gantung Muara Wahau berdurasi sekitar 39 detik itu, terlihat beberapa warga berdiri di atas jembatan.
Sebuah batang pohon besar — tampak seperti bagian dari pohon yang cukup tua terlihat menyangkut di bagian bawah jembatan.
Jembatan gantung yang seharusnya lurus mulai melengkung tajam ke samping (membengkok), menyerupai bentuk huruf ‘S’.
Bagian papan lantai jembatan terangkat dan bergelombang, memperlihatkan tekanan yang hebat pada struktur kabel penahan dan tiang utama.
Tonton videonya dengan KLIK LINK DI SINI
Banjir di Kutai Timur Meluas ke 4 Kecamatan, Warga Mulai Mengungsi
Curah hujan tinggi yang terjadi sejak November 2025 kembali memicu banjir di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Dalam dua hari terakhir, empat kecamatan terdampak, yakni Karangan, Muara Wahau, Telen, dan Kongbeng. dengan kondisi air yang sempat mencapai 30–80 sentimeter.
Kepala BPBD Kutim, Sulastin, menjelaskan bahwa Kecamatan Karangan menjadi wilayah pertama yang dilaporkan banjir, khususnya di sekitar Sungai Karangan.
Tiga desa di Karangan terdampak di antaranya Karangan Dalam, Karangan Ilir, dan Karangan Seberang.
“Tetapi sejak tadi pagi laporannya sudah mulai surut, terbaru informasinya sudah kering. Memang terjadinya di bantaran sungai, jadi mudah banjir tapi cepat juga surut,” ujar Sulastin, Senin (8/12/2025).
Tak hanya Karangan, banjir juga melanda Kecamatan Muara Wahau akibat hujan lebat pada malam sebelumnya.
Laporan warga menunjukkan ketinggian air di wilayah tersebut mencapai 30 hingga 80 sentimeter.
Beberapa desa yang berada dekat aliran Sungai Wahau turut terdampak, di antaranya Desa Jak Luay, Bea Nehas (Benhes), dan Desa Dabeq.
“Dalam pemantauan kami ini masih bertahan untuk surut, ini Kecamatan Telen juga banjir di Desa Marah Haloq yang dekat dengan bantaran sungai,” lanjut Sulastin.
BPBD Kutim telah menurunkan Tim Reaksi Cepat (TRC) ke lokasi-lokasi terdampak untuk melakukan pemantauan, membantu warga, serta mengoordinasikan kebutuhan darurat. Selain TRC, setiap kecamatan juga telah dibekali perlengkapan siaga banjir.
“Setiap kecamatan juga sudah ada baju pelampung, perahu karet dan tim relawan kita yang kita sediakan untuk koordinasi melalui WhatsApp,” tuturnya.
Polres Kutim Bentuk Satgas dan Posko Terpadu
Derasnya curah hujan membuat banjir meluas hingga ke Kecamatan Kongbeng.
Situasi ini mendorong Polres Kutim bergerak cepat dengan membentuk Satuan Tugas (Satgas) dan Posko Terpadu sebagai pusat kendali penanganan banjir.
Kapolres Kutim, AKBP Fauzan Arianto, menegaskan bahwa langkah ini penting untuk memperkuat respons darurat, mempercepat distribusi personel, serta memastikan bantuan logistik benar-benar sampai kepada warga terdampak.
“Kami berkomitmen hadir di tengah masyarakat untuk membantu mengurangi dampak banjir, seluruh personel siap siaga untuk memberikan pelayanan maksimal,” tegas Fauzan.
Satgas yang dibentuk memiliki fungsi spesifik, mulai dari pendataan warga terdampak, evakuasi di wilayah berisiko tinggi, distribusi logistik mendesak, hingga pemantauan debit air.
Aparat juga meningkatkan patroli intensif, terutama pada jam rawan, untuk menjaga keamanan sekaligus membantu warga yang membutuhkan evakuasi.
Mobilitas aparat yang melakukan patroli kini semakin ditingkatkan, terutama pada jam-jam rawan, mereka terus memantau perkembangan debit air dan memastikan tidak ada potensi gangguan kamtibmas yang muncul selama masa darurat berlangsung.
“Kami juga koordinasi dengan pemerintah desa juga dilakukan secara berkelanjutan, dengan pengoperasian Satgas dan Posko Terpadu ini, kepolisian berharap seluruh prosedur penanganan dapat berjalan lebih efektif dan cepat,” ujar Fauzan.
Evakuasi Warga dan Imbauan Kewaspadaan
Seiring naiknya air sungai, warga di empat kecamatan terdampak mulai mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Evakuasi dilakukan bertahap dengan prioritas pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil.
BPBD Kutim mengimbau masyarakat di bantaran sungai untuk tetap waspada, mengingat BMKG memprediksi cuaca ekstrem akan berlangsung hingga Juni 2026.
Dengan potensi cuaca ekstrem yang masih berlangsung hingga pertengahan 2026, BPBD Kutim mengimbau masyarakat di dekat bantaran sungai untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan.
Sangatta Diprediksi Aman dari Banjir Besar
BPBD Kutim memastikan Kecamatan Sangatta, masih berada dalam kondisi aman dari ancaman banjir besar.
Meskipun, sejumlah wilayah lain di Kutai Timur tengah menghadapi cuaca ekstrem yang diprediksi berlangsung hingga Juni 2026.
Fokus kewaspadaan kini lebih diarahkan pada wilayah hulu yang berpotensi cepat terdampak luapan air sungai.
BPBD Kutim terus memantau peningkatan debit air di sejumlah titik sungai, terutama yang berada di wilayah pedalaman.
Kecamatan Muara Wahau, Kongbeng, dan Telen menjadi prioritas pemantauan karena aliran air dari hulu akan bermuara ke Kecamatan Muara Bengkal dan Muara Ancalong.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kutim, Muhammad Naim, menegaskan bahwa kondisi Sangatta masih relatif aman dan belum menunjukkan tanda-tanda banjir besar seperti tahun 2022.
“Jadi memang ada beberapa daerah di Sangatta itu terjadi genangan. Tapi itu bukan kategori banjir,” ujarnya, Senin (8/12/2025).
Ia juga menyebutkan bahwa meski debit air di Jembatan Sangatta Utara-Selatan dan Jembatan Pinang mengalami kenaikan, kondisinya masih belum mengkhawatirkan.
Hujan yang tidak terjadi terus-menerus setiap hari turut membantu mencegah akumulasi air berlebihan.
“Lain hal kalau seandainya dalam satu minggu itu hujan terus, ya mungkin akan kejadian seperti tahun 2022, ditambah air laut pasang yang berpengaruh pada kejadian banjir dua tahun lalu,” terangnya.
Sementara itu, informasi BMKG menunjukkan intensitas hujan masih akan tinggi di Sangatta Utara dan Sangatta Selatan.
Namun, Naim memastikan pasang air laut saat ini tidak signifikan sehingga risiko banjir rob relatif kecil.
Dalam rangka mitigasi, BPBD Kutim telah melengkapi sejumlah kecamatan hingga desa dengan peralatan kebencanaan untuk menangani potensi bencana lebih cepat, tanpa harus menunggu bantuan dari kabupaten.
“Antisipasi kami di BPBD, ada beberapa kecamatan sampai ke tingkat desa sudah kita lengkapi dengan peralatan-peralatan sehingga apabila terjadi bencana, kecamatan ini harapannya bisa mandiri lebih awal sambil menunggu kedatangan kami dari BPBD Kabupaten,” paparnya.
BPBD Kutim juga telah mengeluarkan surat imbauan kepada seluruh kecamatan sejak November lalu untuk mengantisipasi cuaca ekstrem.
Warga yang tinggal di bantaran sungai diminta tetap waspada dan mengikuti informasi resmi yang terus diperbarui.
“Informasi dari BMKG-nya, insya Allah selalu kami share melalui videotron, kami update setiap harinya,” tutupnya. (*)
