Usaha Tanaman Hias Ramah Lingkungan dengan Risiko Rendah

Posted on



Tresnawati, seorang perempuan yang sempat mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) selama masa pandemi Covid-19 dari salah satu perusahaan Jepang di Batamindo Industrial Park, Batam, Kepulauan Riau, tidak menyerah. Justru, ia merasa tertantang untuk membangun usaha sendiri. Pada saat itu, mencari pekerjaan baru terasa seperti mencari jarum di tumpukan jerami, karena banyak perusahaan sedang melakukan pengurangan tenaga kerja.

Setelah kehilangan pekerjaannya, Tresna memutuskan untuk membuka usaha pet shop. Ia menjual berbagai jenis hewan peliharaan yang mudah dirawat, seperti ikan hias, anak ayam, kelinci, hamster, dan burung. Selain itu, ia juga menawarkan aksesori, obat-obatan, vitamin, sampo, sabun, hingga parfum untuk hewan peliharaan. Namun, dampak pandemi ternyata membuat usaha tersebut semakin merugi. Akhirnya, ia memutuskan untuk menutup usaha tersebut.

Saat pandemi mulai melandai, Tresna kembali memikirkan untuk membuka usaha baru. Kali ini, ia lebih selektif dalam memilih jenis usaha yang akan ia rintis. Ia ingin usaha yang lebih minim risiko dan tangguh menghadapi tantangan. Maka, ia memutuskan untuk menjual aneka tanaman hias. Awalnya, ia hanya membuka usaha dari rumah dengan coba-coba. Tresna menjual tanaman hias secara online melalui media sosial pribadinya. Tidak disangka, peminatnya cukup banyak.

Selain itu, usaha tanaman hias dinilai memiliki risiko kerugian yang lebih kecil. Jika tanaman tidak terjual, penjual hanya perlu merawatnya dengan telaten hingga tumbuh baik. Pada akhirnya, tanaman tersebut pasti akan terjual dengan harga yang lebih tinggi. Saat usaha tanaman hiasnya berkembang, ada teman yang menawarinya untuk membuka usaha lebih serius. Teman tersebut menawarkan lahan kosong di pinggir jalan untuk ia sewa dari sebuah perusahaan. Kini, Tresnawati membuka usaha tanaman hias bersebrangan dengan teman yang mengajaknya tersebut di Jalan Pasir Putih Taman, Kelurahan Sadai, Kecamatan Bengkong, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau.

Banyak omset yang diperoleh Tresnawati setiap kali Imlek tiba. Ia mengaku, menjelang Imlek, bisa mengantongi omset minimal Rp1 juta per hari. Dalam waktu 30 hari, omset bisa mencapai Rp30 juta. Bunga-bunga hias biasanya dibeli masyarakat Batam sebagai bagian dari tradisi perayaan Imlek. Namun, Tresnawati juga mengakui bahwa ada saat ramai dan sepi. Tanaman hias sering sepi pembeli saat musim hujan tiba, bahkan dalam satu hari bisa saja tidak ada pembeli sama sekali.

Untuk modal awal, Tresnawati menyatakan bahwa semua bisa disesuaikan. Jika usaha dimulai dari kecil, modal bisa lebih kecil. Jika ingin langsung besar, modal yang dibutuhkan tentu lebih besar. Saat membuka “Siloam Garden”, usaha tanaman hias yang ia kelola, ia menggelontorkan modal sebesar Rp50 juta. Ia membeli bunga dan tanaman hias dalam jumlah banyak, termasuk pot bunga, media tanam, dan pupuk, baik pupuk kandang maupun kimia.

Meski terlihat sederhana, usaha tanaman hias yang menawarkan beragam jenis bunga dan tanaman memerlukan modal yang cukup besar. Terlebih, beberapa tanaman harus didatangkan dari provinsi lain. Tresnawati biasanya membeli tanaman hias dari Medan dan Malang, menggunakan kontainer. Untuk menghemat biaya, ia membeli dari para pengusaha tanaman hias lainnya.

Tresnawati mengakui bahwa usaha tidak langsung ramai. Ia butuh waktu sekitar enam bulan hingga usahanya stabil dan dilirik banyak pelanggan. Di tengah proses tersebut, ia bahkan pernah ganti nama usaha karena dinilai kurang hoki. Akhirnya, ia menggunakan nama “Siloam Garden”, yang merupakan nama suaminya. Ia juga meningkatkan pelayanan dengan memberikan pendapat jujur kepada pelanggan tentang kondisi tanaman, serta memberikan tips dan trik cara merawat bunga atau tanaman. Layanan pengantaran ke rumah pelanggan juga tersedia.

Harga bunga dan tanaman hias yang dijual oleh Tresnawati cukup terjangkau, mulai dari Rp15.000 per satu bunga atau tanaman. Meskipun demikian, marjin keuntungan cukup besar, karena tanaman hias tidak langsung laku terjual. Biasanya, tanaman baru laku setelah minimal satu bulan. Keuntungan bisa mencapai 50 persen dari modal yang dikeluarkan. Itu sebabnya, meski usaha sempat sepi selama enam bulan, Tresnawati tetap bertahan hingga kini usahanya sudah berjalan sekitar tiga tahun.

Awalnya, Tresnawati tidak mengerti apa-apa tentang tanaman hias. Namun, ia terus belajar melalui artikel dan video di internet. Dengan trial and error, ia akhirnya paham bagaimana merawat tanaman hias, jenis pupuk yang cocok, dan jenis tanaman yang diminati pelanggan. Salah satu bisnis yang ia jalani adalah go green. Ia awalnya hanya ingin memanfaatkan bunga-bunga hias yang sudah ada dan menanamnya kembali di perkakas rumah tangga bekas. Hasil kompos dari sisa makanan berhasil membuat bunga hias yang ia jual tumbuh subur dan diminati.

Tanaman hias, meski ukurannya kecil, tetap berkontribusi pada lingkungan dengan membersihkan udara dan meningkatkan kualitasnya. Beberapa tanaman hias bahkan dapat menyerap polutan dan racun dari udara dalam ruangan. Usaha tanaman hias juga mendukung penghijauan dan memberi manfaat ekologis yang berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.