Tarif Fleksibel Jadi Kunci, Ini Kisah Opang Bertahan di Tengah Dominasi Ojol

Posted on

Ojek Pangkalan Masih Bertahan di Jakarta Pusat

Di tengah dominasi ojek online (ojol) yang menguasai hampir seluruh layanan perjalanan jarak dekat di Jakarta Pusat, ojek pangkalan (opang) masih bertahan meski jumlahnya terus menurun. Mereka tetap mangkal di lokasi-lokasi klasik seperti Stasiun Gondangdia, Stasiun Juanda, hingga Pasar Senen, mengandalkan pelanggan setia serta tarif fleksibel yang bisa disesuaikan dengan kemampuan penumpang.

Di Stasiun Gondangdia, Teguh (42) tampak berdiri dengan jas hujan setengah badan. Setiap kali melihat calon penumpang kebingungan, ia sigap menghampiri. Sementara pengemudi opang lainnya memilih menunggu di bawah atap kecil dekat dinding stasiun, mengamati satu per satu orang yang keluar area tersebut.

Menurut Teguh, tarif fleksibel adalah “napas terakhir” yang membuat opang masih bertahan. Ia menjelaskan bahwa untuk jarak dekat, tarifnya berkisar antara Rp 10.000–Rp 15.000, sedangkan untuk jarak yang sedikit lebih jauh, tarifnya berkisar antara Rp 20.000–Rp 25.000. Ia menegaskan bahwa ia selalu berdiskusi dengan penumpang sebelum menentukan harga.

Hasan (39), opang asal Tegal yang sudah 10 tahun mangkal di Gondangdia, mengaku model tarif fleksibel membuat dia bisa menyesuaikan kondisi ekonomi penumpang dan dirinya. Kadang penumpang bilang “di online Rp 10.000, Mas”, tapi di sini kan beda. Kami langsung antar, enggak perlu nunggu driver datang.

Jali (46), opang di Stasiun Juanda, mengakui kondisi persaingan membuat opang kerap menurunkan tarif agar tidak kehilangan penumpang. Namun, ia menyatakan bahwa jika tidak fleksibel, susah mendapatkan penumpang.

Bagi penumpang seperti Bambang (45), negosiasi tarif dan kedekatan jarak membuat opang tetap menjadi pilihannya. Meskipun kadang lebih mahal sedikit dari online, ia merasa nyaman karena bisa ngobrol dan minta jalur yang lebih cepat.

Sementara penumpang seperti Nurhayati (59) yang tidak terbiasa menggunakan aplikasi, merasa tarif fleksibel bukan masalah. Yang penting cepat sampai, dan bawa barang banyak juga dibantu.

Fleksibilitas, kedekatan, dan akses cepat menjadi tiga faktor yang membuat opang masih memiliki ruang hidup di tengah gempuran digitalisasi transportasi.

Pendapatan Tergerus Setelah Era Ojol

Meski tarif fleksibel menjadi keunggulan, pendapatan opang tetap jauh menurun sejak era ojol berkembang pesat. Hampir semua pengemudi mengaku pendapatannya merosot drastis. Teguh, yang sudah 12 tahun menjadi opang, merasakan penurunan paling signifikan. Sekarang, pendapatannya tidak tentu. Kalau ada kegiatan kantor atau hujan bisa lumayan Rp 150.000 sampai Rp 200.000. Tapi hari-hari biasa paling Rp 100.000-an, kadang malah kurang. Sudah kalah sama online.

Hasan pun merasakan hal serupa. Sementara Jali menyebut pendapatannya turun hingga 60 persen dibanding sebelum ojol hadir. Ia mengatakan bahwa saat kondisi ramai, pendapatannya bisa mencapai lebih dari Rp 150.000, tetapi ketika sepi hanya sekitar Rp 80.000, dan dulu pendapatan jauh lebih mudah didapat.

Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menyebut situasi ini sudah dapat diprediksi sejak platform transportasi online hadir. Opang itu sebenarnya cikal-bakal ojol. Tapi lama-lama mereka kalah sistem. Online lebih teratur, tarif jelas, dan mudah diakses.

Namun, meski pendapatan menyusut, sebagian besar opang tetap bertahan. Bagi mereka, jarak pangkalan, rutinitas, serta hubungan dengan pelanggan tetap justru lebih menentukan daripada jumlah uang harian yang didapat.

Bertahan Karena Keterbatasan

Banyak opang tidak beralih ke ojol karena keterbatasan perangkat, kemampuan teknologi, hingga faktor pekerjaan yang menuntut mereka tetap dekat pangkalan. Hasan pernah ingin mendaftar ojol, namun ponselnya tidak mendukung aplikasi berat. HP saya jelek, lemot. Kata teman-teman sekarang potongannya gede. Saya enggak kuat kalau harus ngejar target.

Rahmat (48), opang di Stasiun Senen, bahkan tidak memiliki ponsel pintar. Adapun Jali mengaku tidak bisa bekerja jauh dari rumah karena harus merawat orangtua sakit. Kalau ojol kan kita enggak tahu dibawa order ke mana. Saya enggak bisa jauh.

Sementara Santo (33), mantan pengemudi ojol, kembali menjadi opang karena tekanan sistem aplikasi membuatnya stres. Aplikasi muter-muter, macet, kena suspend, bonus makin kecil. Lama-lama capek. Di sini lebih tenang, sehari Rp 120.000–Rp 170.000 cukup.

Faktor usia juga menjadi alasan. Banyak opang adalah laki-laki berusia di atas 40 tahun yang sudah lama mangkal di lokasi tersebut sehingga enggan berpindah ke sistem digital yang lebih rumit.

Berebut Ruang, Tapi Minim Konflik

Di tengah keberadaan dua moda transportasi yang sama-sama berbasis motor, persaingan tak terhindarkan. Konflik kecil antara opang dan ojol soal wilayah jemput-antar masih terjadi, meski frekuensinya menurun. Kami sudah nunggu, ojol lewat langsung nyamber. Padahal kami di sini dari pagi, keluh Teguh.

Jali juga menceritakan hal serupa. Kadang kita ditegur petugas karena dianggap mengganggu. Padahal kita cuma cari posisi aman. Meski begitu, konflik terbuka jarang terjadi. Banyak lokasi sudah memiliki “pembagian area” tak tertulis yang dipahami kedua kubu.

Seperti di Gondangdia, para ojol menunggu di area pinggir jalan yang agak menjauh dari pintu keluar, sementara opang memegang jalur langsung dari stasiun. Menurut Djoko, konflik fisik sudah jauh berkurang karena ojol semakin patuh pada titik jemput resmi, sementara opang mengandalkan jalur langsung dari stasiun.

Sekarang sudah berkurang. Online semakin banyak, tapi mereka cenderung mengikuti titik jemput resmi. Opang tetap ada, tapi ruangnya semakin kecil.

Namun bagi opang, perubahan kecil pada pengaturan petugas lapangan dapat sangat mempengaruhi pendapatan harian.

Pelanggan Setia Menjadi Penolong

Hubungan personal menjadi kekuatan terakhir opang. Mereka memiliki pelanggan tetap yang sudah mengenal karakter dan layanan mereka selama bertahun-tahun—hal yang tidak bisa diberikan oleh aplikasi. Teguh memiliki langganan pegawai kantor yang setiap pagi menuju arah Tugu Tani. Hasan sering mengantarkan ibu-ibu pasar yang sudah hapal motornya.

Sementara Jali punya pelanggan tetap pegawai MA yang selalu buru-buru setiap pagi. Rahmat mengenal banyak porter dan pedagang di Stasiun Senen yang sering memberi tambahan pekerjaan kecil.

Hubungan personal itu juga yang membuat banyak opang merasa tetap dibutuhkan. Walaupun jumlah pelanggan tetap tidak banyak, tetapi merekalah yang membuat pendapatan opang tidak benar-benar nol.

Kadang saya enggak narik seharian, tapi ada langganan telepon minta jemput. Lumayan buat makan, kata Teguh.

Nurhayati, salah satu penumpang setia opang di Pasar Senen, mengatakan bahwa kedekatan itu tak dapat digantikan aplikasi. Kalau bawaan berat dibantu. Kalau pulang malam dianter sampai depan rumah.

Di mata pelanggan seperti Bambang, opang adalah bagian dari rutinitas perjalanan yang tidak tergantikan. Adapun Djoko menilai opang tidak akan hilang sepenuhnya, tetapi jumlahnya akan terus menyusut. Di Jakarta Pusat, opang bertahan karena dua faktor utama, yaitu pelanggan tetap dan keterbatasan teknologi.

Yang tersisa hanya mereka yang sudah sangat lama di lokasi itu dan punya kedekatan dengan pengguna.

Di tengah arus digitalisasi transportasi, opang Jakarta Pusat menjadi simbol kelompok kecil yang berjuang bertahan dengan relasi, pengalaman, dan tarif fleksibel di tengah kota yang kian serba instan.