Tantangan Rumah Sakit dalam Menjawab Tantangan Iklim

Posted on

Akhir November 2025 kemarin, di belahan pulau Sumatera, mulai dari Sumatera Barat, Sumatera Utara hingga Aceh diterjang banjir bandang  dan tanah longsor. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut, hingga Kamis 4 Desember 2025 pukul 16.00 tercatat 836 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut sementara 518 orang dinyatakan hilang dan korban luka mencapai 2.700 orang.

Data lain yang disampaikan oleh BNPB, 536 fasilitas umum rusak, 25 fasilitas kesehatan rusak, 326 fasilitas pendidikan rusak. Kemudian 185 rumah ibadah rusak dan 295 jembatan rusak.

Kejadian tersebut menggambarkan betapa pentingnya kesiapan fasilitas kesehatan menghadapai kondisi bencana yang tak terduga. Terlebih apa yang terjadi seolah menyampaikan bahwa krisis iklim tidak lagi mengetuk pintu, Ia menerjang begitu saja melalui banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumut dan Sumbar.

Rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru ikut digempur oleh air dan lumpur. Seketika ruang pelayanan berubah menjadi area evakuasi darurat, karena kondisi yang tak terduga dan tidak bisa dikendalikan.

“Kami menyelamatkan pasien sambil menjaga rumah sakit agar tidak ikut tenggelam,” ujar seorang tenaga kesehatan yang terlibat dalam penanganan korban banjir.

Menurut dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Dr. Annisa Trisnia Sasmi, S.Si., M.T., banjir dan tanah longsor di Sumatera merupakan contoh nyata bagaimana ancaman (hazard), kerentanan, dan kapasitas penanggulangan saling bertemu. “Bencana banjir skala sebesar ini hampir tidak pernah berdiri sendiri. Penyebabnya karena faktor alam juga campur tangan manusia,” sebutnya pada 5 Desember 2025.

Hal senada juga disampaikan oleh Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si., IPU., Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS UGM, bahwa bencana banjir bandang di akhir November 2025 sejatinya bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Fenomena ini, disebutnya, merupakan bagian dari pola berulang bencana hidrometeorologi yang kian meningkat dalam dua dekade terakhir dimana kombinasi faktor alam dan ulah manusia berperan di baliknya.

Fenomena krisis iklim yang kemudian menjadi salah satu penyebab munculnya cuaca ektrem tidak serta-merta berdiri sendiri. Banyak faktor yang menyebabkan munculnya kondisi tersebut, dan menjadi sebuah ironi yang mungkin menggelitik ternyata sektor kesehatan juga ikut menyumbang masalah tersebut. Bagaimana bisa? Mungkin  untuk bencana di Sumatera tidaklah menjadi faktor penyebab langsung, namun secara global rumah sakit turut memberikan ‘kontribusi’ menjadi pemicu permasalahan krisis iklim di dunia sehingga muncul kondisi cuaca ektrem seperti di Sumatera yang intensitas hujannya mencapai 300 milimeter per hari.

Merujuk data yang disampaikan oleh Health Care Without Harm, 2019, sistem kesehatan menghasilkan sekitar 4,4% emisi gas rumah kaca dunia, cukup besar untuk menjadikannya “negara” penghasil emisi kelima terbesar di dunia jika dikumpulkan sebagai satu entitas . Rumah sakit yang beroperasi 24 jam, penggunaan listrik dan pendingin ruangan yang intensif, serta manajemen limbah medis yang belum sepenuhnya ramah lingkungan memperbesar jejak karbon yang justru memperburuk ancaman iklim bagi kesehatan itu sendiri. Yaa, disinilah ‘andil’ sektor kesehatan terhadap kondisi iklim yang terjadi saat ini dimana cuaca ekstrem mulai sering muncul.

Harapan dari Perjanjian Paris

Pada 12 Desember 2015 Dunia menyepakati Paris Agreement, dimana poin inti dalam perjanjian tersebut untuk membatasi kenaikan suhu global harus dibawah 2oC dengan target utama diangka 1,5oC dan dilakukan salah satunya melalui pengurangan gas emisi. Indonesia menyatakan komitmenya terhadap perjanjian Paris dengan meratifikasi  melalui UU No. 16 Tahun 2016. Target nasional pun terus ditingkatkan penurunan emisi 31,9% tanpa dukungan internasional dan 43,2% dengan dukungan internasional pada 2030. Dimana komitmen ini juga  merambah ke sektor kesehatan.

Selain itu, Indonesia juga telah meluncurkan Rencana Aksi Nasional Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim Sektor Kesehatan 2025–2030 dan pedoman fasilitas kesehatan berketahanan iklim dan lestari lingkungan (Fasbiklin). Upaya ini menandai perubahan paradigma bahwa rumah sakit bukan hanya menerima pasien, tetapi harus menjadi bagian dari solusi krisis iklim, memastikan layanan tetap berjalan meskipun bencana melanda .

Adanya pedoman ini mendorong fasilitas kesehatan, untuk menurunkan emisi dari operasional melalui efisiensi energi, penggunaan energi terbarukan, sistem pendingin rendah emisi, serta pengelolaan limbah yang lebih cerdas serta adaptasi untuk memperkuat ketahanan rumah sakit melalui desain bangunan tahan banjir dan panas, suplai air dan listrik cadangan, serta surveilans penyakit terkait iklim .

Tantangan Rumah Sakit Indonesia dalam Menjawab Krisis Iklim 

Tantangan masih menjulang  tinggi di lapangan meski secara aturan sudah ada payung hukum untuk menerapkan upaya penurunan emisi di fasilitas kesehartan khususnya di rumah sakit. Banyak rumah sakit belum memiliki data jejak karbon sebagai dasar evaluasi upaya mitigasi dan peta kerentanan iklim. Perencanaan dan penganggaran daerah masih menempatkan isu iklim sebagai agenda pelengkap, bukan kebutuhan inti yang menentukan keselamatan publik.

Proses akreditasi memang telah memasukkan aspek lingkungan dan kesiapsiagaan bencana, namun masih banyak yang menilai bahwa aspek tersebut sebatas kotak centang administratif, bukan indikator kinerja yang wajib ditingkatkan tahun demi tahun.

Sementara itu, tenaga kesehatan yang seharusnya menjadi garda terdepan adaptasi sering kali belum menerima pelatihan yang memadai untuk menghadapi lonjakan penyakit dan bencana iklim secara bersamaan. Data tahun 2024, Indonesia memiliki lebih dari 3.200 rumah sakit dimana seluruhnya diharapkan mampu beroperasi dalam situasi krisis apa pun, kapan pun, di mana pun .

Langkah memperkuat ketahanan iklim rumah sakit bukan sekadar perlindungan kesehatan. Kajian pembangunan rendah karbon menunjukkan manfaat yang luar biasa: menurut kajian BAPPENAS

Indonesia berpotensi menghindari 40.000 kematian dini setiap tahun pada 2045, menciptakan 15,3 juta pekerjaan hijau, serta memacu pertumbuhan ekonomi hingga US$5,4 triliun dalam dua dekade mendatang . Artinya, aksi iklim adalah investasi terbaik untuk kesehatan dan kesejahteraan rakyat.

Krisis Iklim Adalah Ujian Cinta Kita Pada Kehidupan

Perubahan iklim akan terus menguji sistem kesehatan bangsa. Pertanyaannya bukan lagi “apakah akan terjadi?” melainkan “apakah kita siap?”. Bencana di Sumatera sudah membuktikan bahwa waktu kita semakin sempit. Rumah sakit harus menjadi benteng terakhir yang tidak boleh runtuh meski banjir menerjang atau badai memutus listrik. Jika fasilitas kesehatan gagal, maka seluruh sendi kehidupan masyarakat ikut roboh.

Keberanian untuk berubah dimulai dari hari ini. Dari kebijakan yang tegas untuk memperbaiki infrastruktur kesehatan. Dari penyediaan energi yang bersih dan aman. Dari para pemimpin daerah yang berani menempatkan ketahanan fasilitas kesehatan sebagai prioritas anggaran. Dari tenaga kesehatan yang siap menjaga masyarakat dalam keadaan paling genting. Dari kesadaran kita semua bahwa bumi adalah rumah bersama, dan rumah sakit adalah jantung pertahanannya.

Perlindungan kehidupan harus dimulai dari tempat yang menyelamatkan kehidupan itu sendiri.

Transformasi rumah sakit menuju fasilitas berketahanan iklim dan lestari lingkungan adalah kunci dan Ini bukan pilihan, melainkan syarat agar layanan kesehatan tetap kuat di tengah dunia yang semakin panas dan rapuh.