Ringkasan Berita:
- Tanggal 26 Desember 2025 memperingati 3 peringatan penting tingkat Nasional maupun Internasional.
- 3 peringatan penting ini memiliki latar belakang yang berbeda.
- Tiga peringatan ini yaitu Peringatan Tsunami Aceh 2004, Hari Relawan PMI, dan Boxing Day.
PasarModern.comTanggal 26 Desember 2025 bukanlah hari biasa.
Pada tanggal ini, terdapat beberapa peringatan penting yang memiliki latar belakang berbeda.
Bagi Indonesia, 26 Desember lekat dengan Peringatan Tsunami Aceh 2004, sebuah tragedi besar yang meninggalkan luka mendalam sekaligus pelajaran berharga tentang kesiapsiagaan bencana dan solidaritas global.
Dari tragedi kemanusiaan itu pula lahir semangat pengabdian tanpa pamrih yang kemudian diperingati sebagai Hari Relawan Palang Merah Indonesia (PMI).
Peringatan ini menjadi bentuk penghormatan bagi ribuan relawan yang rela berada di garis depan, mempertaruhkan keselamatan diri demi menolong sesama, baik dalam situasi bencana, konflik, maupun pelayanan sosial lainnya.
Sementara itu, di tingkat internasional, tanggal 26 Desember dikenal sebagai Boxing Day, sebuah peringatan yang berasal dari tradisi berbagi dan kepedulian sosial di negara-negara Barat.
3 Peringatan Penting pada Tanggal 26 Desember 2025
1. Peringatan Tsunami Aceh 2004
Tanggal 26 Desember menjadi momen refleksi nasional untuk mengenang tragedi tsunami Aceh tahun 2004, salah satu bencana alam paling dahsyat yang pernah terjadi di Indonesia dan dunia.
Peristiwa ini diawali oleh gempa bumi berkekuatan 9,1–9,3 magnitudo yang terjadi di dasar Samudra Hindia, sekitar 250 kilometer dari pantai barat Aceh, dikutip dari https://sejarah.dibi.bnpb.go.id/.
Guncangan besar tersebut memicu pergerakan lempeng bumi yang menghasilkan gelombang tsunami raksasa.
Di laut lepas, gelombang ini melaju dengan kecepatan hingga sekitar 800 kilometer per jam, sebelum akhirnya menghantam wilayah pesisir dengan daya rusak yang luar biasa.
Wilayah Aceh menjadi daerah paling parah terdampak, disusul beberapa kawasan di Sumatera Utara.
Dalam waktu singkat, permukiman, fasilitas umum, dan sarana kehidupan masyarakat hancur.
Lebih dari 170.000 jiwa meninggal dunia di Indonesia, sementara jutaan orang kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan, dikutip dari https://lldikti13.kemdikbud.go.id/.
Dampak bencana ini juga dirasakan oleh sejumlah negara lain di sekitar Samudra Hindia, menjadikannya tragedi berskala internasional.
Besarnya jumlah korban dan luasnya kehancuran membuat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan tsunami Aceh sebagai salah satu bencana kemanusiaan terbesar dalam sejarah.
2. Hari Relawan Palang Merah Indonesia (PMI)
Hari Relawan PMI diperingati setiap 26 Desember sebagai bentuk penghormatan kepada para relawan Palang Merah Indonesia yang telah mendedikasikan tenaga, waktu, dan pengorbanan demi misi kemanusiaan.
Latar belakang utama penetapan hari ini tidak terlepas dari peristiwa tsunami yang melanda Aceh dan Sumatera Utara pada 26 Desember 2004.
Pada saat itu, ribuan relawan PMI dari seluruh penjuru Indonesia terjun langsung ke medan bencana. Mereka melakukan berbagai tugas kemanusiaan, mulai dari evakuasi korban, pelayanan medis darurat, distribusi bantuan, hingga membantu proses pemulihan wilayah terdampak.
Dedikasi luar biasa para relawan di tengah situasi yang penuh risiko dan keterbatasan tersebut menjadi momentum kebangkitan semangat kesukarelawanan di Indonesia.
Peran relawan PMI terbukti sangat vital dalam membantu masyarakat bangkit dari salah satu bencana terbesar dalam sejarah bangsa.
Sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian tersebut, setahun setelah bencana, tepatnya pada 26 Desember 2005, Presiden Republik Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), secara resmi menetapkan tanggal 26 Desember sebagai Hari Relawan PMI.
Penetapan ini merupakan bentuk apresiasi dan penghormatan setinggi-tingginya dari negara atas jasa, keberanian, dan pengorbanan para relawan dalam menjalankan misi kemanusiaan, tidak hanya saat tsunami Aceh, tetapi juga dalam berbagai bencana dan aksi sosial lainnya di seluruh Indonesia.
3. Boxing Day
Boxing Day diperingati setiap 26 Desember, sehari setelah Hari Natal, terutama di negara-negara seperti Inggris Raya, Australia, Selandia Baru, dan Kanada, dikutip dari National Today.
Meski namanya mengandung kata boxing, peringatan ini sama sekali tidak berkaitan dengan olahraga tinju.
Boxing Day justru berakar dari tradisi sosial yang mencerminkan hubungan antara kelas atas dan pekerja pada masa lalu.
Pada masa Inggris abad ke-18 hingga ke-19, perayaan Natal identik dengan kemewahan kaum bangsawan.
Jamuan besar disiapkan di rumah-rumah elite, sementara para pelayan, juru masak, kurir, dan pekerja lainnya harus tetap bekerja demi kelancaran perayaan tersebut.
Setelah Hari Natal berlalu, para majikan kemudian memberikan hari libur khusus kepada para pekerja mereka sebagai bentuk penghargaan.
Pada tanggal 26 Desember, para pelayan dan pedagang menerima kotak hadiah berisi uang logam atau barang kecil sebagai ucapan terima kasih atas jasa mereka sepanjang tahun.
Tradisi inilah yang kemudian melahirkan istilah Boxing Day.
Hadiah tersebut sering kali dibawa pulang untuk dibagikan kepada keluarga masing-masing.
Sebagian sejarawan juga menelusuri asal-usul Boxing Day dari tradisi gereja.
Pada masa itu, kotak amal ditempatkan di gereja selama masa Adven untuk mengumpulkan sumbangan bagi kaum miskin.
Setelah Natal, tepatnya pada 26 Desember, yang juga diperingati sebagai hari Santo Stefanus, tokoh yang dikenal karena kepedulian terhadap kaum papa, sumbangan tersebut dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Memasuki era modern, Boxing Day mengalami pergeseran makna.
Hari ini menjadi identik dengan kegiatan olahraga, seperti pertandingan sepak bola di Inggris dan laga kriket tahunan di Australia.
Selain itu, Boxing Day juga berkembang menjadi momen belanja besar-besaran, dengan berbagai diskon setelah Natal yang bahkan meluas menjadi Boxing Week di sejumlah negara.
(PasarModern.com/Farra)
