Tan Malaka untuk Pemula: Seberapa Jauh Kita Percaya Mitos?

Posted on

Pendahuluan

Buku Madilog karya Tan Malaka mengajak masyarakat Indonesia untuk meninggalkan cara berpikir mistik dan beralih ke logika ilmiah. Dalam bukunya, ia menyatakan bahwa mitos dan rasio bukanlah lawan yang saling bertentangan, melainkan dua bentuk penjelasan yang saling berdampingan. Logika mistik dan logika saintifik dapat saling melengkapi dalam memahami kehidupan.

Pembukaan bab 1 buku Madilog karangan Ibrahim Datuk Sutan Malaka, atau biasa disingkat Tan Malaka, mengambil kutipan dari kitab suci Mesir Kuno: “Demikianlah Firmannya Maha Dewa Rah: Ptah: maka timbullah bumi dan langit. Ptah: maka timbullah bintang dan udara. Ptah: maka timbullah Sungai Nil dan daratan. Ptah: maka timbullah tanah-subur dan gurun.” Namun, Tan Malaka membantah keyakinan tersebut dengan menekankan bahwa semesta terbentuk melalui proses yang bisa dijelaskan dengan sains.

Pokok pikiran dari buku Madilog, singkatan dari Materialisme, Dialektika, Logika, adalah ajakan untuk meninggalkan cara berpikir mistik dan beralih ke cara berpikir ilmiah. Gagasan ini kemudian dibahas kembali oleh beberapa penerus proyek Tan Malaka.

Logika Mistik dan Logika Ilmiah

Menurut Tan Malaka, logika mistik adalah pola pikir yang mengaitkan adanya hubungan sebab-akibat antara fenomena fisik dengan hal-hal rohani. Ia menilai cara pikir seperti itu meninabobokan nalar kritis. Lewat Madilog, Malaka berusaha menyerukan agar masyarakat meninggalkan kepercayaan pada kisah mistik, mitos, dan takhayul, lalu beralih menggunakan logika ilmiah untuk membebaskan diri dari ketertindasan dan kemunduran.

Tan Malaka mengemukakan konsep materialisme metodologis, yang menyatakan bahwa hal yang patut kita percayai hanyalah yang bisa dibuktikan dengan metode ilmiah atau observasi empiris. Ia tidak menyatakan bahwa hal-hal supernatural itu tidak ada, namun ingin menyampaikan bahwa unsur tersebut seharusnya tidak dilibatkan dalam menjelaskan berbagai fenomena fisik.

Dari Mitos ke Logos

Peralihan dari logika mistik ke logika materialistik-saintifik (ilmiah) yang diharapkan oleh Tan Malaka sering disamakan seperti peralihan dari mythos ke logos dalam sejarah filsafat Yunani kuno. Di awal perkembangannya, orang-orang menganggap filsafat—yang lebih menekankan logos (akal budi yang rasional)—hadir untuk menggantikan mitos-mitos tentang dewa-dewi yang dipandang irasional.

Namun, pandangan ini tidak sepenuhnya benar. William Nestle, sejarawan dan filsuf Jerman, menyatakan bahwa filsafat Yunani kuno yang mengedepankan aspek logos tidak bermaksud untuk mengajak orang meninggalkan mitos, melainkan menawarkan cara lain untuk memahami dunia. Logos dan mitos merupakan dua model penjelasan terhadap fenomena-fenomena, baik fenomena jasmani maupun rohani.

Logika yang Saling Melengkapi

Beberapa contoh kecil mungkin membantu kita memahami bahwa logika mistik masih punya peran signifikan di masyarakat. Contohnya, bagi beberapa suku di Papua, hutan memiliki hubungan sangat personal dengan manusia. Bahkan di beberapa tempat, masyarakat menganggap hutan sebagai ibu. Secara logika ilmiah, tentu manusia tidak bisa lahir dari pohon. Namun, dalam logika mistik orang Papua, hutan adalah ibu, sumber kehidupan yang harus dilindungi dan dijaga. Tanpa hutan, tidak ada kehidupan.

Begitu juga pada masyarakat suku Dayak di Kalimantan. Di sana berkembang mitos bahwa permulaan alam semesta dan manusia terkait dengan keberadaan pohon, hutan, laba-laba, burung elang dan tumbuhan atau hewan lain yang ada lebih dahulu. Keyakinan pada logika mistik semacam ini membuat mereka memiliki hubungan personal dengan alam dan mendorong mereka untuk melestarikannya.

Logika Mistik dan Logika Saintifik

Bagaimana dengan masyarakat modern? Apakah logika mistik masih berlaku? Ya, masih. Salah satu contohnya terlihat dalam perdebatan mengenai kesadaran akan diri manusia (consciousness). Mirip Tan Malaka, kaum materialis berpendapat bahwa kesadaran, bila itu ada, hanyalah hasil dari kerja sel-sel otak saja. Namun, bagi para pemikir lain, penjelasan semacam ini tidak menjawab pertanyaan “Mengapa?” Penjelasan saintifik hanya menjawab pertanyaan, “Bagaimana aku sadar bahwa ini adalah aku dan bukan orang lain?”

Oleh karena itu, kesadaran diri tidak dapat direduksi ke dalam proses biologis semata. Kesadaran juga menyangkut pengalaman batin yang tak dapat dijelaskan secara material. Oleh karena itu, salah satu ajakan Malaka dalam Madilog untuk meninggalkan logika mistik perlu dilihat secara kritis.

Kesimpulan

Tulisan ini bukan mengajak orang untuk percaya pada takhayul. Jika orang hanya berhenti pada memercayai mitos, tanpa mengetahui apa maksud dari mitos itu, orang akan jadi irasional. Sikap tersebut tentu saja tidak dibenarkan. Meski demikian, logika mistik juga tak sepenuhnya tidak dapat dipercaya. Sebab di dalamnya masih ada nilai, makna, dan rasionalitas tersendiri.

Logika mistik dan logika saintifik seharusnya tidak saling meniadakan, tapi saling melengkapi dalam memahami dunia yang kompleks ini.