Syifa, Gadis Indonesia Jadi Tentara AS: Gaji Lebih Tinggi dari Jenderal TNI

Posted on

Fakta Menarik Tentang Syifa, Gadis Indonesia yang Jadi Tentara Amerika Serikat

Syifa, seorang perempuan berusia 20 tahun asal Indonesia, kini menjadi sorotan di media sosial karena menjadi bagian dari militer Amerika Serikat. Kejadian ini menarik perhatian publik setelah video yang menampilkan Syifa sedang ditemani orangtuanya menuju lokasi latihan militer viral di berbagai platform media sosial.

Dalam video tersebut, Syifa terlihat mengenakan seragam tentara Amerika Serikat dengan jelas terpampang bendera negara tersebut di pakaian uniformnya. Penampilannya yang masih menjaga kekhasan budaya Indonesia, seperti mengenakan hijab dan kacamata, menambah daya tarik dari video tersebut.

Gaji Fantastis sebagai Tentara Amerika Serikat

Sebagai anggota militer AS, gaji yang diperoleh Syifa tentu sangat besar. Berdasarkan informasi dari nationalguard.com, rata-rata gaji tahunan seorang anggota Garda Nasional di Amerika Serikat mencapai $35.072 (sekitar Rp605 juta). Angka ini setara dengan:

  • $2.922 (Rp49,5 juta) per bulan
  • $674 (Rp11,4 juta) per minggu
  • $16,86 (Rp285 ribu) per jam

Bagi prajurit seperti Syifa, angka ini merupakan pendapatan dasar yang bisa berkembang pesat seiring dengan kenaikan pangkat, tingkat pendidikan, dan masa bakti.

Perbandingan Gaji TNI dan Gaji Syifa

Gaji anggota TNI juga mengalami penyesuaian terakhir kali per 1 Januari 2024. Meskipun demikian, gaji Syifa jauh lebih besar dibandingkan gaji para jenderal TNI. Contohnya, gaji seorang jenderal TNI hanya berkisar antara Rp5,6 juta hingga Rp6,4 juta per bulan, sementara gaji Syifa mencapai sekitar Rp49,5 juta per bulan.

Sekilas Sosok Syifa

Setelah ditelusuri, memang benar bahwa Syifa adalah Warga Negara Indonesia (WNI) yang kini berusia 20 tahun. Ia mengenakan kacamata dan hijab berwarna hitam, serta membawa ransel seperti layaknya seorang tentara. Syifa resmi bergabung sebagai tentara Army National Guard (Garda Nasional) Amerika Serikat.

Penampilan Syifa yang tetap mengenakan hijab di balik seragam loreng bertuliskan “US Army” menuai beragam reaksi penasaran netizen. Safitri, sang ibunda, menjelaskan bahwa Syifa saat ini tengah menjalani proses training sebagai militer AS yang akan selesai pada bulan Januari ini.

Keluarga Pemegang Green Card

Meski berstatus WNI, Syifa bisa mendaftar karena ia dan keluarganya adalah pemegang Green Card (Permanent Resident) yang telah menetap di Maryland, AS, sejak pertengahan 2023. Syifa dan keluarga merupakan diaspora yang telah tinggal di Amerika Serikat sejak pertengahan 2023 lalu.

Safitri beserta suami dan dua anak perempuannya pindah ke Amerika Serikat setelah mendapat visa Green Card, yaitu izin tinggal tetap di AS yang memungkinkan warga negara asing tinggal dan bekerja secara legal di AS dalam jangka panjang.

Resiko Jadi Tentara

Keputusan Syifa untuk bekerja menjadi pembela negara Amerika Serikat tentu tidak mudah. Anggota National Guard (Garda Nasional) di Amerika Serikat dapat menghadapi berbagai risiko fisik, psikologis, sosial, dan kesehatan terutama jika menilik gender-nya.

Secara fisik, tugas militer sering kali menuntut kesiapan jasmani tinggi dan pekerjaan berat. Wanita National Guard cenderung memiliki risiko cedera muskuloskeletal lebih tinggi—misalnya masalah tulang dan otot selama pelatihan atau operasi lapangan—dibandingkan rekan prianya, terutama ketika peran mereka mencakup tugas-tugas yang sangat berat secara fisik.

Selain itu, ada pula risiko kesehatan khusus bagi wanita, termasuk komplikasi urogenital dan reproduksi akibat kondisi lingkungan di lapangan seperti akses sanitasi yang terbatas, ketidakteraturan haid, hingga tantangan selama kehamilan dan pascapersalinan yang menimbulkan risiko kesehatan jangka panjang.

Dari sisi psikologis, perempuan dalam militer sering menghadapi stres tinggi, terutama saat ditugaskan di zona perang atau setelah kembali dari misi (post-deployment), dan sejumlah penelitian menunjukkan bahwa risiko gejala PTSD (gangguan stres pascatrauma) dapat lebih tinggi pada wanita dibandingkan pria dalam situasi serupa.

Selain itu, wanita juga dapat mengalami tantangan sosial seperti bias gender, diskriminasi, dan kesulitan menyeimbangkan tugas militer dengan tanggung jawab keluarga di rumah, yang bisa menambah burnout atau tekanan emosional.

Terakhir, meskipun tidak semua risiko ini unik hanya untuk National Guard, kondisi militer pada umumnya—termasuk pelecehan atau kekerasan seksual yang dilaporkan lebih sering dialami perempuan dalam layanan militer—menjadi faktor risiko tambahan yang harus diakui.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *