Sunderland kini menjadi tim yang tidak terkalahkan di kandang setelah sebelumnya tertinggal 0-2 dari Bournemouth dan akhirnya menang 3-2. Bagaimana Le Bris berhasil mengubah The Black Cats menjadi kekuatan yang tangguh?
Dulu, Stadium of Light hanyalah tempat singgah yang menyenangkan bagi tim-tim tamu Liga Primer untuk memanen poin. Namun, narasi itu kini telah berubah total. Di bawah asuhan Regis Le Bris, markas Sunderland bertransformasi menjadi benteng yang menakutkan, di mana tim-tim lawan datang dengan harapan dan pulang dengan kepala tertunduk. Tidak ada yang menyangka bahwa “Kucing Hitam” akan menjadi kekuatan yang begitu dominan di kandang sendiri musim ini.
Kemenangan dramatis atas Bournemouth menjadi bukti terbaru dari mentalitas baja Sunderland. Di tengah hujan deras dan cuaca dingin yang menggigit, mereka mampu membalikkan ketertinggalan dua gol menjadi kemenangan 3-2. Ini bukan sekadar keberuntungan; ini adalah hasil dari revolusi taktik dan mental yang dipimpin oleh sosok-sosok baru yang tak kenal takut.
Saat ini, Sunderland duduk nyaman di posisi keempat klasemen sementara Liga Primer, sebuah pencapaian yang jauh melampaui target awal mereka untuk sekadar bertahan (40 poin). Dengan 22 poin dari 13 pertandingan, ancaman degradasi perlahan menghilang, digantikan oleh mimpi-mimpi yang lebih tinggi dan kebanggaan yang pulih di Wearside.
Kebangkitan Dramatis dari Defisit Dua Gol
Laga melawan Bournemouth dimulai dengan bencana mutlak bagi Sunderland yang diperparah oleh kondisi cuaca ekstrem. Dalam 15 menit pertama, mereka sudah tertinggal 2-0 akibat gol dari Amine Adli dan tendangan spektakuler Tyler Adams. Kesalahan individu, seperti terpelesetnya Nordi Mukiele di lapangan licin, membuka ruang bagi Antoine Semenyo untuk mengacak-acak pertahanan mantan klubnya tersebut.
Situasi semakin pelik karena Sunderland di masa lalu dikenal rapuh saat tertinggal. Statistik sejarah mencatat bahwa dalam 187 kesempatan sebelumnya di Liga Primer saat tertinggal 2-0, Sunderland tidak pernah sekalipun berhasil membalikkan keadaan menjadi kemenangan. Beban sejarah ini, ditambah permainan staccato yang kaku di awal laga, membuat banyak pihak memprediksi kekalahan telak lainnya.
Namun, Sunderland era Regis Le Bris menolak menyerah pada sejarah kelam tersebut. Semangat juang yang tinggi mulai muncul setelah mereka mendapatkan momentum, mengubah potensi kekalahan memalukan menjadi salah satu comeback paling berkesan. Mereka menunjukkan ketenangan untuk tidak panik meski berada dalam tekanan berat di awal laga.
Kemenangan 3-2 ini menjadi bukti nyata evolusi mentalitas tim. Mereka tidak lagi runtuh saat menghadapi kesulitan, melainkan menggunakannya sebagai bahan bakar untuk bangkit. Hasil ini menjadi kemenangan keempat mereka di kandang musim ini, sekaligus memperpanjang rekor tak terkalahkan di Stadium of Light yang kini menjadi tempat yang sangat tidak nyaman bagi tim tamu.
Atmosfer Stadion dan Peran Suporter
Kunci dari kebangkitan ini tidak lepas dari peran lebih dari 40.000 suporter yang memadati stadion meski cuaca sangat buruk. Hujan deras dan angin kencang memaksa banyak penonton di barisan depan mundur mencari tempat berteduh, namun suara gemuruh mereka tidak pernah surut. Dukungan fanatik ini menjadi senjata tambahan yang sangat mematikan bagi tim tuan rumah saat mereka membutuhkan energi ekstra.
Le Bris mengakui betapa vitalnya peran penonton dalam mengubah dinamika permainan. Ia menyebut bahwa satu gol balasan berhasil “mengangkat semangat penonton,” yang pada gilirannya menekan mental lawan. Koneksi antara pemain dan suporter yang sempat hilang di tahun-tahun degradasi kini telah pulih sepenuhnya, menciptakan lingkungan yang intimidatif bagi lawan.
Atmosfer di Stadium of Light kini sering disamakan dengan kebisingan legendaris di Roker Park, kandang lama Sunderland yang terkenal angker. Di masa-masa sulit, stadion besar ini bisa menjadi tempat yang menekan pemain sendiri, tetapi di masa-masa indah seperti sekarang, ia menjadi benteng yang kokoh. Para pemain baru tampaknya mendapatkan kekuatan dari sejarah dan gairah yang dipancarkan oleh tribun.
Kepemimpinan Granit Xhaka dan Energi Noah Sadiki
Di tengah lapangan, Granit Xhaka tampil sebagai jenderal yang tak tergantikan. Segala kekhawatiran bahwa pemain asal Swiss ini tidak akan cocok di Wearside telah sirna tak berbekas. Ia terlihat sangat nyaman, mengatur tempo permainan dengan ketenangan luar biasa, dan yang paling penting, menjadi pemimpin vokal yang membakar semangat rekan-rekannya saat tim sedang tertinggal.
Momen ikonik terjadi di pertengahan waktu tambahan, di mana Xhaka terlihat memompa semangat penonton di tengah hujan deras. Dalam 15 menit terakhir yang krusial, ia tampil tak terbendung, mendorong timnya untuk terus menekan dan menolak untuk dikurung oleh lawan. Aura kepemimpinannya memberikan kepercayaan diri kepada skuad muda Sunderland bahwa mereka bisa mengalahkan siapa pun.
Di samping Xhaka, Noah Sadiki bermain layaknya mesin yang tak kenal lelah. Pemain internasional RD Kongo ini memiliki energi yang seolah tanpa batas, menjelajahi setiap jengkal lapangan untuk memutus serangan lawan dan memulai transisi. Intensitas permainannya begitu tinggi hingga membuat pemain lawan frustrasi, terbukti dengan kartu merah yang diterima Lewis Cook karena menyikutnya.
Taktik Le Bris dan Dampak Pemain Baru
Le Bris layak mendapat kredit besar atas ketenangannya dalam meramu taktik. Ia berhasil menyatukan skuad yang terdiri dari banyak wajah baru menjadi unit yang kohesif dan berbahaya. Keputusannya untuk menarik Trai Hume demi mengatasi ancaman Semenyo menunjukkan fleksibilitas taktis, sementara pergantian pemainnya terbukti efektif dalam mengubah hasil akhir.
Gol-gol balasan Sunderland datang dari kontribusi para pemain baru ini. Penalti Enzo Le Fee memberikan harapan, gol penyama kedudukan Bertrand Traore menstabilkan permainan, dan sundulan kemenangan dari Brian Brobbey menjadi klimaksnya. Brobbey, khususnya, telah menjadi impact sub yang mematikan dengan catatan dua gol dan satu assist meski belum pernah turun sebagai starter.
Meski timnya kini bertengger di posisi keempat, Le Bris tetap membumi dan menjaga ekspektasi tetap realistis. Ketika ditanya apakah ambisi musim ini berubah, ia dengan tegas menjawab “tidak sama sekali” dan tetap berpegang pada target awal 40 poin untuk selamat dari degradasi. Sikap ini menjaga para pemain tetap fokus dan tidak terbuai oleh euforia sesaat.
Menatap Derby Tyne-Wear dengan Optimisme Baru
Kemenangan ini menjadi modal psikologis yang sangat berharga menjelang laga terbesar musim ini: Derby Tyne-Wear melawan Newcastle United pada 14 Desember. Situasi saat ini berbalik 180 derajat dibandingkan pertemuan terakhir di Piala FA Januari 2024, di mana Newcastle dengan mudah menyapu bersih tim muda Sunderland. Saat itu, masa depan tampak suram bagi The Black Cats di hadapan tetangga kaya raya mereka.
Kini, realitasnya berbeda jauh. Sunderland duduk empat poin dan tujuh peringkat di atas Newcastle di klasemen liga, sebuah inversi nasib yang tidak diprediksi oleh siapa pun di awal musim. Fakta bahwa Sunderland kini menjadi favorit atau setidaknya pesaing seimbang adalah bukti seberapa jauh mereka telah melangkah dalam waktu singkat.
Eddie Howe dan Newcastle United kini harus waspada tingkat tinggi. Perjalanan ke Stadium of Light tidak akan lagi menjadi tamasya yang mudah seperti sebelumnya. Mereka akan menghadapi tim yang belum terkalahkan di kandang, didukung oleh puluhan ribu suporter yang lapar akan kemenangan atas rival abadi mereka.
Sunderland siap menyambut rival mereka bukan sebagai korban, melainkan predator di benteng mereka sendiri. Pertandingan nanti bukan hanya soal tiga poin, tetapi soal pembuktian dominasi di Timur Laut Inggris. Dengan performa kandang yang sedang memuncak, Sunderland memiliki semua alasan untuk percaya diri bisa memenangkan gengsi wilayah tersebut.
Statistik Kandang Sunderland di Liga Primer 2025/26
- Jumlah Pertandingan Kandang: 7
- Kemenangan: 4
- Seri: 3
- Kekalahan: 0
- Poin Didapat dari Posisi Tertinggal: 15 (5 kali tertinggal, 0 kalah)
- Posisi Klasemen Saat Ini: 4
- Poin Total: 22
